Menata Industri Penerbangan Nasional

Oleh: Ambara Purusottama

School of Business and Economic

Universitas Prasetiya Mulya

Gejolak harga tiket pesawat menjadi sorotan tajam beberapa waktu belakangan. Bahkan, Presiden Jokowi ingin mengundang maskapai asing untuk turut berpartisipasi dalam industri penerbangan nasional yang dinilainya semakin tidak sehat. Kenaikan harga tiket yang melonjak tajam membuat banyak sektor yang terkena dampaknya. Industri pariwisata menjadi sektor terbesar yang merasakan dampak kenaikan tiket harga pesawat, terutama penerbangan domestik. Kenaikan yang tidak lumrah ini membuat calon konsumen berpikir untuk menggunakan jasa penerbangan. Penyedia jasa penerbangan dituduh melakukan kompetisi yang tidak sehat atau kartel harga tiket pesawat.

Kenaikan harga yang tidak biasa ini membuat banyak masyarakat mengeluh dan mempertanyakan. Pemerintah pun tidak kuasa menahan meroketnya harga tiket pesawat. Maskapai penerbangan selalu berargumen harga yang ada saat ini merepresentasikan biaya yang harus dikeluarkan. Faktanya, harga bahan bakar menjadi masalah utama biaya penerbangan. Harga bahan bakar mesin jet yang dikenal dengan avtur memang mengalami tren yang terus meningkat. Harga pasar menyebutkan bahwa saat ini harga avtur sudah menyentuh ke US$1.97 per gallon pada periode Mei 2019. Menurut manajemen Garuda Indonesia, kontribusi bahan bakar mencapai 38-48% dari seluruh biaya operasional maskapai saat ini sehingga kenaikan harga tiket menjadi solusi utama agar operasional dapat berjalan.

Industri penerbangan nasional saat ini hanya diikuti oleh dua kelompok besar, satu dari maskapai pemerintah dan satu dari maskapai swasta. Padahal semenjak adanya terobosan maskapai berbiaya terjangkau banyak maskapai yang ikut dalam industri penerbangan nasional namun satu persatu berguguran. Industri penerbangan nasional saat ini terkonsolidasi menjadi dua kelompok besar. Akan tetapi, konsolidasi menjadi dua kelompok justru mengerek harga tiket menjadi lebih tinggi. Tudingan tidak sehatnya persaingan usaha di industri penerbangan diarahkan kepada dua maskapai tersebut. Beberapa harga tiket pesawat domestik langsung justru lebih tinggi dibandingkan maskapai asing, meskipun penerbangan tidak langsung.

Garuda Indonesia sebagai BUMN yang memiliki banyak kepentingan memang memiliki posisi serba sulit. Tujuan Garuda Indonesia sebagai wakil negara di industri penerbangan harus kembali dikaji ulang mengingat banyaknya tujuan yang harus diakomodir. Selain menghasilkan keuntungan, BUMN juga harus mampu memberikan manfaat bagi masyarakat. Seolah-olah saat ini BUMN penerbangan berlogo garuda tersebut harus mangakomodir semua tujuan yang diamanatkan. Dengan situasi pasar yang cukup kompleks, pemerintah perlu menata kembali industri maskapai penerbangan. Salah satunya melalui BUMN yang mendapatkan amanat untuk menyambung antar daerah di Indonesia. Perlunya pemahaman dampak lebih yang dirasakan sektor lain sebagai akibat dari meroketnya harga tiket pesawat domestik.

Perlu dipahami bahwa industri penerbangan mempunyai sejarah panjang dan kompetitif. Tidak banyak maskapai yang dapat bertahan di industri ini, bahkan di negara maju. Sejarah panjang menyebutkan bahwa hanya maskapai dengan dukungan pemerintah yang mampu eksis. Membuka ruang bagi maskapai asing bukanlah satu-satunya jalan untuk menyelesaikan polemik meroketnya harga tiket pesawat karena di Indonesia sendiri meskipun industri ini memiliki regulasi yang ketat namun tidak pernah melarang maskapai swasta ikut melayani penerbangan nasional. Besarnya permintaan pasar tidaklah cukup sebagai daya tarik usaha, harus diimbangi dari sisi pasokan seperti kebijakan yang mendukung industri penerbangan di Indonesia.

BERITA TERKAIT

Dunia Usaha - RUU Desain Industri Dorong Daya Saing dan Akomodir Teknologi

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus meningkatkan daya saing industri di Indonesia agar mampu kompetitif baik di lingkup pasar…

Catatkan Penjualan Lahan 25,3 Hektar - DMAS Masih Mengandalkan Kawasan Industri

NERACA Jakarta – Kejar target penjualan, PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS) masih fokus mengembangkan kawasan industri. Apalagi, perseroan menerima permintaan lahan…

Milenial Masif, Industri Kreatif Bisa Fenomenal

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) bertekad untuk terus menumbuhkan sektor industri…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Kanalisasi Paradoks Sektor Riil

Oleh: Fauzi Aziz Pemerhati Ekonomi dan Industri   Presiden tampaknya sangat risau dengan persoalan defisit neraca perdagangan dan neraca transaksi…

Tidak Pernah Jera

  Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo   KPK kembali melakukan OTT terhadap salah satu…

Jokowi & Ekonomi Syariah

Oleh : Agus Yuliawan Pemerhati Ekonomi Syariah Akhirnya usai sudah pergulatan politik nasional di tanah air kita  dan pada lima…