Lore Lindu, Lokasi Favorit Kegiatan Pengamatan Burung di Poso

Taman Nasional Lore Lindu (TNLL) merupakan salah satu lokasi perlindungan hayati Sulawesi. TNLL terletak di Kabupaten Poso, Provinsi Sulawesi Tengah, tepatnya sekitar 60 kilometer selatan kota Palu. Lore Lindu memiliki fauna dan flora endemik Sulawesi, serta panorama alam yang menarik karena terletak di garis Wallace yang merupakan wilayah peralihan antara zona Asia dan Australia.

Namun kawasan ini rupanya justru paling banyak dikunjungi oleh para wisatawan dengan minat khusus, tepatnya para pengamat burung. "Berdasarkan pengamatan kami, lebih banyak pengamat burung yang datang tiap tahun dibandingkan wisatawan lainnya," kata pengamat burung Wilayah Napu, Yudah Mondolu, seperti yang dikutip dari Antara, Senin (17/6).

Lokasi yang sering menjadi pusat pengamatan burung, ia melanjutkan, adalah daerah puncak dingin. Tepatnya Anaso dan Danau Tambing yang berada di atas Desa Sedoa, Kecamatan Lore Utara, Kabupaten Poso.

Menurutnya wisatawan pengamat burung paling banyak berkunjung di bulan Juli-Oktober. Dalam sekali kunjungan, ia menambahkan, bisa sampai lima kelompok yang satu kelompoknya rata-rata berjumlah delapan orang. Mondolu menuturkan biasanya waktu kunjungan untuk melakukan kegiatan pengamatan burung itu, memakan waktu selama lima hari di dalam hutan.

Dia mengatakan jenis burung yang paling banyak diamati yakni jenis burung endemik Sulawesi dan jenis burung langka. "Mereka (pengamat burung) didominasi (oleh wisatawan) dari Benua Eropa dan Amerika. Mereka ini bukan penelitian tapi hanya pengamat burung saja," katanya.

"Untuk yang endemik yakni jenis burung rangkong atau julang Sulawesi dan gagak Sulawesi atau "piping crow", sementara untuk jenis burung langka masih dalam pengamatan."

Menurut Mondolu beberapa turis pecinta burung selain mengamati burung dalam hutan, juga mengamati perilaku burung sawah dan danau di Desa Wanga, Kecamatan Lore Peore.Kunjungan wisatawan dengan minat khusus itu, ia melanjutkan, dapat meningkatkan jumlah Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Poso, khususnya jika dapat dikembangkan lebih baik..

Ia menjelaskan dalam satu kali kunjungan, para pengamat burung itu dikenakan tarif Rp150 ribu per orang. Selain itu, ia melanjutkan, turis yang tidak menginap dalam hutan pun akan menambah penghasilan penginapan di wilayah Napu dan sekitarnya.

BERITA TERKAIT

Pelaku Usaha Sarang Burung Walet Harus Tingkatkan Kualitas

NERACA Jakarta – Para pelaku usaha sarang burung walet di Jawa Tengah diajak untuk meningkatkan kualitas produksi agar bisa mengambil…

Tunjang Kegiatan Ekspansi Bisnis - Panca Budi Idaman Suntik Modal Anak Usaha

NERACA Jakarta – Danai pengembangan bisnis anak usaha, PT Panca Budi Idaman Tbk (PBID) menambah modal ditempatkan dan disetor penuh…

Milad Seabad, TK ABA Gelar Berbagai Kegiatan

Milad Seabad, TK ABA Gelar Berbagai Kegiatan  NERACA Jakarta - Di usianya yang kini mencapai Satu Abad (1919 – 2019),…

BERITA LAINNYA DI WISATA INDONESIA

Mengenal Kawasan Wisata Pandanan yang Ludes Terbakar

Kawasan wisata Bukit Pandanan, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, terbakar mulai Minggu lalu. Seperti dilansir Antara, kebakaran itu terjadi…

Populasi Penyu Menurun, Warga Tulungagung Menjaga Pantai

Populasi penyu yang menepi dan beraktivitas di sekitar pesisir pantai Tulungagung, Jawa Timur, disinyalir terus mengalami penurunan akibat perburuan satwa…

Pariwisata Indonesia Belum Terimbas Karhutla

Kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kerap terjadi setiap tahun di beberapa provinsi di Indonesia, dinilai tidak mengganggu sektor…