Krakatau Steel (KRAS), Runtuhnya Sebuah Legenda

Oleh: Pril Huseno

Pabrik besi baja Krakatau Steel (KRAS) di Cilegon-Banten, dulu bak legenda bagi rakyat kecil. Keberadaannya sudah lama menjadi kebanggaan bagi siapa saja yang berkesempatan lolos seleksi dan bekerja di pabrik yang dulu menjadi terbesar di propinsi paling barat Pulau Jawa. Sebagai industri vital strategis, mestinya KRAS menjadi industri paling depan dalam ikut membantu pertumbuhan perekonomian.

Produk-produk KRAS sendiri menjadi produk utama dalam industri-industri yang menggunakan bahan baku besi baja di berbagai level industri, apalagi industri pertahanan. Digunakan juga dalam proyek-proyek pembangunan infrastruktur dan transportasi berbagai matra. Saking vitalnya, semestinya industri seperti KRAS berada dalam enclave industri yang dilindungi oleh negara dalam hal kesinambungan dan masa depan produksinya. Sama seperti yang dilakukan oleh berbagai negara dalam memperlakukan industri vital strategis.

Namun yang terjadi, industri besi baja KRAS saat ini malah berada dalam “kondisi berat” seperti yang dilontarkan oleh Menteri BUMN Rini Suwandi beberapa hari lalu. Selama tujuh tahun berturut-turut, laporan keuangan KRAS mencatatkan rugi bersih. Bahkan pada 2018, KRAS mencatatkan rugi bersih senilai 74,82 juta dolar AS atau Rp1,05 triliun (kurs Rp 14.000).

Sementara saldo kerugian selama tujuh tahun telah terakumulasi menjadi 821,4 juta dolar AS atau Rp11,49 triliun. Hal yang menyebabkan terjadinya defesiensi (pengurangan) modal selama bertahun-tahun. Ditambah, KRAS pun saat ini mempunyai utang yang sangat besar yakni 2,49 miliar dolar AS atau Rp34,86 triliun (kurs Rp14.000) pada akhir 2018. Naik 10,45 persen dibanding tahun 2017 sebesar 2,26 miliar dolar AS.

Info yang didapat, saat ini sedang diupayakan restrukturisasi utang yang membengkak karena permasalahan struktur utang di masa lalu.

Hal tersebut, tentu saja menambah berat kondisi industri dalam negeri yang memang sedang mengalami perlambatan dan butuh terapi serius untuk sebuah revitalisasi industri nasional.

Mengapa sebagai industri vital strategis, KRAS terkesan dibiarkan bertahun-tahun berada dalam kondisi memprihatinkan? Jika industri vital dan strategis seperti KRAS saja mengalami kondisi minus, bagaimana mau mengharapkan industri nasional yang tumbuh dan berkembang seperti diharapkan? Apa yang terjadi sebenarnya?

Ironisnya, selama empat tahun ini, Indonesia justru sedang “hebat-hebatnya” membangun infrastruktur di berbagai bidang baik jalan, jembatan dan bangunan vital seperti bandara, pelabuhan laut dan bendungan.

Pada pembangunan infrastruktur itu, seharusnya peran KRAS bisa mengisi kebutuhan produk besi baja yang pasti dibutuhkan dalam jumlah amat besar. Bahkan, jika pemanfaatan produk besi baja KRAS optimal, dipastikan neraca keuangan KRAS bisa diperbaiki dan utang bisa dikurangi.

Tetapi ternyata, infrastruktur yang dibangun mayoritas menggunakan baja impor dari China, bahkan dengan harga yang lebih murah 28 persen (detikfinance,28/3/2018). Produk baja impor yang lebih murah dari produk baja lokal tersebut tentu saja membuat produk baja lokal menjadi sulit bersaing. Apalagi, pembangunan industri besi baja di Morowali Sulawesi Tengah juga menjadi pesaing sempurna bagi produk baja lokal. Belum lagi, rencana pembangunan pabrik baja terbesar se Asia milik China di Kendal, Jawa Tengah senilai 2,54 miliar dolar AS.

Dengan demikian, apa sebaiknya rencana strategis ke depan untuk menyelamatkan segera KRAS? (www.watyutink.com)

BERITA TERKAIT

Ekonomi Syariah Jadi Jalan Keluar

Oleh: Sarwani Hari-hari ini masyarakat merasakan ekonomi berjalan lambat. Bergerak tetapi tidak cukup untuk menciptakan pertumbuhan yang dapat menyerap angkatan…

Pendidikan Karakter Pancasila

Oleh: Donny Gahral Adian, Pengajar Filsafat UI Sekilas, barangkali formulasi judul tulisan ini terasa normatif. Namun, bila kita berangkat dari…

Komitmen Pemerintah Mewujudkan Indonesia Maju

  Oleh : Rahmat Kartolo, Pengamat Sosial Politik   Presiden Jokowi dan KH. Ma’ruf Amin berkomitmen untuk mewujudkan Indonesia maju.…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Masyarakat Papua dan Papua Barat Tak Akan Merayakan Kemerdekaan West Papua New Guinea

Oleh : TW Deora, Pengamat Masalah Papua   Kelompok makar dan separatis seperti West Papua New Guinea dan Organisasi Papua…

Masyarakat Papua dan Papua Barat Tak Akan Merayakan Kemerdekaan West Papua New Guinea

Oleh : TW Deora, Pengamat Masalah Papua   Kelompok makar dan separatis seperti West Papua New Guinea dan Organisasi Papua…

Menelisik Upaya Pembenahan Kinerja BUMN, Pilih Figur atau Kinerja?

Oleh: Pril Huseno Badan Usaha Milik Negara (BUMN) adalah amanat Undang-undang sebagai pengejawantahan UUD 1945 pasal 33 dalam mengelola aset-aset…