Ketika Swasta Ikut Berperan Mengejar Ketertinggalan - Pembangunan Sosial Suku Anak Dalam

Membangun pemerataan dari ketertinggalan dan pemberdayaan ekonomi bagi suku anak dalam tanpa harus menghilangkan jati diri menjadi perhatian. Pasalnya, saat ini masih banyak suku anak dalam yang belum tersentuh oleh kemajuan ekonomi sehingga mereka terus tertinggal dalam kemiskinan. Berangkat dari keprihatinan tersebut, PT Sari Aditya Loka (SAL) melalui program tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR) melakukan pemberdayaan bagi suku anak dalam (SAD) yang ada di Kabupaten Merangin dan Sarolangun.

Dalam program CSR tersebut, perseroan memfokuskan pada tiga bidang pembangunan yakni pendidikan, kesehatan dan ekonomi untuk pembangunan sosial. Presiden Direktur PT SAL, M Hadi Sugeng dalam siaran persnya di Provinsi Jambi, kemarin mengatakan, di bidang pendidikan PT SAL telah mendirikan sekolah dan dalam penyelenggaraan kegiatan pendidikannya bekerja sama dengan Dinas Pendidikan dan Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD) dan mengalokasikan 16 guru untuk mengajar di sana dimana salah satu gurunya itu sendiri berasal dari warga suku anak dalam (SAD).

Ada juga asrama terpadu yang disediakan bagi SAD yang bersekolah di sekolah formal agar mereka lebih siap dalam mengikuti kegiatan belajar di sekolah formal. Kemudian ada 280 siswa suku anak dalam yang mendapat pelayanan pendidikan, dimana dari 40 orang di antaranya mendapat beasiswa di sekolah formal dan tiga diantaranya terima beasiswa penuh SMK di Yogyakarta.

Pada bidang kesehatan, PT SAL group Astra Agro Lestari itu telah membangun dua unit pusat pelayanan kesehatan dan menyediakan satu unit mobil kesehatan yang berkeliling mendatangi satu persatu kelompok temenggung SAD di dua kabupaten tersebut di Provinsi Jambi.”Kemudian penyediaan sarana air bersih, ada juga kita buatkan Posyandu dan alhamdulillah respon saudara-saudara kita dari warga suku anak dalam positif dan sangat bagus," kata Hadi Sugeng.

Sementara di bidang ekonomi, PT SAL juga menyasar pada puluhan kelompok temenggung Suku Anak Dalam. Diantaranya pembangunan ekonomi kreatif dengan budidaya labi-labi, ayam potong dan ubi kayu atau singkong. Melalui Forum Kemitraan Pembangunan Sosial Suku Anak Dalam yang digelar Prakasa Madani Institute, Hadi Sugeng menyakini forum tersebut dapat berkontribusi lebih sehingga program-program yang dilakukan PT SAL dan korporasi lainnya yang terlibat akan semakin besar dan berkelanjutan dengan tetap menjaga kearifan lokal suku anak dalam.

Salah satu Temenggung Suku Anak Dalam di kawasn TNBD, Afrizal mengapresiasi bantuan yang diberikan dan disalurkan PT SAL kepada kelompok nya, seperti bantuan pemberdayaan ekonomi dan bantuan sembako serta pemberian fasilitas kesehatan dan pendidikan dan hubungan mereka dengan perusahaan sangat baik bahkan ada warga SAD yang sudah bekerja di perusahaan perkebunan tersebut.

Membangun Pemahaman

Workshop Kemitraan Pembangunan Sosial Suku Anak Dalam yang digelar Prakarsa Madani Institute itu bertujuan membangun kesepahaman tentang operasionalisasi forum kemitraan pembangunan sosial suku anak dalam di provinsi Jambi. Dimana tujuan khususnya yakni membangun aturan dasar Forum Kemitraan Pembangunan Sosial Komunitas Suku Anak Dalam, membangun tata kerja para pihak yang tergabung dalam Forum Kemitraan Dalam Pembangunan Sosial Suku Anak Dalam dan menyusun rencana program kerja Forum Kemitraan Pembangunan Sosial Suku Anak Dalam di Provinsi Jambi.

