Bappenas: Pengangguran Usia Muda Masih Tinggi

NERACA

Jakarta - Tingkat pengangguran merupakan salah satu masalah besar yang dihadapi pembangunan nasional. Khusus untuk pengangguran kaum usia muda, meskipun mengalami penurunan, namun jumlahnya masih tetap tinggi yakni lebih dari 50% dari total pengangguran.

Berdasarkan data Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas) tingkat pengangguran terbuka (TPT) secara nasional menurun dari 11,24% atau sebanyak 11,9 juta orang pada tahun 2005 menjadi 6,56% atau sebanyak 7,7 juta orang pada tahun 2011, diikuti pula dengan TPT usia muda (15-29 tahun) yang menurun dari 25,32% atau sebanyak 9,3 juta orang menjadi 14,57% atau sebanyak 5,3 juta orang.

Demikian halnya TPT menurut pendidikan yang ditamatkan, menurun di semua tingkat kecuali lulusan SLTP. Lulusan Diploma dan perguruan tinggi penurunannya lebih cepat dari TPT lulusan SD dan SMA. "Pengangguran kaum muda semakin turun, tapi tetap saja tinggi, yakni lebih dari 50% dari total pengangguran," ungkap Direktur Tenaga Kerja dan Kesempatan Kerja Bappenas Rahmi Iryanti pada acara Aspirasi Kaum Muda Menghadapi Tantangan Global Ketenagakerjaan Muda di Jakarta, Selasa (27/3).

Jumlah tersebut harus diperhatikan karena dapat berdampak negatif pada fungsi sosial dan keamanan dalam masyarakat. Tidak hanya karena dampak tersebut, kaum muda memang harus dipersiapkan dalam menghadapi persaingan global. Apalagi, pada tingkat regional, Indonesia akan menghadapi pasar bebas ASEAN pada 2015 mendatang. Di mana, pada masa tersebut, aliran tenaga kerja bebas untuk keluar masuk negara-negara ASEAN.

Untuk itu, lanjut Rahma, kualitas tenaga kerja Indonesia perlu memiliki daya saing yang tinggi. Dengan melakukan program-program pelatihan yang sesuai dengan pasar tenaga kerja, atau demand driven.

Rahma menyebutkan, hal ini bukan mutlak menjadi tugas pemerintah saja. Tapi menjadi tugas seluruh komponen masyarakat. Ada beberapa tantangan yang dihadapi oleh pemerintah, seperti pendidikan dan pelatihan untuk dapat dipekerjakan, pemagangan serta kewirausahaan.

“Akses maupun informasi tentang peluang pendidikan dan pelatihan yang dapat mengantarkan kaum muda menuju cita-citanya belum merata di Indonesia. Peran swasta dalam memberikan input pendidikan dan peluang pekerjaan dibutuhkan,” tuturnya.

Selain itu, jumlah perusahaan yang menerima program pemagangan juga terbatas. Jumlah tenaga kerja yang membutuhkan pemagangan lebih banyak daripada jumlah perusahaan yang dapat menerima pemagangan. “Pemagangan sangat tergantung pada kepemimpinan dan keaktifan sekolah, serta keterbukaan swasta,” lanjut Rahma.

Sementara untuk program kewirausahaan, dia menyampaikan, bahwa hampir seluruh kementerian memiliki program tersebut. “Program ini akan lebih efektif jika tersedia data pemuda yang berminat untuk berwirausaha. Karena kapasitas masing-masing Pemerintah Daerah yang berbeda, seandainya ada peran swasta akan dapat mengisi kekurangan yang ada,” ujarnya.

Rahma juga mengakui, kondisi iklim dan lingkungan di beberapa kawasan Indonesia memang kurang mendukung. "Kalau lingkungan dan iklimnya tidak bagus akan memicu konflik. Yang perlu kita petakan adalah konflik, sehingga bagaimana pendapatan masyarakatnya stabil dan bisa lepas dari kemiskinan," jelasnya.

Related posts