Daya Tahan Investor

Oleh : Ahmad Nabhani

Wartawan Harian Ekonomi NERACA

Kenyakinan para analis pasar modal bahwa, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) tidak akan memberikan pengaruh signifikan terhadap pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) mulai terpatahkan. Pasalnya, ketakukan para pelaku pasar akan terus memanasnya eskalasi aksi penolakan harga BBM dinilai sudah mengkhawatirkan. Imbasnya investor mulai siap-siap aksi ambil untung dan tidak mau berlama-lama menanamkan portofolio investasinya di bursa lokal.

Tengok saja, perdagangan indeks BEI Senin (26/3) awal pekan kemarin, sejak perdagangan sesi pertama hingga akhir penutupan pasar indeks mulai terkoreksi. Tercatat indeks ditutup melemah 9,854 poin (0,24%) ke level 4.031,705. Padahal sejak diawal perdagangan, indeks dibuka menguat 9,39 poin atau 0,23% ke posisi 4.050,95. Artinya, sentimen negatif kenaikan harga BBM lambat tapi pasti sudah mulai memberikan imbas terhadap pergerakan IHSG yang sudah mulai meninggalkan level 4.000 point.

Lagi-lagi ketakutan investor mengenai efek dari demo anti kenaikan BBM menjadi pemicunya, kendati beberapa analis tetap percaya diri bila dampak tersebut hanya berlangsung jangka pendek dengan pertimbangan akan terbantu momentum pengumuman laporan kinerja keuangan emiten 2011 yang segera di rilis jelang akhir pekan ini.

Walau demikian, apapun bentuk ancaman dan dampaknya tidak boleh disepelekan dan sebaliknya justru harus diwaspadai. Pertimbangannya berbagai kemungkinan bisa saja terjadi dibalik pristiwa kenaikan harga BBM, mulai dari yang kecil hingga yang terburuk dan termasuk potensi penolakan harga BBM yang mengarah pada ancaman merusak roda perekonomian nasional.

Oleh sebab itu, alangkah baiknya bila investor tetap mempertimbangkan potensi yang terburuk dibalik kenaikan harga BBM dengan mengalih ke investasi sektor lain. Namun sikap khawatiran yang berlebihan yang ditonjolkan investor juga bisa memberikan pengaruh negatif bagi kondisi pasar. Maka jalan tengahnya, adalah sikap waspada dan mempertimbangkan secara matang risiko ke depan mejadi penting untuk keberlanjutan investasi.

Perlu diakui, dalam dunia investasi terciptanya keamanan yang kondusif menjadi hal yang mutlak dan tidak bisa ditawar-tawar lagi. Karena apalah artinya pertumbuhan ekonomi yang positif jika tidak didukung dengan kondisi kemanan dan suasana politik yang aman dan nyaman.

Bagaimanapun juga, hal yang dibutuhkan bagi investor pasar modal bukan meraih keuntungan berlipat ganda dari transaksi saham. Namun keberlanjutan berinvestasi untuk jangka panjang. Pengalaman menghadapi krisis ekonomi 1998, ancaman terorisme hingga isu penolakan BBM beberapa priode akan menjadi uji daya tahan investor pasar modal dalam mengamankan investasinya, apakah mereka tetap bertahan atau sebaliknya tidak tahan banting.

Maka poin penting adalah sejauhmana pelaku pasar tetap bertahan menghadapi berbagai gelombang isu dibalik kenaikan harga BBM, dan hanya pengalaman yang akan membuktikan hal tersebut.

Related posts