Punya Potensi Besar, Pemanfaatan Energi Surya Belum Maksimal

NERACA

Jakarta - Ketua Umum Asosiasi Energi Surya Indonesia Andhika Prastawa mengatakan pemanfaatan energi surya sebagai sumber listrik masih belum maksimal di Indonesia meski memiliki potensi besar. "Pemakaian energi surya di Indonesia di sini tercatat hanya 90 Megawatt, sedangkan di Eropa ukurannya sudah ribuan Megawatt, justru yang potensinya sedikit (Eropa) sudah menggunakan energi surya begitu besar, tapi yang potensinya besar (Indonesia) masih menggunakan sedikit," kata Andhika dalam diskusi manfaat energi surya menurut pengusaha Indonesia yang bertemakan "Atapku Sudah, Atapmu?, Jakarta, Kamis (20/6).

Dia mengatakan potensi energi surya di Indonesia rata-rata sebesar 1.350 kilowatt per jam per kilowatt peak per tahun, sedangkan potensinya di daratan Eropa hanya sekitar 900 kilowatt per jam per Kilowatt peak per tahun. "Jadi, potensi di Indonesia jauh lebih besar dari di Eropa, tetapi sayangnya pemanfaatan di Indonesia jauh tertinggal bahkan oleh negara-negara tetangga," ujarnya.

Andhika yang juga Ketua Umum Gerakan Nasional Sejuta Surya Atap menuturkan penyediaan listrik memerlukan eksplorasi energi lain tidak bisa selamanya bergantung pada energi fosil seperti batu bara yang lambat laun akan habis pada masanya, sehingga perlu alternatif energi lain, yang salah satunya adalah tenaga surya.

Selain itu, penggunaan energi fosil untuk menghasilkan batu bara terus-menerus akan menyebabkan memperbesar masalah lingkungan, yakni semakin banyaknya polusi dan emisi gas rumah kaca yang berujung pada pemanasan global. Untuk itu, energi surya bisa membantu mengurangi emisi gas rumah kaca karena energi surya bersifat terbarukan dan tidak menyebabkan munculnya emisi karbondioksida. "Energi surya yang paling sederhana pemanfaatannya, yang selalu terdapat di sekitar kita. Oleh karenanya kita berharap pemanfaatan energi surya ini secara luas," ujarnya.

Dia mengatakan lahan tidak menjadi masalah krusial lagi bagi pemasangan panel surya untuk memanfaatkan energi surya menjadi sumber listrik, karena dapat menggunakan atap gedung baik perumahan, pabrik, perusahaan maupun gedung komersial. "Saya berharap makin banyak pelaku usaha yang nyata berkomitmen mengadopsi PLTS (pembangkit listrik tenaga surya) atap untuk masa depan Indonesia yang lebih baik," tuturnya.

Sekitar 14 pengusaha Indonesia mendukung Gerakan Nasional Sejuta Surya Atap dengan memasang sistem pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) atap yang difasilitasi oleh Xurya, startup lokal penyedia jasa pembangunan PLTS atap. "Kami mendorong sektor komersial agar lebih banyak gunakan energi surya akan memberikan penghematan biaya energinya dalam jangka panjang," katanya.

14 pengusaha tersebut adalah Bike Living, PT Bukit Jaya Semesta, Ciputra World 2 Jakarta, Dermaster, Grand Hyatt, PT Himawan Putra, Indonesia Utama Mineral, PT Mandala Multinvest Capital, PT Mega Manunggal Property TBK, PT Monde Mahkota Biskuit, PT Mulia Bosco Sejahtera, Plaza Indonesia Realty Tbk, Tokopedia dan Wisma 77. Dengan komitmen ini, para pelaku sektor industri dan komersial tersebut mengajak para pelaku dunia usaha lain untuk menggunakan PLTS atap.

Penggunaan sistem PLTS atap di kalangan usaha berpotensi untuk menurunkan emisi gas buang karbondioksida. Menurut Data Inventory Emisi Gas Rumah Kaca Sektor Energi yang dikeluarkan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral pada 2016, emisi karbondioksida yang dihasilkan oleh sektor industri dan komersial sebesar 36 persen. Founder Xurya Eka Himawan mengatakan jika dihitung dan dioperasikan dengan seksama, besar penghematan bagi bisnis dan industri bisa mencapai 30 persen dengan penggunaan PLTS.

Xurya berfokus pada pengadaan, operasional serta pemeliharaan instalasi sistem PLTS atap di Indonesia. Untuk mendorong pemanfaatan potensi energi surya, khususnya oleh pelaku sektor industri dan komersial, Xurya menawarkan Xurya Lease, sebuah skema di mana calon pengguna sistem PLTS atap mendapatkan opsi untuk dibebaskan dari kewajiban pembayaran "upfront cost", dan dapat membayar pada saat sudah mulai produksi listrik dari PLTS atap itu. "Kami mengajak para sektor industri dan komersial lainnya untuk mulai menggunakan PLTS atap," tuturnya.

Salah satu pelaku sektor komersial yang telah memasang PLTS atap adalah Tokopedia di Ciputra World 2 Jakarta. Vice President of Corporate Communications Tokopedia Nuraini Razak mengatakan dengan mendukung Gerakan Nasional Sejuta Surya Atap, pihaknya berharap dapat menjadi langkah maju dalam mendorong perkembangan dan implementasi energi terbarukan di Indonesia sekaligus mendukung upaya pemerintah untuk Gerakan Nasional Sejuta Surya Atap.

BERITA TERKAIT

Realisasi Belanja Negara Hingga Oktober Capai 73,1%

    NERACA   Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan bahwa realisasi belanja negara sejak Januari hingga Oktober…

Cara Menpan RB Rampingkan Birokrasi

    NERACA   Jakarta - Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan RB) Tjahjo Kumolo menyampaikan langkah-langkah perampingan…

Kemendagri Minta Pemda Evaluasi Perda Terkait Dugaan Desa Fiktif

    NERACA   Jakarta - Kementerian Dalam Negeri meminta pemerintah daerah agar mengevaluasi peraturan daerah pembentukan desa terkait belakangan…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Pemerintah Serap Rp23 Triliun dari Lelang SUN

      NERACA   Jakarta - Pemerintah menyerap dana Rp23 triliun dari lelang tujuh seri Surat Utang Negara (SUN)…

MRT Kembangkan Pembayaran Tiket Lewat QR Code

    NERACA   Jakarta - PT Mass Rapid Transit Jakarta mengembangkan sistem pembayaran tiket baru dengan menggunakan QR Code…

Motor Penyumbang Polusi Terbesar di Jakarta

    NERACA   Jakarta - Direktur Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB) Ahmad Safrudin mengatakan bahwa sepeda motor masih menjadi…