TMII Riwayatmu Kini

NERACA

Taman The Window Of The World” seolah mengingatkan kita pada taman kebanggaan Indonesia, yakni Taman Mini Indonesia Indah.

Taman Mini Indonesia Indah (TMII) awalnya merupakan proyek monumental yang diprakarsai oleh almh. Ibu Tien Soeharto. Taman ini mempunyai dampak lingkungan dan sosial yang besar. Ribuan rumah penduduk terpaksa harus digusur untuk diambil lahannya sebagai proyek ini. Biaya yang besar juga dikucurkan. Belum lagi represi pemerintah pusat ke pemerintah daerah untuk membangun anjungan provinsi masing-masing dengan material dan rancangan terbaiknya. Namun, sekarang, Anjungannya bahkan seolah dirawat seadanya.

Dahulu, TMII merupakan tempat liburan dan rekreasi favorit warga Jakarta dan sekitarnya. Ada niatan mulia yang mendasari pembangunan ini. Bagaimana Presiden Soeharto dan Ibu Tien bersusah payah “memasarkan” Indonesia dan membuat citra Indonesia sebagai negara dan bangsa yng berbudaya luhur di dunia beserta keanekaragaman yang bisa dinikmati dalam satu tempat.

Tetapi, setelah puluhan tahun, TMII menerima kenyamanan berupa fasilitas dan dana yang tak terbatas untuk pengembangannya seperti pembangunan Teater Imax Keong Emas, Teater 3D, Sky Lift, Aeromovel dan sebagainya, taman ini juga harus menerima kenyataan akan lengsernya Soeharto, terutama krisis ekonomi, TMII juga ikut kena hantaman badai krisis persis sebuah perusahaan multinasional. Komplek-komplek bangunan monumental di komplek TMII dan sekitarnya juga mulai rusak. Dulu museum Bayt Al-Qur’an menjadi suatu rujukan untuk mempelajari mushaf Qur’an dan tampilan bangunan pun megah cemerlang. Begitu juga dengan museum pribadi Suharto - Museum Purna Bakti. Kini, semua komplek tersebut kondisinya memprihatinkan setelah krisis 1998.

Sekarang banyak perubahan yang terjadi di TMII, apalagi setelah pemekaran wilayah RI yang menghasilkan jumlah provinsi yang bertambah dan hilangnya Timor Timur, maka TMII pun menyesuaikan diri. Anjungan-anjungan provinsi baru mulai dibangun oleh pemerintah daerah masing-masing. Bangka Belitung, Kepulauan Riau, adalah sekian dari anjungan yang ditambah. Akibat pembaruan juga, saat ini TMII dilengkapi Taman Budaya Tionghoa lengkap dengan bangunan dan elemen khas China. Taman ini menjadi daya tarik baru, karena gerbangnya saja sudah menarik lengkap dengan detail dan kerapian pengerjaan serta nafas Tiongkoknya jauh lebih kental dan orisinil ketimbang atraksi Kampung China di Kota Wisata di Cibubur yang cuma artifisial.

Teater Imax juga masih punya daya tarik meski film edukasi yang diputar kurang variatif. Setelah tahunan setia dengan film-film Indonesia, akhirnya Keong Emas ini juga memutar film luar negeri sebagai bentuk modernisasi seperti Harry Potter dan Spiderman. Ada pula film-film kolosal dengan target audience semua umur. Hanya saja fasilitasnya kurang memuaskan terutama bangku-bangku yang sudah mulai tak nyaman dengan sandaran dan dudukan yang busanya menipis.

Skylift juga masih jadi primadona. Dengan membayar Rp 25.000 per orang, kita bisa menumpang skylift untuk satu jalur bolak balik. Hanya saja, pemandangan dari atas masih kurang mengenakkan, terutama karena kurang terawatnya TMII makin jelas terlihat dari atas. Hal ini seolah mengamini teori Darwin yang berujar, “Survival of the fittest” artinya, “Yang paling pas dengan kondisi saat ini, maka itulah yang bertahan hidup”.

Hal tersebut dibuktikan dengan jumlah pengunjung museum yang ada di wilayah TMII. Ternyata museum di sini cukup banyak seperti Museum Perangko, Museum Listrik, Museum Transportasi, Museum Reptil dan lain sebagainya. Kini semua mulai terbengkalai dan rata-rata hanya didatangi sekelompok siswa-siswa SD sebagai bagian dari pelajaran. Alhasil, sedikitnya atensi dari publik, maka makin sedikit juga atensi dari pengelola. Akhirnya bangunan dan fasilitasnya mulai rusak tergerus masa.

TMII bukan berarti tidak berbenah. Sejumlah wahana seperti Taman Air Snowbay hingga Wahana Balon Udara menjadi daya tarik baru dan memang benar, rata-rata pengunjung membludak di hari Sabtu dan Minggu sekadar untuk refreshing. Selebihnya, wahana lain seolah hidup segan mati tak mau.

Dan yang terakhir adalah persoalan marketing. Seberapa banyak dari Anda yang mengakses website resmi TMII? Apakah Anda tahu, acara-acara apa saja yang tengah berlangsung di TMII? Promo apa saja yang dikeluarkan TMII sehingga menarik minat pengunjung?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut mewakili posisi marketing TMII di kalangan umum, khususnya kalangan menengah. Ya, kalangan menengah sepertinya tidak menjadi target pasar TMII, karena kalangan menengah tentu perlu informasi-informasi tersebut untuk mau datang. Dan target yang paling potensial adalah turis internasional. Bagaimana bisa TMII dikenal jika website-nya saja tidak pernah di-update? Contohlah Malaysia atau Singapura yang mengembangkan potensi daerah wisatanya lewat internet maupun iklan di TV Kabel. Seharusnya TMII bisa belajar dari cara tersebut agar tidak dilupakan oleh sejarah.

BERITA TERKAIT

PAHLAWAN MASA KINI

Sejarawan JJ. Rizal (kanan) bersama Ketua Badan Pengkajian MPR RI Bambang Sadono saat menjadi pembicara diskusi Pahlawan Zaman Now di…

TV Kabel Kini Migrasi Menggunakan Jaringan Internet

Para pengusaha TV Kabel yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha TV Kabel Indonesia (Aptekindo) mulai melakukan proses migrasi perubahan dari TV…

Siswa di Daerah Pun Kini Lebih Percaya Diri - Menaklukan Soal Matematika

Percaya atau tidak, terkadang sumpah serapah ada kalanya bisa menjadi kenyataan. Hal inilah yang menggambarkan pengalaman Adit, guru privat di…

BERITA LAINNYA DI WISATA INDONESIA

Kota Ramah Turis, Jakarta Masih di Posisi 56 Dunia

Sebuah penelitian baru dari Travelbird agen perjalanan wisata yang berbasis di Belanda, mengungkap daftar 100 Kota Ramah Turis. Dilansir dari…

Menikmati Sensasi Danau Sentarum di Kalimantan Barat

Akhirnya sampai juga di puncak Bukit Tekenang. Sejak tahun 2011 silam, setidaknya saya sudah empat atau lima kali berkunjung ke…

Ini Tempat yang Asik Untuk Berfoto di Kendal

Anda hobi selfie. Kalau iya, datang saja di tempat wisata Radja Pendapa, yang ada di Dusun Segrumung, Desa Meteseh, Kecamatan…