Bayan Gali Lubang Tutup Lubang Bayar Utang - Cari Pinjaman Hingga US$ 900 Juta

NERACA

Jakarta - Perusahaan tambang batu bara, PT Bayan Resources Tbk (BYAN), menegaskan akan melakukan pembiayaan kembali atau refinancing utang sebesar US$ 410 juta di tahun ini. Menurut Direktur Utama BYAN, Eddie Chin Wai Fong, dana untuk refinancing ini berasal dari pinjaman yang tengah dicari perseroan antara US$ 750 juta-US$ 900 juta.

“Dana pinjaman untuk ekspansi, proyek baru, dan refinancing. Untuk itu, kami terus menjaga debt to equity ratio (DER) di bawah dua kali,” ujar Eddie di Jakarta, Senin (26/3). Selain refinancing, perseroan juga menargetkan produksi dan penjualan batu bara mencapai 20 juta ton pada 2012.

Sedangkan harga rata-rata penjualan sebesar US$ 95 juta, atau hampir sama dengan tahun lalu. Saat itu, perseroan memproduksi batu bara sebesar 15,5 juta ton dan penjualan sebesar 16 juta ton. Maka, untuk menggenjot produksi tahun ini perseroan menganggarkan belanja modal sebesar US$ 200 juta.

Pada 2011, perseroan telah mengakuisisi sembilan konsensi tambang batu bara dan diperkirakan memiliki cadangan batu bara sekitar 980 juta ton dan sumberdaya sekitar 4 miliar ton. Kalori batu bara perseron 3.000 kalori-7.000 kalori. "Sekarang tinggal tiga lagi yang belum rampung akuisisinya," tambah Eddie.

Terkait kerja sama antara BYAN dengan White Energy Ltd, perusahaan tambang Australia, yang terancam bubar, Eddie mengatakan, hal itu masih status quo untuk sementara. Sebagaimana diketahui, perselisihan keduanya terjadi terkait rencana keduabelah pihak mengembangkan pabrik pengolahan batu bara di Kalimantan Timur.

Untuk itulah, keduanya sepakat membentuk perusahaan patungan, yakni PT Kaltim Supacoal. Dalam klausul perjanjian, perseroan memiliki 49% saham dan 51% saham dikuasai White Energy. Pabrik pengolahan batu bara pun dibangun dan beroperasi di bawah kendali Kaltim Supacoal.

Manajemen White Energy sebelumnya menyatakan tengah berunding dengan sejumlah perusahaan tambang asal Indonesia, Afrika Selatan dan Amerika Serikat (AS). Tak hanya itu, White Energy juga mengundang para investor strategis itu untuk berkontribusi dalam pembangunan pabrik Kaltim Supacoal.

Akhirnya, konflik kepentingan ini berujung di Pengadilan Tinggi Negara Singapura. Alasannya, BYAN diduga melakukan pelanggaran terhadap perjanjian yang mengatur usaha patungan briket batu bara (coal briquette joiunt venture deed). Pada penutupan perdagangan saham Senin (26/3) kemarin, saham BYAN ditutup naik 50 poin menjadi Rp 17.950 per lembar saham. Volume perdagangan mencapai 14.000 kali dengan nilai transaksi sebesar Rp 250, 8 juta. [ardi]

Related posts