Laporan Kinerja Emiten Bantu Angkat Indeks

NERACA

Jakarta - Demonstrasi besar-besaran menolak kenaikan bahan bakar minyak (BBM) Bersubsidi yang rencananya berlangsung Selasa (27/3) ini berimbas ke pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Kepala Riset MNC Securites, Edwin Sebayang menilai bahwa investor sangat mengantisipasi dampak demonstrasi terhadap pasar dengan cara mengurangi posisi portofolio mereka yang sudah untung.

"Artinya, investor lebih memilih uang tunai sambil melihat perkembangan selanjutnya," ujar dia di Jakarta, Senin (26/3). Dia juga melihat, untuk jangka pendek, pergerakan indeks akan dibayangi oleh sentimen negatif dari kenaikan BBM.

Kendati demikian, hal ini bisa diimbangi dengan momentum pengumuman laporan kinerja emiten atau perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2011 pada minggu ini hingga awal bulan depan. “Laporan keuangan emiten dapat menjadi penahan turunnya indeks," tambahnya.

Di tempat terpisah, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI), Budi Frensidy memprediksi indeks akan terkonsolidasi di kisaran 4.000-4.040 andai kata investor tidak mempedulikan situasi politik jelang kenaikan BBM pada 1 April mendatang.

Kalaupun terpengaruh, lanjut Budi, investor akan melakukan profit taking atau aksi ambil-untung yang menyebabkan indeks terkoreksi di level 4.000-4.005. “Mereka (investor) akan wait and see. Ini membuktikan investor kita semakin matang. Saya kira yang terpenting hasil rapat paripurna antara DPR dengan Pemerintah. Apakah akan menaikkan atau tidak,” jelasnya kepada Neraca, Senin (26/3).

Budi menilai, jika pemerintah dan DPR sepakat menaikkan BBM sebesar Rp 1.500 per liter maka akan berdampak positif pada APBN, dan hasil pemotongan subsidi tersebut disalurkan kepada masyarakat kurang mampu melalui bantuan langsung sementara masyarakat (BLSM).

Sebaliknya, kalau pemerintah tidak jadi menaikkan BBM, maka harus dicarikan alternatif agar “lubang” APBN tidak melebar. “Cara mudahnya mengeluarkan obligasi (surat utang) sebanyak-banyaknya. Ini untuk menutup defisit anggaran. Dampak negatifnya sektor infrastruktur bakal terbengkalai,” tegas pengamat pasar modal ini.

Sisi lain, sambung dia, pemerintah akan sulit mengejar target penerimaan pajak karena dianggap sudah optimal. Kemudian, pemangkasan anggaran Kementerian dan Lembaga (K/L) tidak juga dinilai Budi tidak akan berpengaruh.

“Mau darimana lagi? Dividen BUMN juga sama saja. Kebanyakan, mereka malah ingin mengurangi dividen dengan alasan ekspansi atau bikin proyek baru,” tukasnya. Namun keduanya sependapat, bahwa pelemahan indeks bisa diimbangi dengan laporan keuangan emiten yang akan keluar akhir minggu ini.

Sebagai informasi, pada penutupan perdagangan saham kemarin, IHSG terseret ke zona merah atau turun 9,85 poin atau 0,24% ke posisi 4.031,71. IHSG sempat mencapai level tertingginya 4.061,14 dengan level terendahnya 4.011,93. Meskipun begitu, kapitalisasi pasar BEI meningkat cukup signifikan. Tercatat, hingga 13 Maret, kapitalisasi pasar BEI tercatat sudah melampaui 6,7% atau senilai Rp 3,375 triliun, dibanding penutupan perdagangan saham akhir tahun lalu yang mencapai Rp 3,570 triliun. [ardi]

Related posts