Tantangan Pemenang Pilpres

Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi., Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo

Rematch antara Jokowi – Prabowo di pilpres 2019 kembali dimenangkan Jokowi yang kali ini bersama Ma’ruf Amin. Meski masih menyisakan konflik karena dugaan adanya kecurangan dan menunggu hasil di MK tapi KPU pada 21 Mei telah menetapkan Jokowi – Ma’ruf Amin sebagai pemenang pilpres 2019 mengalahkan Prabowo – Sandiaga Uno. Terlepas tahapan yang ada dan juga kemenangan Jokowi - Ma’ruf Amin pastinya pesta demokrasi kali ini sepertinya perlu dievaluasi, tidak hanya karena ada banyak korban KPPS yang meninggal tapi juga ketidaksiapan menang - kalah dari kedua petarung yang kali ini terjadi rematch antara Jokowi vs Prabowo. Meskipun kali ini ada dua kubu yang mengklaim menang (akhirnya versi KPU dimenangkan Jokowi, meski juga menunggu hasil MK), di sisi lain ada ancaman terkait stabilitas sospol dan karenanya ramadhan – lebaran diharapkan meredam panasnya iklim sospol pasca 22 Mei sesuai jadwal dari pengumuman real count KPU dan juga hasil dari MK. KPU sendiri tidak bersikap terkait klaim kemenangan dan menunggu hasil MK. Harus juga diakui iklim sospol cenderung memanas dan isu people power dan makar menjadi sentimen negatif.

Mengacu hasil real count KPU maka tantangan Jokowi – Ma’ruf Amin semakin berat termasuk merangkul kubu yang kalah. Pesta demokrasi tidak bisa terlepas dari harapan terhadap perbaikan ekonomi makro dan tentu arahnya yaitu kesejahteraan. Sinyal positif pesta demokrasi memberikan peluang terhadap respons pasar dan karenanya tidak ada alasan sentimen negatif. Kemenangan versi real count 21 Mei diyakini memberi signal positif atas makro ekonomi termasuk daya tarik investasi. Rumor pesta demokrasi rawan memicu intrik dan relevansinya dengan wait and worry harus ditepis, meski di sisi lain tetap ada keterkaitan antara pesta demokrasi dan era perubahan menuju perbaikan makro ekonomi - kesejahteraan. Meski demikian, perlu juga mencermati warning IMF terkait target pertumbuhan ekonomi global yang diturunkan dari 3,6% di tahun 2018 menjadi 3,3% di tahun 2019. Belum lagi memanasnya kembali perang dagang AS-Cina.

Mewaspadai Pasar

Keyakinan terkait respon pasar bisa terlihat dari sejumlah indikator makro ekonomi dan tentu ini berpengaruh positif bagi pemerintah. Salah satu indikator yang menjadi signal positif yaitu IHSG. Jika mencermati pergerakan IHSG dengan metode event study maka dapat disimpulkan sejak tahun 1999 ternyata pesta demokrasi memberi respons positif terhadap pergerakan IHSG. Sentimen positif ini memberikan peluang bagi profit taking dan ini harus diwaspadai jika menimbulkan efek sesaat yang rawan terhadap investor di pasar modal. Bahkan, sejumlah pengamat memprediksi IHSG di tahun politik 2019 di akhir tahun bisa di level 7.000. Argumen yang mendasari sukses pilpres mempengaruhi sentimen positif pasar, tidak hanya pasar riil, tetapi juga pasar modal yang didukung keyakinan dari BEI dan OJK bahwa pesta demokrasi tidak mempengaruhi pasar modal. Memanasnya iklim sospol pasca pilpres diprediksi hanya sesaat dan pasca pengumuman pemenang pilpres versi KPU akan menguatkan kepastian iklim sospol bagi pelaku pasar.

Data menunjukkan bahwa pada pemilu 2004, 2009 dan 2014 ternyata IHSG berada pada zona hijau meski pada tahun 2008 sebelum pilpres 2019 IHSG sempat anjlok akibat ada krisis global. Mengacu indikator makro ekonomi 4 bulan terakhir diyakini bahwa pesta demokrasi 2019 kali ini tidak menimbulkan wait and see. Bahkan, rumor wait and worry juga hilang. Dapat dipastikan pemerintahan pasca pilpres berjalan mulus dan ini penting untuk mempercepat ekonomi dengan membentuk kabinet. Selain itu, respon positif ini harus memberi profit bagi ekonomi mikro dan investor di pasar modal. Jangan sampai investor yang cermat mendulang profit taking pada momentum tertentu justru berakibat fatal terhadap investor kecil yang tidak responsif terhadap momentum tertentu, termasuk misal hasil pesta demokrasi yang telah diumumkan sehari lebih cepat 21 Mei kemarin.

