Transcoal Pacific Bikin JV Bermitra Luar Negeri - Genjot Volume Angkutan

NERACA

Jakarta – Raup ceruk pasar angkutan jasa pelayaran lebih luas lagi, PT Transcoal Pacific Tbk (TCPI) akan membentuk usaha patungan ataujoint venturedengan mitra dari luar negeri. Perseroan menyebutkan, pembentukan JV sudah dalam tahap final dan proses pembentukan akan selesai dalam waktu dekat.”Mudah-mudahan kuartal III/2019 sudah bisasigning,”kata Direktur Utama Transcoal Pacific, Dirc Richard Talumewo di Jakarta, kemarin.

Richard menjelaskan bahwa dalam usaha patungan itu perseroan akan mengempit kepemilikan mayoritas. Disebutkan, porsi pereroan diperkirakan sebesar 55% dan dalam JV itu, TCPI bertindak sebagai penyedia jasa pengangkutan. Perseroan akan bertanggung jawab untuk logistik komoditas batu bara dan nikel.

Kendati demikian, dirinya belum membeberkan secara detail berapa investasi yang akan dikeluarkan untuk usaha patungan tersebut. Namun, pihaknya menyebut memerlukan penambahan aset sebagai pendukung bisnis di dalam JV. “Kebutuhannya minimal tambahan duamother vessel,” imbuhnya.

Richard mengatakan terbentuknya usaha patungan akan menambah tebal volume pengangkutan perseroan. Dengan demikian, perseroan berpeluang melampaui volume pengangkutan yang dibidik pada 2019. Seperti diketahui, TCPI mengincar volume pengangkutan 51 juta ton pada 2019. Nilai itu naik 25% dari realisasi sekitar 41,53 juta ton pada 2018.

Selanjutnya hasil rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) PT Transcoal Pacific Tbk menyepakati membagikan dividen senilai Rp 79,68 miliar dari laba bersih perusahaan tahun lalu. Besaran itu mencerminkan dividendpay out ratio sebesar 30%. Dengan demikian para pemegang saham akan menerima dividen Rp 15,5/saham.

Kata Richard, sesuai dengan aturan berlaku, dividen ini akan dibagikan pada 19 Juli 2019. Sebagai informasi, tahun lalu perusahaan mengantongi laba bersih sebesar Rp 265,61 miliar, melejit 151% dibanding dengan laba bersih perusahaan di akhir 2017 yang senilai Rp 106 miliar. Laba bersih itu seiring dengan kenaikan pendapatan sebesar 50% menjadi Rp 2,32 triliun dari pendapatan di periode yang sama tahun sebelumnya Rp 1,55 triliun.

Peningkatan laba bersih ini juga sebagai dampak dari akuisisi sister company (perusahaan satu pengendalian), yaitu PT Kanz Gemilang Utama oleh perseroan di bulan Oktober 2018. Perseroan juga mengungkapkan, saat ini telah menyerap belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp 180 miliar dari yang dialokasikan sepanjang tahun ini sekitar Rp 750 miliar- Rp 800 miliar.”Capex yang terserap sekitar 25%, kalau kita mengacu pada anggaran Rp 750 miliar," kata Dirc Richard Talumewo.

Disampaikannya, capex yang terserap digunakan untuk membeli kapal mother vessel (MV) senilai Rp 180 miliar. Sebagai gambaran, capex akan digunakan untuk membeli dua kapal MV, satu floating crane, dua phuser tug, satu tug dan satu kapal. Sumber pendanaan capex sekitar 70% dari BNI dan sisanya dari kas internal.

Tahun ini, perseroan menargetkan pertumbuhan pendapatan yang signifikan yaknidi kisaran Rp 3,5 triliun-Rp 4 triliun. Peningkatan tersebut didorong oleh pertumbuhan volume pengangkutan batu bara dan nikel dari tahun lalu.

BERITA TERKAIT

Volume Penjualan Semen SMCB Turun 3,30%

NERACA Jakarta – Melorotnya penjualan PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR) di semester pertama tahun ini, juga dirasakan oleh anak…

Perkenalkan Fortofolio Bisnis - Astra Tampil di 1st Pacific Expo Selandia Baru

NERACA Jakarta – Menunjukkan eksistensinya di dunia internasional, PT Astra Internasional Tbk (ASII) menjadi satu dari lebih dari 100 perusahaan…

Naik 7,4%, Utang Luar Negeri Capai Rp 5.521 Triliun

  NERACA   Jakarta - Utang luar negeri Indonesia pada akhir Mei 2019 naik 7,4 persen secara tahunan (year on…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Volume Penjualan Terkoreksi 5,58% - Astra Terus Pacu Penjualan di Semester Kedua

NERACA Jakarta – Lesunya bisnis otomotif di paruh pertama tahun ini memberikan dampak terhadap bisnis otomotif PT Astra International Tbk…

Hartadinata Akuisisi Perusahaan E-Commerce

Kembangkan ekspansi bisnisnya, PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) pada tanggal 15 Juli 2019 menandatangani akta perjanjian penyertaan modal yang pada…

Kasus Hukum Menimpa Tiga Pilar - Investor Ritel Minta Kepastian Hukum

NERACA Jakarta – Kisruh sengketa manajamen PT Tiga Pilar Sejahtera Tbk (AISA) masih menyisakan masalah bagi para investor, khususnya investor…