RBS : Rupiah Bisa Melemah Rp9.400/USD - Pada Kuartal Dua

NERACA

Jakarta---Gelar investment Grade bagi Indonesia belum memberikan dampak positif bagi perekonomian nasional. Karena itu, Indonesia harus bekerja lebih bekerja keras lagi untuk mempertahankan gelar tersebut tetap bertahan. Bahkan rupiah diprediksi mencapai Rp9400 pada kuartal ke dua-pada 2012. “Kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) akan mencapai Rp9.400 per USD pada kuartal-II 2012, Rp9.350 per USD pada kuartal-III 2012, dan Rp9.300 per USD di kuartal-IV 2012,” kata Head of Emerging Markets Asia The Royal Bank of Scotland (RBS) FX Trading Stuart Oakley di Jakarta,27/3

Stuart menilai, dampak dari perekonomian global yang tidak menentu ini dilihat dari pelemahan rupiah yang terjadi akhir-akhir ini. "Meskipun tidak ada keraguan terhadap kekuatan struktural perekonomian Indonesia, kekhawatiran akan rupiah merupakan dampak dari tantangan cyclical yang harus dihadapi dan juga kebijakan moneter dari pemerintah," ungkapnya

Menurut Stuart, pada bulan-bulan mendatang, RBS melihat penurunan risiko ekonomi global akan terus menjadi faktor yang menahan laju penguatan rupiah. Selain itu, RBS memperkirakan Bank Indonesia (BI) akan mempertahankan suku bunga acuannya di level 5,75% hingga akhir tahun sehingga tingkat inflasi dapat menyentuh angka 5,3% di kuartal-II 2012, serta 5,4% di kuartal-III dan IV. "Proyeksi ini dapat dicapai hanya jika bank sentral memberlakukan kebijakan moneter yang ketat setelah menurunkan suku bunga 100 bps dalam enam bulan terakhir di mana keputusan tersebut menimbulkan kekhawatiran di kalangan investor domestik dan asing," paparnya.

RBS juga memproyeksikan kenaikan harga minyak bumi akan mempengaruhi tingkat inflasi di Indonesia secara signifikan. Jika harga minyak menyentuh USD150 per barel, diprediksi akan mengakibatkan peningkatan inflasi sebesar empat persen.

Di sisi lain, RBS juga memperkirakan PDB Indonesia akan mencapai 6,4 persen dikuartal-II 2012 dan 6,2 persen dikuartal-III dan IV. Proyeksi ini dibuat dengan mengasusmsikan tidak ada kenaikan harga minyak global lebih lanjut, namun jika terjadi, akan berdampak lebih tinggi terhadap pertumbuhan ekonomi, dan inflasi juga diperkirakan akan tetap tinggi.

Sementara itu, Menurut Research Analyst Treasury Division BNI Apressyanti Senthaury, rencana demo terkait kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) terus bergema hingga mengindikasikan keengganan transaksi para pelaku pasar. "Prediksi naiknya inflasi sebagai dampak dari peningkatan harga BBM pada 1 April mendatang potensi membuka peluang rupiah untuk terkoreksi," katanya

Namun, rencana lelang sukuk bertarget indikatif Rp1 triliun diprediksi mampu menarik minat investor hingga potensi memberi secercah harapan bagi apresiasi rupiah. "Begitu pula dengan level NDF rupiah di pasar valuta asing yang menguat pada sesi pagi nampaknya mampu memberi tenaga bagi rupiah," ujarnya. **bari

Related posts