BLU Kehutanan Baru Salurkan Rp800 M - Belum Maksimal

NERACA

Jakarta—Badan Layanan Umum (BLU) Kehutanan telah merealisasikan penyaluran dana untuk pembangunan dan pengelolaan Hutan Tanaman Rakyat (HTR) sekitar Rp800 miliar. "Meski demikian, realisasi penyalurannya di atas Rp800 miliar dari total dana sebesar Rp3 triliun,” kata Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan di Jakarta,26/3

Menurut Zulkifli, dana itu telah disalurkan untuk membantu petani membangun HTR dengan menanam pohon kayu dan mengembangkan tanaman pangan melalui sistem tumpang sari. Namun diakui penyaluran dana BLU yang dikelola Pusat Pembiayaan Pembangunan Hutan (P3H) masih belum lancar. " Dana itu disalurkan untuk kelompok masyarakat di dalam dan sekitar kawasan hutan di luar Jawa," tambahnya

Lebih jauh kata Zulkifli, Dana BLU ini bunganya murah. Ketentuannya setiap kelompok dapat pinjaman Rp8 juta per hektare dengan luasan areal minimal 15 hektar. “Pengembalian pinjaman pada tahun ke delapan atau saat panen kayu," ucapnya

Lembaga ini mulai 2012 juga bisa membiayai pembangunan hutan yang dikelola masyarakat, seperti hutan rakyat, hutan desa, dan hutan kemasyarakatan.

Dikatakan Zulkifli, jika petani atau koperasi butuh lebih Rp8 juta boleh meminjam dana lewat program Kredit Usaha Rakyat (KUR). "Kalau petani tanam sengon atau jabon dan di bawah tegakan utama mengusahakan tanaman kopi serta butuh modal maksimal Rp20 juta per hektare bisa memperoleh pinjaman lewat KUR. Kredit ini juga tanpa agunan," jelasnya

Sebelumnya, menteri menegaskan kawasan hutan mampu menopang ketahanan pangan nasional dengan produksi bahan pangan sampai 9,4 juta ton per tahun. Produksi itu dihasilkan dari kegiatan tumpang sari tanaman pangan di kawasan hutan seluas 16 juta hektare. "Kita juga menyediakan lahan 200.000 hektare di Kalteng, Kaltim, dan Kalbar untuk pengembangan areal pertanian. Kementerian Pertanian tinggal menentukan lokasi mana yang paling cocok untuk pengembangan produk pertanian karena mereka yang lebih mengetahui,” paparnya

Selama ini, menurut mantan Sekjen PAN ini, kawasan hutan mampu menghasilkan produk pangan, seperti umbi-umbian, umbat rotan, buah, madu, sagu, jamur, kacang-kacangan, jagung, dan beras. Dengan potensi yang besar tersebut, katanya, Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menempatkan masalah pangan sebagai program strategis, selain kawasan hutan sebagai sumber energi dan air.

Selain tanaman tumpang sari, kata Zulkifli, kawasan hutan juga terbuka untuk pengembangan peternakan (silvopastura) dan perikanan (silvifisheri). "Yang utama, kawasan hutan tak berubah dengan beragam tanaman mulai dari kayu jati, sengon, jabon sampai meranti untuk produksi jangka panjang. Pengembangan domba etawa, sapi, dan kambing diharapkan membantu rakyat untuk jangka menengah dan tanaman padi, jagung, dan kacang kedelai untuk penghasilan jangka pendek," pungkasnya. **cahyo

Related posts