Kegiatan Nasional di Sumbar Terancam Sepi

Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) Sumbar Ian Hanafiah mengatakan sejumlah kegiatan berskala nasional yang akan dihelat di Sumatera Barat pada 2019 dan 2020 terancam sepi jika harga tiket penerbangan domestik masih tetap mahal. "Agenda nasional yang digelar di Sumbar tahun ini mulai lesu. Jumlah peserta jauh meleset dari perkiraan karena tingginya harga tiket pesawat," kata dia di Padang.

Ia menilai hal yang sama bisa terjadi pada beberapa kegiatan nasional lain yang direncanakan digelar di Sumbar seperti Pekan Nasional (Penas) Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA), Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-27 dan Hari Kesatuan Gerak PKK.

Dua agenda pertama akan digelar pada 2020 sementara Kegiatan Hari Kesatuan Gerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (HKG-PKK) tingkat nasional ke-57 tahun 2019 akan dilaksanakan 24-27 Juli 2019 di Sumbar.

Diprediksi sekitar 5000 orang akan datang ke Sumbar dalam acara yang rencananya dihadiri Presiden Joko Widodo itu. Butuh setidaknya 3000 kamar hotel agar semua tamu bisa terlayani.

Namun Ian pesimistis prediksi jumlah tamu itu akan terealisasi. Ia meramalkan jumlah tamu yang datang hanya setengah dari perkiraan bahkan bisa kurang. "Kalau benar terjadi seperti itu, kemungkinan besar agenda pada 2020 akan bernasib sama," ujarnya.

Pariwisata merupakan andalan utama Sumbar untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Salah satu jenis wisata yang diandalkan itu adalah yang berbasis meetings, incentives, conferencing, exhibitions (MICE).

Gubernur Sumbar bahkan menyelenggarakan jamuan makan malam sebagai sambutan kehormatan bagi peserta kegiatan berskala nasional yang digelar di daerah itu.

Cara itu cukup efektif untuk menarik berbagai pihak melaksanakan kegiatan di Sumbar sehingga sektor pariwisata berjalan dengan sangat baik.

Namun setelah harga tiket penerbangan domestik melambung tinggi pada harga batas atas, wisata MICE di Sumbar juga mulai lesu. Peserta yang biasanya datang dari berbagai daerah di Indonesia mulai menghitung ulang anggaran yang harus dikeluarkan dengan mengikuti kegiatan di luar daerah. Banyak yang kemudian membatalkan kedatangan karena biaya yang harus dikeluarkan terlalu besar.

Sementara itu, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) provinsi Maluku Theni Borlola mengatakan, kenaikan harga tiket pesawat belakangan ini telah mempengaruhi tingkat hunian hotel di Maluku. "Kenaikan harga tiket dan penerapan bagasi berbayar sangat mempengaruhi tingkat hunian hotel di provinsi Maluku," katanya.

Ia mengatakan, kenaikan harga tiket pesawat menyebabkan sepinya hunian hotel karena kurangnya minat masyarakat untuk berlibur di dalam negeri.

Hal ini berdampak signifikan bagi pengusaha hotel di luar pulau Jawa terutama di kawasan Indonesia Timur. "Kenaikan ini jelas tidak menguntungkan pengusaha perhotelan di Maluku, karena kami tidak punya pilihan angkutan selain pesawat dan kapal laut. Di pulau Jawa bisa dijangkau dengan angkutan darat, sehingga kondisi ini tetap stabil," katanya.

Theny menjelaskan, penurunan hunian ini juga disebabkan karena tidak ada kegiatan berskala nasional khususnya di kota Ambon. "Penurunan juga terjadi di online travel agent seperti traveloka, tiket.com dan lainnya, padahal "bookingan" online merupakan idola pengusaha hotel. Kita berharap kebijakan ini ditinjau kembali karena jika tidak usaha di dunia perhotelan akan merosot," tambahnya.

Kepala Dinas Pariwisata Maluku, Habiba Saimima mengakui, tiket pesawat yang mahal sejak akhir 2018 mempengaruhi tingkat kunjungan wisatawan, baik nusantara maupun mancanegara ke Maluku.

Mahalnya harga tiket pesawat juga mempengaruhi target kunjungan wisatawan mancanegara ke Maluku pada 2018 sebanyak 25.000 orang hanya terealisasi 18.979 orang. Sedangkan, untuk wisatawan nusantara dari target 150.000 orang hanya terealisasi 116.898 orang.

Pihaknya memanfaatkan berbagai ajang, baik lokal, nasional maupun internasional untuk mengintensifkan promosi aneka pesona wisata di daerah ini untuk menjaring Wisatawan mancanegara maupun nusantara. (ant)

BERITA TERKAIT

Dikepung Politisi, BPK Terancam Kehilangan Independensi

Oleh: Djony Edward Proses pendaftaran calon pimpinan dan anggota Badan Pemeriksa Keuangan telah ditutup sejak 1 Juli lalu. Terdapat 64…

Defisit Transaksi Berjalan Kronis, Kedaulatan Ekonomi Terancam

Oleh: Anthony Budiawan, Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS) Neraca Transaksi Berjalan mulai mengalami defisit sejak triwulan IV…

Ketahanan Nasional Harus Ditopang dari Sosial-Budaya

Ketahanan Nasional Harus Ditopang dari Sosial-Budaya NERACA Jakarta - Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) RI menyebutkan ketahanan nasional harus ditopang oleh…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Kering, Meski Cianjur Memiliki Sumber Air

Kesulitan mendapatkan air pada musim kemarau bukan hal baru bagi petani di negeri ini, termasuk di Cianjur, Jawa Barat, yang…

Ini Dia, Misi Konservasi Air di Yogyakarta

Posisi Kota Yogyakarta yang diuntungkan secara topografi karena memiliki wilayah yang tidak luas, berada di dataran rendah, dan diapit tiga…

Mengatasi Kekeringan: - Dengan Upaya Terukur dan Terstruktur

Indonesia merupakan kawasan dengan anomali cuaca yang sangat unik karena pada saat yang bersamaan ada wilayah yang kekeringan, di tempat…