The Fed Tahan Suku Bunga Ditengah Sinyal Ekonomi Beragam

NERACA

Jakarta - Bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (Fed) pada Rabu (19/6) memutuskan untuk membiarkan suku bunga tidak berubah, karena para pejabat mempertimbangkan sinyal beragam pada kesehatan ekonomi AS dan dampak dari ketegangan perdagangan. Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC), komite pembuat kebijakan The Fed, memutuskan untuk mempertahankan kisaran target untuk suku bunga federal fund (FFR) pada 2,25 persen hingga 2,5 persen, The Fed mengatakan dalam sebuah pernyataan setelah mengakhiri pertemuan kebijakan dua hari.

Bank sentral mencatat bahwa pasar tenaga kerja AS "tetap kuat" dan kegiatan ekonomi "meningkat pada tingkat yang moderat" sejak Mei, sementara indikator-indikator bisnis investasi tetap "telah melemah" dan ketidakpastian tentang prospek ekonomi "telah meningkat." "Mengingat ketidakpastian ini dan tekanan inflasi yang lemah Komite akan memonitor dengan seksama implikasi informasi yang masuk untuk prospek ekonomi dan akan bertindak secara wajar untuk mempertahankan ekspansi, dengan pasar tenaga kerja yang kuat dan inflasi mendekati sasaran dua persen yang simetris," kata Fed.

Pertemuan itu datang ketika para pelaku pasar mengharapkan The Fed untuk menurunkan suku bunga pada tahun ini, sebagian karena kekhawatiran tentang meningkatnya biaya-biaya ketegangan perdagangan dan perlambatan pertumbuhan global. Presiden AS Donald Trump juga berulang kali menekan The Fed untuk menurunkan suku bunga dan mendorong pertumbuhan ekonomi. "Saya akan mengatakan tidak ada banyak dukungan untuk memangkas suku bunga sekarang pada pertemuan ini," kata Ketua The Fed Jerome Powell pada konferensi pers, menambahkan pejabat Fed ingin menunggu dan melihat lebih banyak data sebelum memindahkan suku bunga.

"Kami merasa bahwa akan lebih baik untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang berbagai hal, dan bahwa kami sebenarnya akan belajar banyak tentang perkembangan ini dalam waktu dekat," katanya. "Pada akhirnya pertanyaan yang kami tanyakan kepada diri kami sendiri adalah apakah risiko ini akan terus membebani prospek, dan kami akan bertindak sesuai kebutuhan, termasuk segera jika itu sesuai, dan menggunakan alat kami untuk mempertahankan ekspansi," tambahnya.

James Bullard, Presiden Federal Reserve Bank of St. Louis, memberikan suara menentang keputusan kebijakan Rabu (19/6), dengan alasan bahwa The Fed harus menurunkan kisaran target untuk suku bunga federal fund sebesar 25 basis poin pada pertemuan ini. Memperhatikan bahwa The Fed menurunkan komitmennya untuk menjadi "sabar" dalam pernyataan kebijakannya, para analis percaya The Fed telah membuka pintu untuk penurunan suku bunga segera setelah Juli.

"Fed bersiap untuk penurunan suku bunga pada bulan Juli. Suasana di dalam Fed jelas telah berubah. Tapi, mereka lebih memilih untuk tetap berhati-hati dan siap menghadapi kemungkinan darurat untuk saat ini. Risiko sekarang ke aspek negatif," Diane Swonk, Kepala Ekonom di Grant Thornton LLP, mencuit pada Rabu (19/8). Hampir 40 persen ekonom memperkirakan The Fed akan menurunkan suku bunganya pada Juli, sementara sekitar 30 persen meramalkan penurunan suku bunga pada September, menurut sebuah survei yang dirilis oleh The Wall Street Journal awal bulan ini.

BERITA TERKAIT

OJK Ungkap Target Inklusi Keuangan 2019 Tercapai

  NERACA   Surabaya - Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) ketiga yang dilakukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada…

Bank NTT Siap Jadi Bank Devisa pada 2021

  NERACA Kupang - Direktur Utama Bank NTT, Izhak Eduard Rihi menargetkan pada 2021 Bank NTT milik pemerintah Nusa Tenggara…

Cadangan Devisa Naik US$2,4 Miliar

      NERACA   Jakarta - Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Oktober 2019 tercatat 126,7 miliar dolar AS,…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

OJK Ungkap Target Inklusi Keuangan 2019 Tercapai

  NERACA   Surabaya - Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) ketiga yang dilakukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada…

Bank NTT Siap Jadi Bank Devisa pada 2021

  NERACA Kupang - Direktur Utama Bank NTT, Izhak Eduard Rihi menargetkan pada 2021 Bank NTT milik pemerintah Nusa Tenggara…

Cadangan Devisa Naik US$2,4 Miliar

      NERACA   Jakarta - Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Oktober 2019 tercatat 126,7 miliar dolar AS,…