Hartadinata Bagikan Dividen Rp 32,2 Miliar

NERACA

Jakarta –Rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) menyetujui untuk membagikan dividen tunai kepada pemegang saham sebesar Rp32,2 miliar untuk tahun buku 2018.“Jumlah dividen yang dibagikan untuk tahun buku 2018 lebih besar dibandingkan dengan jumlah dividen yang dibagikan untuk tahun buku 2017,”kata Direktur Keuangan sekaligus Coorporate Secretary HRTA, Deny Ong di Jakarta, kemarin.

Pada tahun lalu, perseroan membagikan dividen sebesar Rp27,63 miliar atau sekitar 24% dari laba bersih 2017. Besaran dividen tersebut setara dengan Rp6 per saham.Sementara untuk tahun buku 2108, perseroan memberikan dividen tunai sebesar Rp32,2 miliar atau Rp7 per saham. Disebutkan, jumlah dividen yang dibagikan setara dengan 26% dari laba bersih 2018 sebesar Rp123,8 miliar.

Lebih lanjut, sisa laba bersih digunakan untuk cicilan dana cadangan sebesar Rp24,7 miliar dan model kerja perseroan sebesar Rp66,8 miliar yang dicatat sebagai laba yang ditahan.Sebagai informasi, emiten produsen dan penyedia perhiasan emas ini menargetkan utilisasi produksinya menjadi 35% hingga akhir 2019. Adapun utilisasi produk HRTA baru sebesar 31,6% di tahun 2018.

Kata Direktur Utama PT Hartadinata Abadi Tbk, Sandra Sunarto, saat ini yang paling rendah adalah produksi kalung, maka perseroan akan lebih fokus menggenjot produksi kalung. Dirinya menjelaskan, perusahaan lebih fokus menggenjot produksi kalung karena produksi seluruhnya menggunakan mesin sehingga tidak banyak Sumber Daya Manusia (SDM) diperlukan.

Sebagai gambaran, HRTA memiliki empat pabrik. Tercatat di tahun 2018, total utilisasi produksi keempat pabrik tersebut sebesar 31,6% atau rata-rata produksi per bulannya 789 kg. Padahal kapasitas per bulan bisa mencapai 2.500 kg. Sementara itu, untuk saat ini utilisasi produksi sudah meningkat, menjadi rata-rata 800 kg per bulan.

Tiga dari empat pabrik memproduksi casting, yakni pabrik Sukamenak 185, pabrik Sukamenak 179A, dan pabrik Kopo Sayati 165. Produk casting yang dimaksud seperti cincin, kalung, giwang, liontin, dan produk dengan desain yang dipesan secara khusus. Di sisi lain, terdapat satu pabrik yakni pabrik Sapphire yang khusus memproduksi kalung mesin dan produk-produk berdesain sederhana. Pabrik inilah yang akan menjadi fokus pengembangan utilisasi produksi, sebab utilisasinya baru mencapai 11% dengan rata-rata produksi 118 kg per bulan.

BERITA TERKAIT

Kantungi Empat Proyek Baru - TOTL Pede Target Kontrak Baru Capai Rp 2 Triliun

NERACA Jakarta – Mengandalkan proyek-proyek pembangunan gedung dan infrastruktur lainnya, tidak menjadi kekhawatiran bagi PT Total Bangun Persada Tbk (TOTL)…

IPO Almazia Ditaksir Oversubscribed 3 Kali

NERACA Jakarta – Jelang pencatatan sahamnya di Bursa Efek Indonesia, PT Sinarmas Sekuritas selaku penjamin emisi penawaran umum saham perdana…

MAPI Lunasi Pokok Obligasi Rp 205,45 Miliar

NERACA Jakarta – Pangkas beban utang dan juga menjaga kesehatan keuangan, PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) telah melunasi pokok obligasi…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Perbaiki Kinerja Keuangan - INAF Kembangkan Strategic Business Unit

NERACA Jakarta – Dorong pengembangan bisnis lebih ekspansif, PT Indofarma Tbk (INAF) fokus mengembangkan strategi pendirian strategic business unit (SBU)…

Melalui Proyek ISED - Siapkan SDM Unggul di Manufaktur dan Pariwisata

NERACA JAKARTA - Indonesia telah memasuki era digitalisasi dan Industri 4.0. Bersamaan dengan hal tersebut, pemerintah Indonesia telah meluncurkan “Making…

Geliatkan KEK Tanjung Lesung - KIJA Cari Investor Potensial Kembangkan Wisata

NERACA Jakarta – Bangkit dari musibah gempa dan tsunami Banten yang terjadi pada 2018 lalu, PT Kawasan Industri Jababeka Tbk.…