Mengambil Untung dari Perang Dagang

Oleh: Nailul Huda, Peneliti INDEF

Sudah lebih dari 3 tahun pasca terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat (AS), kondisi ekonomi dunia begitu labil. Beberapa kali lembaga ekonomi dunia merevisi pertumbuhan ekonomi yang hasilnya melambat, tidak terkecuali di tahun 2019 ini. Pada tahun ini, IMF memprediksi pertumbuhan ekonomi global hanya ada di angka 3,3%, lebih lambat dari 2018 yang mencapai 3,6%. Pasalnya begitu terpilih, Presiden AS langsung membunyikan genderang perang dagang dengan beberapa negara. Uni Eropa, Jepang, dan China merupakan musuh utama Trump dalam melancarkan serangan berupa tarif impor.

Defisit neraca perdagangan Amerika Serikat (AS) yang semakin membengkak dalam 10 terakhir membuat pemerintahan AS gencar ingin melakukan proteksionisme perdagangan. Defisit yang dialami AS merupakan defisit neraca perdagangan terbesar yang dialami sebuah negara di dunia. Pada 2009 defisit neraca perdagangan AS mencapai US$545,2 miliar, defisit ini semakin melebar hingga pada 2017 mencapai US$862,2 miliar. Dari besarnya defisit tersebut, 45% disebabkan karena berdagang dengan China, dimana defisit neraca perdagangan AS dengan China mencapai US$396,16 miliar pada 2017. Defisit ini merupakan yang terbesar sepanjang sejarah AS melakukan perdagangan dengan China.

Dampak dari perang dagang dirasakan oleh beberapa negara juga. Salah satunya adalah Indonesia. Secara umum, dampak dari adanya perang dagang terhadap investasi di Indonesia adalah positif dengan potensi kenaikan investasi sebesar 0,011%. Investasi yang masuk diprediksi sebagian besar merupakan investasi dari China. Fakta tersebut senada dengan data BKPM (2019) yang menyebutkan realisasi investasi asal negeri tirai bambu meningkat sebesar 71,4% pada triwulan I-2019 dibandingkan triwulan I-2018. Meskipun naik memang berkah perang dagang ke Indonesia masih kalah dibandingkan dengan Vietnam dan Taiwan. Lebih banyak investasi di China yang akhirnya melabuhkan kegiatan operasionalnya ke Vietnam dan Taiwan.

Vietnam merupakan negara terdekat dari China yang sangat potensial disinggahi perusahaan yang menghindar dari tarif impor yang dilakukan oleh China dan AS. Perusahaan-perusahaan manufaktur asal China berbondong-bondong memindahkan operasionalnya ke Vietnam seperti perusahaan tekstil, furniture, dan ban mobil. Infrastruktur yang memadai dan upah yang murah merupakan dua alasan utama perusahaa-perusahaan manufaktur asal China memilih Vietnam sebagai tempat pelarian. Selain itu, pajak penghasilan badan di Vietnam lebih rendah dibandingkan dengan negara potensial lainnya seperti Indonesia. Hasilnya adalah peningkatan ekspor Vietnam ke AS yang melonjak dengan sangat cepat.

Indonesia seharusnya bisa memanfaatkan situasi perang dagang dengan lebih maksimal. Pemerintah harus mengeluarkan beberapa kebijakan yang menarik investor. Salah satunya memang yang sedang digodok pemerintah saat ini yaitu super deducative tax dan beberapa insentif fiskal lainnya. Hal ini bisa membuat investor tertarik ke Indonesia meskipun beberapa hal lainnya masih dianggap kurang dari Vietnam.

BERITA TERKAIT

Modus Korupsi Jiwasraya

Oleh : Agung Setia Budi, SIP., M.Sos Peneliti Studi Ekonomi Politik Kasus korupsi PT Asuransi Jiwasraya (Persero) terdeteksi ketika manajamen…

Dukung Penerapan Industri 4.0

Oleh: Sigit Reliantoro Setditjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan, Kementerian LH&K  Industri 4.0 yang diperkenalkan oleh Pemerintah Jerman pada pameran…

Pelindo II

  Oleh: Siswanto Rusdi Direktur The National Maritim Institute (Namarin)   Pelabuhan Indonesia II tengah berada di pusaran kasus mega…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Modus Korupsi Jiwasraya

Oleh : Agung Setia Budi, SIP., M.Sos Peneliti Studi Ekonomi Politik Kasus korupsi PT Asuransi Jiwasraya (Persero) terdeteksi ketika manajamen…

Dukung Penerapan Industri 4.0

Oleh: Sigit Reliantoro Setditjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan, Kementerian LH&K  Industri 4.0 yang diperkenalkan oleh Pemerintah Jerman pada pameran…

Pelindo II

  Oleh: Siswanto Rusdi Direktur The National Maritim Institute (Namarin)   Pelabuhan Indonesia II tengah berada di pusaran kasus mega…