Agar Petani Lebih Dominan Gunakan Pupuk Organik

NERACA

Jakarta – Petani di Kabupaten Lebak diminta menggunakan pupuk organik untuk usaha pertanian pangan, palawija, dan hortikultura guna mencegah kerusakan tanah. "Kita minta petani dapat menggunakan pupuk organik untuk kesuburan lahan pertanian," kata Kepala Bidang Sarana Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Kabupaten Lebak Nana Mulyana di Lebak, disalin dari Antara di Jakarta.

Menurut dia, penggunaan pupuk organik dapat meningkatkan produksi dan produktivitas. Sebab, lahan pertanian pangan berkelanjutan (LP2B) tidak mengalami kerusakan juga produk pertanian menyehatkan dengan tidak terkontaminasi zat kimia.

Petani juga diuntungkan, karena bisa menekan biaya produksi dibandingkan pupuk kimia. Biaya pupuk kimia sebesar Rp8 juta, sementara organik hanya Rp5 juta/hektare. "Kami tidak henti-hentinya mengajak petani agar menggunakan pupuk organik dibandingkan kimia," katanya menjelaskan.

Menurut dia, penggunaan pupuk kimia secara berkelanjutan tentu akan menimbulkan kerugian bagi petani, karena akan menyebabkan terjadi kerusakan kontur tanah. Apabila, kontur tanah tersebut mengalami kerusakan dipastikan produksi dan produktivitas pangan berkurang.

Di samping itu, juga rawan terhadap serangan hama penyakit tanaman. Karena itu, pihaknya meminta petani agar menggunakan pupuk organik dengan memanfaatkan kotoran hewan ternak itu.

Pemerintah daerah menyalurkan bantuan kepada kelompok tani agar mengembangkan pupuk organik melalui program unit pengolah pupuk organik (UPPO). Bantuan tersebut, seperti pembuatan rumah kompos, kandang ternak, mesin pengelolaan pupuk organik, dan ternak kerbau.

Namun, pihaknya juga mengapresiasi dari 12 kelompok tani yang mendapatkan program UPPO di antaranya dua kelompok sudah mandiri dan mampu memproduksi pupuk organik. "Kami berharap semua kelompok tani yang mendapat program UPPO mampu memproduksi pupuk organik secara mandiri, sehingga memenuhi kebutuhan pupuk," katanya.

Ia mengatakan, pihaknya telah melaksanakan pelatihan bagaimana kelompok tani agar mampu memproduksi pupuk organik. Pelatihan memproduksi pupuk organik itu guna memenuhi ketersediaan pupuk organik dan tidak tergantung kepada pupuk kimia.

Produksi pupuk organik hanya memanfaatkan sampah-sampah untuk dibuat kompos maupun kotoran ternak hewan, seperti sapi, kerbau, kambing, dan unggas. "Kami mendorong semua petani di 28 kecamatan agar menggunakan pupuk organik," katanya menjelaskan. Ketua Kelompok Tani Suka Bungah Kecamatan Cibadak, Kabupaten Lebak Ruhyana mengatakan, pihaknya sudah beberapa tahun terakhir ini mengembangkan pupuk organik.

Sebelumnya, kata dia, petani menggunakan pupuk kimia, seperti urea, ZA, dan SP-36, padahal pupuk kimia tidak ramah lingkungan dan merusak kontur tanah. "Kami di sini setiap musim tanam padi menggunakan pupuk organik, karena sangat menguntungkan," katanya.

Penggunaan pupuk organik di kalangan petani saat ini meningkat, hal itu terlihat dari data serapan pupuk organik PT Petrokimia Gresik yang mencapai 700.000 ton per tahun dalam kurun tiga tahun terakhir (2016-2018) .

"Artinya, kesadaran petani sudah mulai besar, namun demikian masih perlu terus ditingkatkan," kata Manager Humas Petrokimia Gresik Muhammad Ihwan di Gresik, Jawa Timur.

Oleh karena itu, kata dia, pihaknya akan terus mendorong penggunaan pupuk organik di kalangan petani, salah satunya melalui kampanye pemupukan berimbang 5:3:2, yaitu 500 kg pupuk organik, 300 kg pupuk NPK, dan 200 kg pupuk urea untuk setiap satu hektare lahan sawah. "Kami juga masih memiliki rekomendasi pemupukan berimbang untuk komoditas pertanian lainnya," katanya.

Ihwan mengatakan penyampaian pemupukan berimbang dilakukan di setiap program penyuluhan, di mana pada tahun 2018 Petrokimia Gresik telah melakukan 448 demonstration plot (demplot) berbagai komoditas pangan dan 1.000 lebih kegiatan sosialisasi di seluruh Indonesia.

"Kami juga memiliki empat unit Mobil Uji Tanah yang membantu petani dalam menguji tingkat kesuburan tanah agar didapat rekomendasi pemupukan yang tepat. Mobil ini beroperasi di lima provinsi sentra pangan nasional seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, Yogyakarta, Bali, dan Nusa Tenggara Barat (NTB)," katanya.

Ia mengatakan upaya ini juga perlu didukung berbagai pihak, terutama dalam hal penyampaian informasi yang tepat mengenai fungsi dan manfaat pupuk organik dalam budi daya pertanian.

BERITA TERKAIT

Sika Indonesia Resmikan Pabrik Ketiga di Cibitung

NERACA Bekasi – Perusahaan bahan kimia untuk konstruksi dan industri, Sika semakin mengukuhkan bisnisnya di Indonesia dengan meresmikan pabrik ketiga…

PRS, Solusi Sementara PGN untuk Alirkan Gas Bumi di Jawa Tengah

NERACASemarang - Dengan berdirinya sejumlah kawasan industri baru seperti di Kendal dan Ungaran, menjadi salah satu pertimbangan bagi investor dan…

Menteri Susi Prakarsai Dialog Pemberantasan IUU Fishing

NERACA New York - Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti bersama Utusan Khusus Sekretaris Jenderal PBB untuk Kelautan, Peter Thomson,…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Sika Indonesia Resmikan Pabrik Ketiga di Cibitung

NERACA Bekasi – Perusahaan bahan kimia untuk konstruksi dan industri, Sika semakin mengukuhkan bisnisnya di Indonesia dengan meresmikan pabrik ketiga…

PRS, Solusi Sementara PGN untuk Alirkan Gas Bumi di Jawa Tengah

NERACASemarang - Dengan berdirinya sejumlah kawasan industri baru seperti di Kendal dan Ungaran, menjadi salah satu pertimbangan bagi investor dan…

Menteri Susi Prakarsai Dialog Pemberantasan IUU Fishing

NERACA New York - Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti bersama Utusan Khusus Sekretaris Jenderal PBB untuk Kelautan, Peter Thomson,…