Sritex Menuai Berkah dari Perang Dagang - Penjualan Ekspor Tumbuh

NERACA

Jakarta – Emiten garmen dan tekstil terintegrasi, PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) atau Sritex menuai berkah dari dampak perang dagang antara Amerika dan China. Pasalnya, permintaan ekspor produk tekstil dari Indonesia ke AS naik.”Pertumbuhan penjualan ke pasar ASmeningkat US$ 25 juta hingga US$ 30 juta [sekitar Rp 429 miliar, asumsi kurs Rp 14.300/US$]," kata Welly Salam, Sekretaris Perusahaan Sri Rejeki Isman di Jakarta, kemarin.

Menurutnya, adanya perang dagang membuat pasar AS membidik pasar lainnya selain China ke negara-negara kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Oleh karena itu, perang dagang memberikan peluang bagi Indonesia meningkatkan ekspor ke AS sebagai salah satu tujuan utama ekspor.

Tahun ini, selain mengoptimalkan kapasitas, efisiensi produksi dan inovasi produk, perseroan juga fokus meningkatkan pangsa pasar ekspor ke negara-negara eksisting. Sejauh ini, produk emiten dengan kode saham SRIL itu sudah diekspor ke 100 negara. SRIL juga tengah memperluas pasar baru ke negara di kawasan Afrika yang sudah mendapat fasilitas perdagangan melalui kerja sama pemerintah.

Kata Direktur Keuangan SRIL, Allan M Severino, ada bantuan dari pemerintah Indonesia bahwa ada kerja sama dengan negara Afrika, fasilitas goverment to government (G2G) sudah melakukan ini. Pada triwulan pertama 2019, SRIL mencatatkan penjualan sebesar US$ 316 juta, naik 18,3% dari periode yang sama tahun sebelumnya.

Laba tahun berjalan yang diatribusi kepada entitas induk turun 32,16% menjadi US$ 28,05 juta dari tahun sebelumnya US$ 41,3 juta. Kemudian berdasarkan hasil rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) SRIL memutuskan untuk membagikan dividen sebesar 5% dari laba bersih perseroan untuk tahun buku 2018 atau sebesar Rp 61,36 miliar kepada pemegang saham.”Rapat menyetujui pembagian dividen Rp 3 per saham," kata Presiden Direktur SRIL, Iwan Setiawan Lukminto.

Perseroan mengungkapkan, nilai dividen tahun ini lebih rendah dari tahun 2017 sebesar Rp 8/saham seiring dengan upaya perseroan fokus mengurangi utang dengan mengurangi besaran dividen. Tahun lalu, SRIL mencatatkan laba bersih sebesar US$ 84,5 juta atau setara dengan Rp 1,21 triliun (asumsi kurs Rp 14.300/US$), naik 24% dari capaian periode yang sama tahun sebelumnya US$ 68,03 juta. Sementara, penjualan naik 36,1% di angka US$ 1,03 miliar dari capaian tahun sebelumnya US$ 759 juta.

BERITA TERKAIT

NU Care Selamatkan TKI Eti dari Hukuman Mati di Saudi

Jakarta, Melalui program NU Peduli TKI, NU Care-LAZISNU selama tujuh bulan menghimpun dana untuk membantu pembebasan Eti, seorang TKI di…

Wakil Ketua MPR RI - Ideologi Pancasila Jaga Indonesia dari Perpecahan

Hidayat Nur Wahid Wakil Ketua MPR RI Ideologi Pancasila Jaga Indonesia dari Perpecahan  Jakarta - Wakil Ketua MPR RI Hidayat…

Perdana Dibuka Menguat 49,6% - Inocyle Technology Bidik Laba Tumbuh 80%

NERACA Jakarta –Debut perdana di pasar modal, perdagangan saham PT Inocycle Technology Group Tbk (INOV) dibuka menguat dengan mengalami kenaikan…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Catatkan Penjualan Lahan 25,3 Hektar - DMAS Masih Mengandalkan Kawasan Industri

NERACA Jakarta – Kejar target penjualan, PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS) masih fokus mengembangkan kawasan industri. Apalagi, perseroan menerima permintaan lahan…

Targetkan Pembiayaan Rp 1 Triliun - Astra Finacial Tawarkan Promo Bunga 0%

NERACA Jakarta – Proyeksi pasar otomotif dalam negeri yang masih lesu, menjadi tantangan bagi pelaku industri otomotif untuk terus menggenjot…

Perkenalkan Fortofolio Bisnis - Astra Tampil di 1st Pacific Expo Selandia Baru

NERACA Jakarta – Menunjukkan eksistensinya di dunia internasional, PT Astra Internasional Tbk (ASII) menjadi satu dari lebih dari 100 perusahaan…