RI Belum Optimal Manfaatkan Perang Dagang - DIBANDINGKAN DENGAN VIETNAM

Jakarta – Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara menilai pemerintah belum optimal memanfaatkan perang dagang Amerika Serikat dan China menjadi keuntungan bagi perekonomian Indonesia. Menurut Bhima, Indonesia tertinggal jika dibandingkan Vietnam yang dinilai mampu meraup keuntungan dari perang dagang yang terjadi antara Amerika Serikat-China.

NERACA

"Keunggulan komparatif Vietnam dibandingkan Indonesia itu bukan dari upah buruh yang lebih murah tapi justru dari insentif yang diberikan yang saling berjarak antara pemerintah pusat dan daerah itu yang tidak terjadi di Indonesia," ujarnya di Jakarta, Rabu (19/6).

Bhima menjelaskan, dampak dari perang dagang membuat investor dari China atau Amerika akan mencari negara lain untuk kegiatan produksi dan Vietnam menjadi salah satu negara tujuan utama karena kemudahan dan jaminan yang diberikan untuk para investor. "Di sini banyak kepala daerah yang antipati terhadap investor yang datang karena sudah puas bagi hasil dengan pemerintah pusat," katanya.

Menurut Bhima, Indonesia bisa memanfaatkan peluang perang dagang Amerika dan China dengan mendorong volume ekspor terutama dari sektor pertanian. Dia mencontohkan, saat ini terjadi penurunan signifikan permintaan kedelai dari Amerika sebagai produsen nomor satu di dunia ke China karena tarif impor yang terlalu tinggi akibat perang dagang kedua negara.

Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Pingkan Audrine menilai pilihan komoditas ekspor yang tepat dan strategi diplomasi perdagangan Indonesia ke Amerika Serikat harus terus dioptimalkan dalam menyiasati perang dagang antara AS dan China.

Pingkan mengatakan perang dagang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan potensi ekspor Indonesia ke Amerika Serikat dengan tetap memperhitungkan selisih perdagangan bilateral yang saat ini sudah mencapai 12,6 miliar dolar AS, agar tidak semakin melebar.

"Kita harus fokus mempertahankan penetrasi produk kita ke pasar Amerika Serikat. Setidaknya pada semester pertama tahun 2018, enam dari sepuluh komoditi utama ekspor Indonesia menempatkan mereka sebagai negara tujuan pada posisi teratas," ujarnya seperti dikutip Antara.

Ada pun komoditas ekspor tersebut yakni industri tekstil dan produk tekstil (TPT), karet dan produk karet, alas kaki, udang, kakao dan kopi. Menurut dia, Indonesia sebaiknya mengoptimalkan ekspor pada komoditas TPT, karet dan produk karet untuk memasuki pasar Amerika Serikat selama perang dagang berlangsung. Komoditas tersebut menempati pos ketiga terbesar bagi komoditas ekspor China ke AS, setelah mesin dan perangkat transportasi serta komoditi ragam produk.

Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menilai perang dagang yang terjadi antara Amerika Serikat dengan China dapat memberi peluang bagus bagi perekonomian Indonesia. "Kita menyampaikan bahwa kita mempunyai peluang yang cukup bagus untuk ekspor kita, namun kita memang harus merapikan kembali kepada tim kita," kata Ketua Apindo Haryadi Sukamdani.

Menurut Haryadi, tim yang perlu diperkuat yakni tim negosiasi untuk perjanjian perdagangan internasional, maupun penunjang perdagangan seperti dana promosi. Haryadi juga menilai industri Indonesia dapat mengisi produk-produk turunan dari komoditas yang ada di Indonesia, bukan hanya mengekspor bahan mentah.

Sementara itu, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menilai, Indonesia memiliki peluang di tengah bergulirnya perang dagang antara Amerika Serikat dan China. Sebab, Indonesia masih memiliki fundamental ekonomi yang kuat dalam menghadapi situasi global saat ini.

“Bagi Indonesia, sebetulnya perang dagang AS-China ini zero sum game, yang artinya tidak ada yang diuntungkan. Tetapi, di sini kita punya peluang. Adanya trade war ini, orang melihat negara kita berada di zona aman,” kata Menperin.

