Reformasi WTO Untuk Mengembalikan Kredibilitas

NERACA

Jakarta – Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menyampaikan reformasi terhadap Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) dapat mengembalikan fungsi lembaga tersebut terhadap penyelesaian sengketa dagang internasional. Dalam Pertemuan Tingkat Menteri G20, Enggartiasto Lukita mengatakan Indonesia secara khusus menyoroti peranan dan fungsi WTO, serta mendukung reformasi terhadap lembaga tersebut.

Mendag memaparkan, hal utama yang menjadi fokus dan prioritas saat ini adalah mekanisme penyelesaian sengketa (Dispute Settlement Mechanism) dan penetapan anggota badan majelis banding (Appellate Body).

"Kami mendukung dilakukannya reformasi. Secara khusus kami sampaikan Appellate Body yang kalau tidak diisi pada Desember ini, WTO akan kehilangan fungsinya untuk Dispute Settlement," kata Enggartiasto di Jakarta, disalin dari Antara.

Menurut Enggar, Indonesia memandang reformasi WTO sebagai hal penting untuk memulihkan sistem perdagangan multilateral dan mengembalikan kredibilitas WTO. Ia menilai tingginya tensi perang dagang antara AS dengan China saat ini membuat kepercayaan di antara negara-negara G20 atas pelaksanaan sistem multilateral menjadi sangat rendah.

Oleh karena itu, penguatan peran WTO melalui reformasi harus dilakukan agar harapan terhadap keberadaan lembaga ini tidak makin mengecil dan membahayakan kondisi perdagangan global.

Dalam kesempatan sebelumnya, Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan Iman Pambagyo mengatakan saat ini peran WTO atas negosiasi serta pengawasan sudah tidak berjalan dengan baik. Peran lainnya yaitu penyelesaian sengketa juga terancam tidak berfungsi karena kosongnya anggota Appellate Body di WTO yang bertugas mengatasi persoalan sengketa. "Anggota Appelate Body itu harus ditetapkan segera. Kalau tidak ada sampai Desember, maka fungsi sistem penyelesaian sengketa akan berhenti," kata Iman.

Selain reformasi pada tubuh WTO, Enggar memaparkan Forum G20 berupaya untuk menurunkan tensi perang dagang yang berpotensi menganggu kinerja perdagangan global. "Seharusnya kita turunkan tensi itu karena pada dasarnya kalau itu terus berjalan maka tidak ada satupun negara yang diuntungkan," ungkap Mendag.

Enggartiasto Lukita mengingatkan pentingnya reformasi WTO untuk memperkuat kerja sama multilateral yang mulai ditinggalkan sejumlah negara dalam melaksanakan komitmen perdagangan. "WTO sebagai badan yang kita dirikan bersama tidak berjalan dengan baik dan bisa disfungsi. Ini merupakan 'warning' dan persoalan bersama," kata Enggar.

Enggar mengatakan tingginya tensi perang dagang antara AS dengan China saat ini membuat kepercayaan di antara negara-negara G20 atas pelaksanaan sistem multilateral menjadi sangat rendah.

Untuk itu, penguatan peran WTO melalui reformasi harus dilakukan agar harapan terhadap keberadaan lembaga ini tidak makin mengecil dan membahayakan kondisi perdagangan global. "Ini persoalan besar bagi dunia dan G20, maka diminta betul peranan kita untuk mengatasi ini. Tidak boleh ada diskriminatif," katanya.

Enggartiasto Lukita mengatakan forum G20 berupaya untuk menurunkan tensi perang dagang yang berpotensi menganggu kinerja perdagangan global. "Kita mengharapkan ada deeskalasi perang dagang, jadi diturunkan tensinya," kata Enggar.

Enggar mengatakan upaya ini dilakukan agar pertumbuhan perdagangan global tidak makin menurun seperti yang diproyeksikan oleh Organisasi Perdagangan Dunia atau WTO. WTO memproyeksikan perdagangan global pada 2019 hanya tumbuh sebesar 2,6 persen, atau menurun dibandingkan periode 2017 sebesar 4,0 persen dan 2018 sebesar 3,6 persen. "Bisa jadi apabila kondisinya seperti ini, mereka kembali melakukan penyesuaian proyeksi pada semester dua 2019," kata Enggar.

Untuk itu, upaya menurunkan tensi perang dagang yang makin memanas antara AS dan China ini harus dilakukan agar seluruh dunia tidak mengalami kelesuan perdagangan. "Indonesia sudah menyampaikan mengenai penyamaan persepsi, tapi kita juga harus berselancar dari dua kepentingan," kata Enggar.

Pertemuan Tingkat Menteri G20 mengenai Perdagangan dan Ekonomi Digital berlangsung selama 8-9 Juni 2019 dan membahas perkembangan ekonomi terkini. Beberapa diantaranya adalah pertukaran data ekonomi digital, penurunan tensi perang dagang, pengurangan subsidi untuk perdagangan yang lebih adil, reformasi peran WTO dan pentingnya kerja sama multilateral.

BERITA TERKAIT

Investasi Obligasi untuk Kemandirian Finansial

  NERACA   Jakarta - Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Luky Alfirman mengatakan peluncuran Savings Bond Ritel…

Hari Pajak dan Reformasi Perpajakan

    Oleh: Johana Lanjar Wibowo, Pemeriksa Pajak Pertama KPP PMA Satu   Tanggal 14 Juli ditetapkan sebagai "Hari Pajak."…

Angkat Tema Sosial, Amrus Natalsya Adakan Pameran Tunggal untuk Terakhir Kalinya

Angkat Tema Sosial, Amrus Natalsya Adakan Pameran Tunggal untuk Terakhir Kalinya NERACA Jakarta - Amrus Natalsya yang merupakan seorang pelukis…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Sumbang 74%, Ekspor Produk Manufaktur Masih Melejit

NERACA Jakarta – Industri pengolahan masih memberikan kontribusi terbesar terhadap nilai ekspor nasional. Pada periode Januari-Mei 2019, sektor manufaktur mampu…

Pasar Industri Plastik dan Karet Masih Prospektif

NERACA Jakarta – Industri plastik dan karet merupakan sektor manufaktur yang dinilai masih memiliki peluang pasar cukup besar. Produk yang…

Bulog Diminta untuk Pastikan Berasnya Berkualitas Baik

NERACA Jakarta – Bulog harus memastikan berasnya berkualitas baik supaya bisa bersaing dengan beras dari pihak swasta yang juga disalurkan…