Saatnya Masyarakat Bijak Bermedia Sosial

Oleh : Lisa Khairunisa, Pemerhati Media Sosial

Saat ini hampir setiap orang sangat memungkinkan untuk saling terhubung bahkan tanpa saling bertatap muka, dahulu orang tua kita tentu harus bersabar hingga berminggu – minggu untuk mendapatkan balasan surat dari sahabat pena-nya. Namun saat ini kurang dari 1 detik, kita semua sudah dapat mengirmkan teks, audio, foto dan video melalui aplikasi media sosial.

Konektifitas media sosial tidaklah terbatas, bisa diakses oleh siapa saja dan bahkan gratis. Namun dampaknya media sosial juga bisa menjadi boomerang jika tidak dimanfaatkan sebagaimana mestinya, seperti penipuan, penyebaran berita bohong / hoax sampai pada ungkapan provokatif yang membuat hubungan sosial di dunia nyata semakin runyam.

Ekses penggunaan media sosial selama hiruk – pikuk kampanye pemilu pada waktu lalu, sangatlah terasa dalam kehidupan sosial kita. Secara tidak langsung masyarakat terbelah secara dikotomis menjadi “kita” dan mereka.

Sehingga apabila ada pihak yang berseberangan sudah pasti dia adalah lawan kita, padahal bisa jadi dia yang menjadi lawan kita adalah sahabat karib sejak lama, namun karena perbedaan pilihan, hubungan kekerabatannyapun retak bahkan mendadak menjadi lawan debat kusir.

Semua orang yang ada diseberang pilihan, bisa menjadi orang asing secara tiba – tiba, hingga patut untuk dicurigai dan dijauhi. Tak sedikit pula yang berubah menjadi galak di sosial media, dengan menyebarkan beragam berita yang menyerang pihak lawannya.

Jagad media sosial juga tak kebal terhadap hinaan, caci maki, hingga sumpah serapah bernada provokatif terhadap kubu tertentu, sila ke 3 pancasila seakan hanya tulisan semata, warganet di berbagai media sosial semakin terpolarisasi.

Negara mengendus bahaya dan khalayak rama kemudian terperanjak ketika pemerintah mengumumkan pembatasan sebagian layanan media sosial selama 4 hari terhitung mulai dari 22 – 25 Mei 2019. Para pelaku usaha yang memerlukan akses internet pun terganggu, hingga berdampak pada omzet harian mereka.

Semua itu merupakan sebab dari pergeseran fungsi dan rasa, media sosial yang awalnya digunakan sebagai sarana komunikasi antarpersonal, belakangan makin banyak dimanfaatkan untuk keperluan lain, seperti bisnis, berita dan politik.

Lalu bertambah repot ketika banyak orang menggunakannya untuk menyemai konten negatif seperti fake news, provokasi dan terorisme. Sejak saat itulah negara mulai membuat regulasi untuk membatasi pemakaian media sosial, hal tersebut dikarenakan konten yang berpotensi mengganggu keamanan dan ketertiban.

Pengguna Media Sosial yang memiliki rasa ingin tahu yang lebih cenderung lebih mudah terjebak dalam berita yang ada di media sosial yang belum terverifikasi kebenarannya, parahnya berita tersebut dibagikan tanpa rasa bersalah sedikitpun.

Dalam bermedia sosial tentu masyarakat harus menyadari bahwa dunia maya merupakan hutan belantara berita dan informasi. Untuk itulah para warganet (netizen) harus pandai – pandai dalam memilah mana informasi yang substansial dan mana yang hanya sekedar sensasional.

Dalam tahun politik, produksi konten provokatif dan hoax amatlah sulit untuk diredam, banyak yang saling melempar fitnah, saling mencela dan saling menjelekkan. Padahal tindakan seperti itu bukanlah tata krama masyarakat Indonesia, hal itu juga bukan nilai – nilai islami yang kita miliki.

Media sosial di Indonesia juga tak lepas dari sisi ambiguitas, di satu sisi literasi digital kita masih rendah, namun di sisi lain pemerintah juga harus mengantisipasi perilaku warganet (netizen) yang cenderung melanggar undang – undang informasi dan transaksi elektronik, terkait dengan pelarangan penyebaran konten kekerasan, hasutan, ujaran kebencian dan SARA yang cukup sensitif di Indonesia.

Pembatasan media sosial merupakan pil pahit yang harus ditelan, hal tersebut tentu cukup menghambat para warganet untuk memanfaatkan media sosial secara positif, seperti mengunggah foto atau video promosi atau melakukan transaksi dengan pembeli.

Namun Pil pahit yang diresepkan pemerintah juga bertujuan untuk menyehatkan media sosial itu sendiri. Tentu kita dan masyarakat haruslah menjaga fungsi media sosial pada khittahnya agar dapat menjadi media dalam mempertemukan yang jauh, bukan lantas memisahkan.

Media sosial sudah semestinya menjadi jembatan konektivitas yang mengukuhkan, bukan lantas menghancurkan persatuan di Indonesia dengan konten provokatif, hoax, SARA, dan lain sebagainya.

BERITA TERKAIT

Energy Watch: Saatnya Dorong Peningkatan Pelayanan PLN

    NERACA   Jakarta - Upaya PLN untuk mengaktifkan kembali aliran listrik setelah 6 jam padam dipandang Direktur Eksekutif…

Saatnya Laksanakan Pasal 33 UUD 1945 Secara Benar

Saatnya Laksanakan Pasal 33 UUD 1945 Secara Benar NERACA  Jakarta - Guru Besar Universitas Padjajaran Bagir Manan mengajak semua pihak…

74 Tahun Indonesia Merdeka: Kaum Milenial Harus Bijak di Era Digital

  Oleh : Irfan Nur Hidayat, Pengamat Komunikasi Massa   Saat ini Indonesia telah merdeka selama 74 tahun lamanya, semangat…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Wujudkan Cita-cita Bangsa dengan Kontribusi Pajak

  Oleh: Sarah Faizatun Nisa, Staf Ditjen Pajak Menginjak usia 74 tahun, Indonesia diharapkan menjadi negara yang semakin maju dan…

Hoax Bukan Budaya Indonesia

  Oleh : Rizal Adi Pradana, Pemerhati Komunikasi Masyarakat             Sebelum mengurai tentang konsep hoax, perlu dipahami terlebih dahulu tentang…

Stop Generalisasi Isu Papua, Masyarakat Diharapkan Bijak dalam Bersikap

  Oleh : Rahmat Siregar, Pengamat Sosial Politik    Demonstrasi berujung kericuhan terjadi di Manokwari dan Sorong, Papua Barat pada…