Industri Perkapalan Alami Penurunan Permintaan Kontainer

NERACA

Jakarta - Industri perkapalan secara global mengalami penurunan permintaan kontainer (container demand) selama beberapa tahun terakhir ini. Sementara, kapasitas supply meningkat sampai 11%. Hal ini menimbulkan ketidakseimbangan antara supply dan demand.

Sebagai sebuah industri, Senior General Manager Trade & Marketing Department Maersk Line Indonesia Erry Hardianto mengatakan, tentu saja ini merupakan hal yang sangat memprihatinkan. Karena memberikan ketidaknyamanan kepada para pemegang saham dan juga sebagai sebuah industri vital mungkin tidak dapat bertahan.

”Keadaan ini semakin memburuk karena dari tahun ke tahun industri ini sangat bergantung kepada ekuitas pemegang saham. Cash flow operasional dari perusahaan-perusahaan pelayaran sejenisnya tidak dapat membiayai investasi dari tahun 2007-2010,” ujarnya di Jakarta, Selasa (27/3).

Tahun-tahun belakangan ini, lanjut Erry, berbagai inisiatif dilakukan oleh perusahaan kontainer dan perkapalan guna mengurangi biaya pengeluaran dan meningkatkan keuntungan. Misalnya, slow steaming atau mengurangi konsumsi bahan bakar. Program inovasi dan optimisasi penggunan bahan bakar lainnya, seperti waste-recovery systems, meningkatkan efisiensi penggunaan bahan bakar dan pengurangan emisi, serta pengurangan biaya-biaya wajib (fixed cost).

Menurut Erry, inisiatif tersebut berhasil menurunkan cost-per-moved secara signifikan. ”Hanya saja inisiatif tersebut tergerus biaya bunker secara global yang meningkat lebih tajam lagi. Biaya bunker yang melonjak ditambah dengan inflasi global yang juga meningkat, membuat gap antara freight cost dan inflasi semakin timpang. Bila dibandingkan freight cost sekarang dan tujuh tahun yang lalu dengan biaya bunker dan inflasi, akan terlihat bahwa gap tersebut amat timpang,” lanjutnya.

Biaya Tidak Seimbang

Industri pelayaran berada pada titik yang tidak sehat. Inisiatif yang dilakukan industri pelayaran seperti pengembangan servis, kepastian pengiriman barang serta ramah lingkungan ternihilkan oleh biaya yang tidak seimbang.

Rate increase atau kenaikan harga merupakan salah satu langkah tegas yang diambil Maersk Line untuk memulihkan operasional perusahaan. “Kami sebagai market leader akan tetap mempertahankan kenaikan harga untuk untuk menstabilkan kinerja dan operasional perusahaan,” ungkap Presiden Direktur Maersk Line Indonesia, Jakob Friis Sorensen.

Melihat kondisi ini, Jakob mengambil langkah inisiatif yang diharapkan dapat memulihkan kondisi industri pelayaran. Salah satunya dengan menjalin hubungan bisnis dengan perusahaan perkapalan setara. ”VSA (vessel sharing agreement) ini akan mencakup daerah di West Mediterranean. Ini berarti akan ada pengurangan kapasitas sebesar 9%,” terangnya.

Related posts