Permintaan Naik Hingga 15%, Waspadai Banjir Buah Impor

NERACA

Jakarta - Permintaan buah-buahan secara nasional dalam lima tahun terakhir diperkirakan mengalami pertumbuhan berkisar 12-15% per tahun. Oleh karena itu, jika membanjirnya buah impor yang tidak dicegah maka akan mengakibatkan gangguan kesehatan dan memukul produksi buah petani lokal.

Anggota Komisi IV DPR RI Rofi Munawar mengingatkan pemerintah agar melakukan perlindungan maksimal terhadap konsumen dari buah impor yang tidak sesuai standar dan kini banyak membanjiri pasar buah lokal. "Perlu pengetatan tata niaga dan standardisasi buah impor agar tidak mudah merambah ke sentra produksi dan konsumen. Disamping itu pemerintah tidak boleh menyerahkan tata niaga impor pada mekanisme pasar karena akan memberi peluang banjirnya buah impor berkualitas rendah, meskipun berpenampilan menarik," ujarnya di Jakarta, Selasa (27/3)

Kebanyakan buah impor itu dipanen dalam kondisi belum matang agar tidak cepat rusak dan busuk selama proses pengiriman. Padahal, pemanenan buah sebelum matang akan sangat berpengaruh pada kandungan nutrisi dalam buah. Maka tidak heran juga, telah banyak ditemukan buah yang diawetkan dengan formalin, guna tampak lebih menarik, bagian kulitnya terlihat kencang dan segar meski sudah berbulan-bulan di panen.

Oleh karena itu, Rofi menambahkan, pemerintah harus melindungi masyarakat dari serbuan buah impor, mengingat konsumen sangat awam terkait kualitas dan mutunya. Pemerintah juga harus memperbaiki infrastruktur dan melakukan berbagai terobosan kreatif dalam mengedukasi masyarakat akan pentingnya mengonsumsi buah-buahan lokal.

Selama ini, konsumen membeli berdasarkan selera bukan nilai gizi, karena pada realitasnya berbagai temuan dan penelitian telah menunjukkan bahwa buah impor sangat membahayakan bagi kesehatan.

Sebelumnya, Kepala Pusat Karantina Badan Karantina Kementerian Pertanian Arifin Tasrif telah menyatakan sekitar 800 ribu ton buah impor buah yang tak laku alias kualitasnya buruk di negara asalnya, terdapat juga yang tidak layak serta mengandung bahan berbahaya. Sehingga, Indonesia menjadi keranjang sampah buah impor.

Harga Murah

Buah impor lebih diminati oleh konsumen karena harga yang relatif murah dan tampilan lebih menarik dibandingkan buah lokal, sementara manfaat dan nilai gizi buah lokal lebih besar daripada buah impor. Buah lokal selain karena tampilannya kurang menarik namun juga harganya yang lebih mahal akibat tingginya biaya logistik dan distribusi.

"Importir jangan hanya mengejar keuntungan semata dari buah impor karena adanya disparitas harga, namun juga harus memperhatikan perlindungan terhadap konsumen," lanjutnya.

Karena derasnya impor dan rendahnya ekspor maka tak heran defisit neraca perdagangan buah dan sayur Indonesia mencapai Rp15 triliun akibat impor yang jauh lebih besar ketimbang ekspornya. Defisit sebesar itu akibat volume impor buah dan sayur tahun lalu mencapai 1,162 juta ton sedangkan volumenya ekspornya mencapai 63 juta ton. Ekspor produk Indonesia umumnya masuk ke negara-negara Timur Tengah, sedangkan negara-negara lainnya masih sulit ditembus karena persyaratan yang terlalu ketat.

Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan, sepanjang tahun 2011 nilai impor buah-buahan tercatat mencapai 411,57 juta dolar AS dan Cina memberikan kontribusi sebagai importir terbesar selama ini.

Related posts