Selain IHSG, sebenarnya indikator respons positif pasar juga bisa dilihat dari laju inflasi dan tentu ini sangat rentan untuk menilai kondisi makro. Inflasi Maret 2019 mencapai 0,11% yang dipicu karena harga tiket pesawat sehingga triwulan pertama 2019 laju inflasi 0,35%. Kontribusi dari imbas harga tiket terhadap inflasi sebesar 0,03% sehingga sektor Transportasi, Komunikasi dan Jasa Keuangan mengalami inflasi 0,1% dan menyebabkan andil sektor ini 0,02%. Inflasi Maret 0,11 persen menjadi bukti tentang respons pasar terkait pesta demokrasi. Meski demikian, inflasi April 2019 sebesar 0,44% menjadi warning terkait inflasi musiman selama ramadhan – lebaran karena kumulatif inflasi Januari – April 2019 telah mencapai 0,80%. Hal ini tidak bisa terlepas dari pengaruh harga tiket (0,03%) dan bawang putih (0,04%).

Demokrasi

Pasca kemenangan Jokowi versi KPU, pastinya pada pesta demokrasi kali ini tidak ada lagi kekhawatiran yang mengarah kepada wait and see termasuk rumor tentang wait and worry. Fakta ini mengindikasikan pelaku usaha - bisnis memberi apresiasi positif dan semakin yakin pesta demokrasi berjalan lancar sampai penetapannya 21 Mei kemarin. Setidaknya, kelancaran pasokan barang memberi keyakinan bahwa tidak ada keraguan dari pelaksanaan pesta demokrasi kali ini. Meski sejumlah harga melonjak tetapi tidak menjadi sentimen negatif terhadap pesta demokrasi karena ada momentum ramadhan. Tidak bisa dipungkiri bahwa ada ancaman inflasi musiman yaitu selama ramadhan - Idul Fitri dan natal - tahun baru. Peran TPID sangat penting untuk meredam gejolak harga. Meski ada operasi pasar namun biasanya imbasnya hanya sesaat.

Data BPS inflasi sepanjang 2018 mencapai 3,13% dan lebih rendah jika dibanding tahun 2017 yaitu 3,61%. Pilkada serentak 2018 tidak berdampak sistemik terhadap ancaman inflasi, begitu juga keyakinan tahun politik dalam pileg dan pilpres 2019. BI menegaskan inflasi 2018 ada di target 2,5%-4,5%. Mencermati perkembangan iklim makro maka bisa dipastikan bahwa pesta demokrasi kali ini tidak memicu efek terhadap psikologi sosial - ekonomi dan psikologi politik secara keseluruhan. Hal ini harus dikaji secara cermat sebab psikologi sosial - ekonomi - politik merupakan signal untuk kondisi stabilitas. Rumor wait and see bisa berubah menjadi wait and worry jika psikologi sosial -ekonomi-politik kian memanas. Semua bersyukur karena indikasi itu semua tidak ada dan artinya pesta demokrasi ini yang terjadi rematch Jokowi vs Prabowo dan kembali dimenangkan Jokowi memberi peluang terhadap perbaikan dan kesejahteraan meski ada sedikit kegalauan akibat klaim kemenangan dari kedua kubu dan demo pasca 21 Mei.

BERITA TERKAIT

MK 100 Persen Siap Hadapi Gugatan Pilpres

MK 100 Persen Siap Hadapi Gugatan Pilpres NERACA  Jakarta - Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Anwar Usman mengatakan, pihaknya telah siap…

Geliat Bisnis Properti Pasca Pilpres - Vila Ratnamaya Bali Berhasil Terjual 50%

NERACA Jakarta -  Di tengah lesunya pasar properti dan suhu politik yang memanas, ternyata tidak memengaruhi pemasaran Vila Ratnamaya Bali…

Mantan Wakil Presiden - Masih Banyak Tantangan Lebih Besar Daripada Pilpres

Try Sutrisno Mantan Wakil Presiden Masih Banyak Tantangan Lebih Besar Daripada Pilpres Jakarta - Mantan wakil presiden Try Sutrisno meminta…

BERITA LAINNYA DI OPINI

KPK Tidak Konsisten dengan Temuan Hasil Audit BPK

Oleh: Maqdir Ismail, Advokat di Jakarta Dalam simpulan “Laporan Hasil Pemeriksaan Investigatif Dalam Rangka Penghitungan Kerugian Negara Atas Dugaan Tindak…

Bukan Sekedar Ritual

  Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi., Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo    Idul Fitri kemarin diwarnai pilpres yang situasinya…

Pemilu Bukan Berarti Tidak Bersatu

Oleh : Elan Lazuardi, Pemerhati Masalah Sosial Politik   Sebagai bangsa yang besar, tentu Indonesia harus mampu menunjukkan kepada dunia,…