Menperin menjelaskan, Indonesia telah masuk zona aman investasi sejak 20 tahun lalu, yakni setelah berakhirnya Orde Baru dan dimulainya masa Reformasi. “Sebagai negara dengan kondisi geopolitik yang cukup stabil, Indonesia kini semakin diincar oleh investor asing,” ujarnya.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menyebutkan bahwa meningkatnya tensi perang dagang antara Amerika Serikat dan China telah mengakibatkan kinerja ekspor di seluruh negara terganggu atau melambat.

Bahkan, Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organization/WTO) memproyeksikan perdagangan global pada 2019 hanya tumbuh sebesar 2,6 persen, atau menurun dibandingkan periode 2017 sebesar 4,0 persen dan 2018 sebesar 3,6 persen.

"Tidak ada satu pun negara yang bisa katakan (negara) saya meningkat (ekspornya). WTO sendiri proyeksinya tahun ini 2,6 persen. Hal ini menunjukkan menurunnya daya beli dari seluruh negara," kata Enggar.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati meyakini peningkatan perang dagang antara AS dengan China dalam beberapa waktu terakhir, tidak akan berdampak signifikan terhadap pertumbuhan kredit perbankan di Indonesia, yang menjadi parameter untuk melihat ekspansi dunia usaha.

China dan Amerika Serikat menyalakan kembali pembicaraan perdagangan menjelang pertemuan minggu depan antara Presiden Donald Trump dan Xi Jinping, yang disambut gembira pasar keuangan dengan harapan bahwa perang dagang yang meningkat antara kedua negara akan mereda.

Trump mengatakan tim dari kedua belah pihak akan memulai persiapan bagi para pemimpin untuk duduk di KTT G20 di Osaka. China, yang sebelumnya menolak mengatakan apakah kedua pemimpin akan bertemu, mengkonfirmasi pertemuan itu.

“Melakukan percakapan telepon yang sangat baik dengan Presiden Xi dari Tiongkok. Kami akan mengadakan pertemuan diperpanjang minggu depan di G-20 Jepang. Tim kami masing-masing akan memulai pembicaraan sebelum pertemuan kami," kata Trump dalam Twitter-nya. mohar/munib

BERITA TERKAIT

KABINET INDONESIA MAJU DIMINTA TEKAN DEFISIT PERDAGANGAN - Presiden: Satu Permen Baru Cabut 40 Aturan Lama

Jakarta-Presiden Jokowi meminta jajaran menteri Kabinet Indonesia Maju untuk sedikitnya mencabut 40 aturan sekaligus saat ingin menerbitkan sebuah ketentuan baru misalnya,…

Jokowi Kecewa Pemberdayaan UMKM Belum Optimal

NERACA Jakarta – Komitmen pemerintah meningkatkan daya saing pelaku industri usaha mikro kecil dan menengah, belum dilakukan secara optimal dan…

Impor Produk Tekstil Dikenakan Bea Masuk Hingga 67%

NERACA Jakarta-Pemerintah melalui SK Kementerian Keuangan PMK 162/PMK.010/2019 menetapkan kebijakan bea masuk tindakan pengamanan sementara (BMTPS) untuk tekstil dan produk…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

PEMERINTAH PASTIKAN KEAMANAN INVESTOR TERJAGA PASCA LEDAKAN BOM - Luhut: Aturan Tumpang Tindih Hambat Investasi

Jakarta-Menko Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan menegaskan, aturan tumpang tindih harus segera diatasi. Sebab berdampak besar pada terhambatnya…

Kemendag Pantau Fluktuasi Harga Jelang Natal dan Tahun Baru

NERACA Jakarta – Sejumlah pejabat Kementerian Perdagangan (Kemendag) akan memantau harga kebutuhan pokok di 121 pasar rakyat di 15 provinsi…

MESKI 80% PDB DOMESTIK SESUAI EKONOMI SYARIAH - BI: Posisi RI Lebih Banyak ke Konsumen

Jakarta-Meski Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk muslim terbanyak di dunia, perkembangan ekonomi syariah di negeri ini dinilai belum terlalu…