Sekitar 8.500 Hektare Lahan Kritis Jabar Akan Direhabilitasi

Sekitar 8.500 Hektare Lahan Kritis Jabar Akan Direhabilitasi

NERACA

Bandung - Sekitar 8.500 hektare lahan kritis yang tersebar di Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Garut, Sumedang, Tasikmalaya, dan Majalengka, Jawa Barat (Jabar), akan direhabilitasi.

Rehabilitasi dilakukan setelah Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung Cimanuk-Citanduy dan Perum Perhutani Divisi Regional Jawa Barat-Banten membuat kontrak kerja sama di Kantor Balai Diklat Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Kadipaten, Kabupaten Majalengka.

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat melalui Wakil Gubernur Jawa Barat Uu Ruzhanul Ulum di Majalengka, dikutip dari Antara, kemarin, mengapresiasi kerja sama untuk merehabilitasi lahan kritis tersebut.

Menurut dia, program rehabilitasi adalah salah satu bentuk kolaborasi untuk mewujudkan Jabar Juara Lahir dan Batin."Ini menjadi bukti adanya kolaborasi untuk menangani lahan kritis antara Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Kementerian, pemerintah daerah, masyarakat, termasuk yang membanggakan adalah adanya keterlibatan dari pondok pesantren," kata Uu.

Dia mengatakan pola rehabilitasi akan menggunakan teknik agroforestri dan setiap hektare akan ditanam 400 pohon berjenis kayu-kayuan seperti pohon pinus, mahoni, dan pohon buah-buahan. Menurut Uu Ruzhanul, rehabilitasi lahan kritis perlu ditangani dengan serius dan dilakukan oleh ahlinya. Karena itu, dia mendukung penuh kehadiran Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) vokasi di bidang pertanian, kehutanan, lingkungan hidup, dan sumber daya air (SDA).

Apalagi, kata Uu Ruzhanul, lahan kritis di Jawa Barat terus meluas setiap tahun. Padahal, program dan anggaran untuk menanggulangi lahan kritis telah dicanangkan. Dia menilai, lahan kritis hadir akibat ulah manusia yang kurang peduli terhadap lingkungan.

"Artinya, sekalipun populasi manusia bertambah, pembangunan terus bergerak karena memang dibutuhkan, tetapi kalau tangan manusia tidak merusak. Jika menjaganya dengan program, Insya Allah bencana lahan kritis dan banjir tidak akan terjadi," kata dia.

"Oleh karena itu, Pemerintah Provinsi Jawa Barat mendorong suksesnya program penanaman kembali lahan kritis. Kita ingat sebuah pepatah orang tua, yaitu lebih baik mewariskan mata air kepada anak cucu kita daripada mewariskan air mata," tambah Uu Ruzhanul.

Sementara itu, Direktur Jenderal PDASHL Kementerian LHK RI, Ida Bagus Putera Parthama, mengungkapkan bahwa lahan kritis di Indonesia mencapai 14,3 juta hektare. Menurut dia, porsi cukup besar berada di Jawa Barat, khususnya Daerah Aliran Sungai (DAS) Cimanuk-Citanduy. "Dan dampak lahan kritis ini menimbulkan berbagai bencana dengan kerugian materil dan nonmateril," katanya.

Putera menjelaskan, apabila lahan kritis berada di DAS, daerah tersebut bisa dikatakan tidak sehat. DAS tidak sehat, lanjut dia, akan menyebabkan debit air sungai utama sangat tinggi manakala hujan turun, tetapi debit air akan sangat rendah ketika musim kemarau tiba.

"Jadi, ketika musim hujan dia kelebihan air tidak bisa menampung, sehingga terjadi banjir. Di musim kering karena waktu musim hujan tidak bisa menampung mata air juga tidak keluar air, sehingga kekeringan," kata dia.

Selain itu, DAS yang tidak sehat akan menggerus kualitas tanah dan menyebabkan hadirnya bencana alam seperti tanah longsor."DAS yang tidak sehat menjauhkan rayat dari kesejahteraan," ujar dia.

Dalam penilaian Putera, inti problem lahan kritis berada pada tata ruang dan seharusnya pembangunan disesuaikan dengan kondisi DAS yang ada, sehingga tidak mengubah lansekap atau bentang alam.

Oleh karena itu, Kementerian LHK menjalin kerja sama dengan Kementerian ATR/BPN RI untuk membangun kesepahaman sehingga daerah yang ingin melakukan revisi tentang tata ruang mesti mempertimbangkan atau memperhatikan area DAS. Ant

BERITA TERKAIT

PNM: Pentingnya Perlindungan Konsumen Bagi UMKM

PNM: Pentingnya Perlindungan Konsumen Bagi UMKM NERACA Jakarta - Potensi pengembangan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) untuk pertumbuhan, kesejahteraan,…

Fachry Ali : Pemindahan Ibu Kota Jadi Awal Periode “Post Java” - FGD KLHS Pemindahan Ibu Kota

Fachry Ali : Pemindahan Ibu Kota Jadi Awal Periode “Post Java”   FGD KLHS Pemindahan Ibu Kota NERACA Jakarta - Pengamat…

Pertamina EP Tanggap Darurat Karhutla

Pertamina EP Tanggap Darurat Karhutla NERACA Jakarta – PT Pertamina EP, anak usaha PT Pertamina (Persero) sekaligus kontraktor kontrak kerjasama…

BERITA LAINNYA DI EKONOMI DAERAH

Kopitu: Pemerintah Belum Optimal Terhadap UMKM

Jakarta-Pemerintah dinilai belum optimal memberikan perhatian terhadap usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sehingga belum memberikan dampak yang berarti. Padahal,…

Tiga Sumber Mata Air PDAM Sukabumi Semakin Turun - Perlu Studi Tentang Air Baku

Tiga Sumber Mata Air PDAM Sukabumi Semakin Turun Perlu Studi Tentang Air Baku NERACA Sukabumi - Menyusutnya tiga sumber mata…

Komitmen Hero Supermarket Penuhi Kebutuhan Masyarakat Indonesia - Grand Opening di Apartemen Casa Domaine

Komitmen Hero Supermarket Penuhi Kebutuhan Masyarakat Indonesia Grand Opening di Apartemen Casa Domaine NERACA Jakarta – Hero Supermarket sebagai pelopor…