Indocement Bidik Penjualan Tumbuh 10% di Tahun 2012 - Potensi Proyek Infrastruktur Pemerintah

NERACA

Jakarta – Perusahan produsen semen, PT Indocement Tunggal Perkasa Tbk (INTP) menargetkan pendapatan pada tahun ini tumbuh 10% dari pendapatan ditahun 2011 tercatat sebesar Rp 15,8 miliar.

Direktur Keuangan Indomencent, Tju Lie mengatakan, peningkatan pendapatan tahun depan seiring dengan pembangunan infrastruktur yang bakal tumbuh pesat, “Kita targetkan pendapatan tahun ini bisa melesat sebesar 8-10% dari pendapatan 2011 sebesar Rp 15,8 miliar atau tumbuh dibandingkan tahun 2010 mencapai Rp 13,8 miliar,”katanya di Jakarta, Senin (26/3).

Menurutnya, permintaan semen curah ditahun ini akan meningkat tinggi seiring dimulainya proyek-proyek infrastruktur dari pemerintah. Tak ayal, Indocement percaya bahwa permintaan domestik akan tumbuh positif dan terlebih lagi dengan adanya penbangunan infrastruktur yang akan menarik masyarakat untuk membangun seiring mengikuti pertumbuhan kelas menengah. Oleh sebab itu, dirinya menilai kondisi akan memicu efek bola salju pada konsumsi domestik

Kata Tju Lie, keyakinan perseroan bisa mencatatkan pendapatan tumbuh 10% didasarkan pada pertumbuhan penjualan selama dua bulan pertama tahun 2012 sebesar 19,4% YTD Februari. Perseroan juga menggangarkan belanja modal sebesar 150-180 juta euro. Nantinya belanja modal tersebut akan digunakan untuk pembangunan pabrik semen atau brown field di Citereup dengan kapasitas produksi 4,4 juta ton per tahun.

Saat ini, lanjut Tju Lie, pembangunan pabrik di Citeureup sudah memasuki perencanaan tahap akhir. Di samping itu, Indocement juga dalam tahap akhir studi kelayakan untuk membangun dua pabrik semen baru (green field) dengan kapasitas produksi masing-masing sebesar 2-2,5 juta ton per tahun, satu pabrik di Jawa tengah dan yang lainnya di luar Jawa.

Sebagai informasi, belanja modal tahun 2011 adalah sekitar Rp 604,3 miliar, termasuk biaya untuk pembangunan unit penggilingan semen (cement mills) baru di Pabrik Citeureup dengan kapasitas 1,9 juta ton yang diperkirakan akan selesai pada akhir tahun 2013.

Naikkan Harga

Dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), memaksa perseroan harus menaikkan harga jual semen di pasar, “Kami akan mencoba menyesuaikan harga jual dengan kenaikan harga BBM. Beberapa tahun lalu harga BBM naik,dan kita coba naikkan harga jual agar tidak dibebani," ujar Direktur Keuangan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk, Thomas Suryadi.

Pada tahun lalu, kenaikan biaya di hampir setiap aspek operasional terutama kenaikan biaya energi yang berasal dari harga batubara dan bahan bakar minyak telah berdampak kinerja perseroan. Namun dengan penjualan domestik yang kuat, usaha efisiensi biaya dan fokus yang jelas dari perseroan dalam optimalisasi pembelian serta supply chain pada seluruh aspek operasional, maka perseroan memperoleh dampak positif terhadap kinerjanya di 2011.

Pada tahun 2012, Indocement memasang target penjualan tumbuh di atas industri semen sekitar 8%-10% pada 2012 akan didukung dari utilisasi kapasitas baru 84%. Perseroan mencatatkan laba bersih sebesar Rp3,60 triliun pada 2011 dibandingkan tahun sebelumnya Rp3,22 triliun. Pendapatan perseroan mencapai Rp13,88 triliun pada 2011 dari tahun sebelumnya Rp11,31 triliun.

Indocement juga menurunkan volume penjualan ekspornya sebesar 41,5% menjadi 0,6 juta ton di tahun 2011 dari 1,0 juta ton di tahun 2010untuk memenuhi permintaan pasar domestik yang tinggi. Oleh karena itu, total volume penjualan perseroan tumbuh sebesar 15,2% menjadi 16,0 juta ton dari tahun sebelumnya 13,9 juta ton. (didi)

Related posts