Asal tahu saja, suku anak dalam bukan merupakan nama asli mereka, nama tersebut merupakan nama populer yang disebar oleh Kementerian Sosial untuk menggambarkan suku terbelakang yang hidup di pedalaman dan jauh dari hiruk pikuk masyarakat perkotaan. Dalam panggilan sehari-hari, suku anak dalam biasa dipanggil suku Kubu. Nama ini memproyeksikan suatu kelompok masyarakat yang terbelakang, kotor, dan primitif. Karena mendapat stigma negatif, pemerintah pun memberikan sebutan suku anak dalam untuk mereka.

Keberadaan suku anak dalam sendiri tergolong langka karena selain jumlahnya yang sedikit, tempat tinggal mereka pun sering berpindah dari satu hutan ke hutan yang lain atau nomaden. Oleh karena itu, pemerintah pun menginisiasi pembangunan kawasan terpadu untuk suku tersebut. Hal tersebut untuk menjamin kehidupan kelompok masyarakat itu, sehingga tidak pindah ke satu hutan ke hutan lainnya yang sudah mulai terkikis pembangunan.

Sementara itu Bupati Sarolangun Cek Endra, menjelaskan bahwa dibangunnya kawasan terpadu mandiri akan membuat pola pembinaan baik pendidikan, kesehatan, dan juga pertanian akan lebih mudah dilakukan. "Tujuan kita murni untuk memanusiakan manusia, dan mereka adalah warga negera indonesia dan berhak hidup setara dengan masyarakat umum lainnya," tandas Cek Endra.

Apalagi sekarang suku anak dalam mulai terancam kehidupannya. Hutan tempat mereka tinggal dan berburu makanan sehari-hari sudah banyak ditebang dan dijadikan kebun sawit dan karet. Menurut Kementerian Sosial, dalam pemberdayaan suku anak dalam hal yang terpenting dan mutlak yang harus menjadi perhatian semua pihak adalah pendampingan secara berkelanjutan. Tidak hanya pemerintah pusat, namun juga pemerintah daerah, LSM, Swasta, dan masyarakat sekitar. Saat ini, terdapat sekitar 2.700 jiwa suku anak dalam di Kabupaten Sarolangun dan 1.600 di Kabupaten Merangin. Diantara mereka ada yang sudah mulai masuk permukiman, persiapan dimukimkan dan yang masih di hutan.

BERITA TERKAIT

Menjaga Eksistensi Warisan Nenek Moyang - Festival Pesona Lokal Membawa Cerita di Masa Kecil

Bandung Paris Van Java atau Paris dari Jawa adalah sebutan yang tidak asing lagi untuk menggambarkan kota Bandung yang terkenal…

Peduli Budaya Suku Pedalaman - Menteri BUMN Berikan Bantun Peletarian Suku Badui

Pesatnya dan majunya perkembangan zaman, tidak membuat eksistensi suku Badui sebagai suku terdalam di Lebak, Banten ikut punah. Bahkan sebaliknya,…

Bank Muamalat dan BMM Renovasi Rumah Warga Sukabumi

Rumah sebagai tempat tinggal atau berlindung merupakan kebutuhan pokok dari masyarakat, namun seiring dengan membengkaknya harga tanah tiap tahunnya membuat…

BERITA LAINNYA DI CSR

Menjaga Eksistensi Warisan Nenek Moyang - Festival Pesona Lokal Membawa Cerita di Masa Kecil

Bandung Paris Van Java atau Paris dari Jawa adalah sebutan yang tidak asing lagi untuk menggambarkan kota Bandung yang terkenal…

Peduli Budaya Suku Pedalaman - Menteri BUMN Berikan Bantun Peletarian Suku Badui

Pesatnya dan majunya perkembangan zaman, tidak membuat eksistensi suku Badui sebagai suku terdalam di Lebak, Banten ikut punah. Bahkan sebaliknya,…

Bank Muamalat dan BMM Renovasi Rumah Warga Sukabumi

Rumah sebagai tempat tinggal atau berlindung merupakan kebutuhan pokok dari masyarakat, namun seiring dengan membengkaknya harga tanah tiap tahunnya membuat…