Waspadai Anak Bermain Gawai Keseringan

Dokter Spesialis Anak DR. dr. Meita Dhamayanti, Sp.A(K) mengatakan bayi di bawah umur lima tahun (balita) yang cenderung terpapar atau bermain dengan gawai akan mempengaruhi stimulasi tumbuh kembang anak tidak optimal. "Prinsipnya tumbuh kembang harus optimal tidak hanya satu sisi tapi seluruh aspek tumbuh berkembang itu harus terstimulasi dengan baik," katanya kepada Antara usai acara diskusi "Kemitraan Dalam Upaya Melindungi Hak Anak dan Remaja" dalam peringatan Hari Ulang Tahun ke-65 IDAI, Jakarta, pekan ini.

Meita yang merupakan dosen di Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Bandung menuturkan stimulasi merupakan interaksi dua arah sementara bermain dengan gawai (gadget) hanya bersifat satu arah, sehingga tidak ada rangsangan optimal yang menyebabkan interaksi atau gerakan motorik seluruh tubuh untuk tumbuh kembang anak.

Dengan lama terpapar gawai, anak-anak mendapat stimulasi yang tidak optimal dan tidak tepat, mereka hanya fokus pada gerakan mata yang terus tertuju pada layar gawai, sehingga perkembangan motorik tidak terangsang dengan baik serta berdampak buruk pada hubungan emosi sosial. "Jangan biarkan anak main gawai sendiri," tuturnya.

Dia menekankan interaksi balita atau anak-anak dengan ibu dan orang di sekitarnya akan memberikan stimulasi positif bagi tumbuh kembang anak dan input pembelajaran yang jauh lebih positif seperti mengajak anak berdialog untuk mengenal sesuatu dari gambar. Dia berharap para orang tua akan lebih berinteraksi aktif dengan anak-anak mereka daripada membiarkan anak-anak mereka bermain atau hanya fokus pada gawai. Apalagi, anak-anak rentan terpapar tayangan atau konten negatif yang tersebar di dunia maya yang mudah diakses dari gawai mereka.

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Sitti Hikmawatty mengatakan bermain gawai dapat menyebabkan anak menjadi mudah mengamuk atau tantrum dan hiperaktif. "KPAI sudah pernah mendapat pasien kecanduan gawai dirawat di rumah sakit. Karena begitu kecanduan dengan gawai, ketika tidak ada gawai langsung tantrum, mengamuk," kata Sitti.

Dia menuturkan ketika dipisahkan dari gawainya, anak yang kecanduan gawai itu mengamuk luar biasa, bahkan sampai mengatakan benci kepada ibunya dan hendak membunuhnya jika dipisahkan dari gawai. Sitti menuturkan Badan Kesehatan Dunia sepakat menyatakan kecanduan gawai adalah suatu penyakit. Selain itu, Sitti mengatakan banyak predator yang siap memangsa anak-anak lewat interaksi di gawai, termasuk bahaya dari pelaku pedofilia dan kekerasan seksual.

Dia menuturkan pelaku pedofilia dengan intens mengincar korban dalam jangka waktu tertentu misalnya, enam bulan sampai satu tahun. Ketika ibu lengah atau sedang memasak di dapur, ibu tidak tahu bahwa meskipun anak berada di rumah, namun anaknya ternyata sedang berbicara dengan orang asing lewat gawai, yang berusaha menjebak anak dalam kasus pelecehan seksual. Ada juga kasus di mana anak mengalami kekerasan seksual oleh orang yang dia kenal lewat media sosial saat mereka bertemu di di dunia nyata. Dia mengatakan banyak kemungkinan yang bisa menyebabkan anak terjebak dalam kekerasan seksual. Untuk itu, anak-anak juga harus dipantau saat menggunakan gawai.

BERITA TERKAIT

Waspadai Penyebab Defisit

Dua lembaga pemantau cuaca, BMKG dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), mengingatkan masyarakat akan perubahan cuaca yang sangat dinamis dengan…

Anak Usaha UNTR Tambah Saham di SMM

NERACA Jakarta - Anak usaha PT United Tractors Tbk (UNTR), PT Tuah Turangga Agung (PAA) meningkatkan kepemilikan saham pada salah…

Pemkab Lebak Komitmen Menjadikan Kota Layak Anak

Pemkab Lebak Komitmen Menjadikan Kota Layak Anak NERACA Lebak - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lebak, Banten, berkomitmen menjadikan kota layak anak…

BERITA LAINNYA DI PENDIDIKAN

Tata Cara Sembelih Hewan Secara Halal

Masyarakat Juru Sembelih Halal (Juleha) hadir untuk mengedukasi masyarakat di Indonesia terkait tata cara menyembelih hewan secara halal. Salah satu…

Lulus Modal IPK Tinggi Itu Masa Lalu

      Rektor Universitas Negeri Padang Prof Ganefri menyatakan, lulusan perguruan tinggi hanya bermodalkan capaian indek prestasi kumulatif (IPK)…

6 Bahasa PBB Yang Layak Dipelajari

    Orang yang tertarik pada bahasa asing juga cenderung tertarik pada kancah internasional. Oleh karena itu, Persatuan Bangsa Bangsa…