Mendag: Ada Pedagang Manfaatkan Momentum Lebaran - PENYEBAB KENAIKAN HARGA BAHAN POKOK

Jakarta-Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengakui masih ada beberapa pelaku usaha yang kerap memanfaatkan momentum bulan Ramadan dan Lebaran untuk mencari keuntungan semata. Salah satunya yakni dengan cara menaikkan harga bahan pokok di tingkat masyarakat. "Ada beberapa (pelaku usaha) yang memanfaatkan yang menaikkan harga," ujarnya di Jakarta, Senin (27/5).

NERACA

Menurut Mendag, salah satu penyebab para pedagang dan pelaku usaha menaikkan harga lantaran permintaan pada saat Ramadan dan Lebaran sedang tinggi-tingginya. Sehingga, kondisi itu kerap dimanfaatkan sejumlah pedagang untuk mendapat keuntungan besar.

Dia pun berharap para pedagang dan pengusaha yang memanfaatkan momen bulan puasa untuk mencari keuntungan tinggi ini bisa segera sadar. Sebab, menurutnya bulan puasa harusnya dimanfaatkan untuk menebar kebaikan, bukan justru mencari untung besar. "Kita doakan saja dosanya diampuni. Semoga tidak mengulangi lagi," ujarnya seperti dikutip Merdeka.com.

Dia menuturkan, pihaknya akan melakukan pemantauan terhadap para pedagang yang menaikkan harga tersebut. Jika terbukti ada unsur kesengajaan melakukan kenaikan maka akan dilakukan tindakan.

Di sisi lain, Kemendag juga melepas beberapa jajaran pejabatnya untuk melakukan blusukan ke pasar melakukan pemantauan harga di daerah. Jika ditemukan harga yang sangat tinggi, maka pemerintah siap mengeluarkan stok pangannya untuk operasi pasar.

"Ini adalah tahun ketiga dalam Bulan Suci Ramadhan jajaran kemendag turun langsung ke pasar, kita mempunyai dua catatan sejarah keberhasilan, ini adalah tahun ketiga dalam memasuki menjelang hari Lebaran kita langsung memantau ke pasar," ujarnya.

Enggar juga memastikan ketersediaan barang dan harga bahan pokok selamaRamadan hingga Lebaran mendatang. Dari hasil pemantauan di 34 kota, menurut dia, harga pangan relatif terkendali. "Seluruh eselon I sudah turun, melihat, melakukan koordinasi dengan kepala dinas, dan juga turun langsung ke pasar. Alhamdulillah semua aman. Ini adalah tahun ketiga ketersediaan bahan pokok dan harga terkendali," tutur dia.

Menurut Enggar, permintaan saat ini memang meningkatlantaran sudah cairnya tunjangan hari raya (THR) pegawai negeri sipil (PNS) dan sebagian perusahaan. Namun, kondisi pasokan kebutuhan pangan dengan permintaan sejauh ini masih seimbang. "Kalau pun terjadi deflasi, bukan karena masyarakat tidak ada pembelian, tapi karena suplai dan demand terjadi keseimbangan, yaitu harga terkendali. Saya juga tanya ke pengusaha ritel itu (konsumsi) terjadi peningkatan," ujarnya.

Konsumsi Rumah Tangga

Sebelumnya pemerintah mematok pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini sebesar 5,3%. Adapun salah satu cara untuk mencapai pertumbuhan tersebut, pemerintah tengah berupaya mendorong konsumsi rumah tangga.

Menurut Mendag, konsumsi rumah tangga pada kuartal II akan menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi. Sebab, salah satu faktornya adalah meningkatnya konsumsi secara musiman, karena pada Mei dan Juni merupakan Ramadan dan Lebaran.

Kemudian, konsumsi juga meningkat karena Tunjangan Hari Raya (THR) karyawan rata-rata cair pada Mei dan Juni. "(Pertumbuhannya berapa?) Saya belum bisa duga, tetapi cukup akan berikan andil yang positif (bagi pertumbuhan ekonomi)," ujarnya.

Enggar mengatakan, konsumsi rumah tangga sempat terganggu lantaran adanya kerusuhan yang disebabkan sekelompok massa pada saat 22 Mei 2019 kemarin. Akibat kerusuhan itu, berdampak pada penutupan sejumlah toko ritel. "Tapi Alhamdulillah semua sudah lewat. Kalau berkelanjutan pasti akan terganggu tetapi sekarang kan sudah situasi sudah lebih kondusif," ujarnya.

Karena itu, Mendag meminta kepada seluruh masyarakat agar tidak melakukan hal-hal yang dapat menyebabkan kerugian secara bersama. Dengan begitu, konsumsi rumah tangga pun akan meningkat dan berdampak ke pertumbuhan ekonomi Indonesia. "Kita dorong, makanya jangan ada kerusuhan. Ini dengan THR dibagikan, kan suasana aman nyaman maka konsumsi belanja meningkat," ujarnya.

Tidak hanya itu. Menkeu Sri Mulyani Indrawati mengatakan, pencairan THR PNS akan menggenjot pertumbuhan ekonomi pada kuartal II tahun ini mencapai 5,1%, lebih tinggi dibanding kuartal-I sebesar 5,07%. "Kemarin masih 5,07% kita berharap akan tetap terjaga di atas 5% bahkan mendekati 5,1%," ujarnya di Kementerian Keuangan, Jumat (24/5).

Dia mengatakan, penyaluran THR pemerintah pusat dan daerah akan memberi dampak secara langsung pada konsumsi jika dibelanjakan secara langsung. Walaupun tidak dibelanjakan secara langsung, pengeluaran juga tetap dilakukan saat menghabiskan waktu liburan bersama keluarga.

"Dampaknya kepada perekonomian tentu adalah dari sisi konsumsi. Biasanya terjadi adalah first round effect kemudian second round effect. First round effect apabila mereka membelanjakan keseluruhan THR itu, berarti Rp 20 T di tingkat pusat, dan seluruh pemda nanti kita hitung jumlah totalnya, maka pengaruhnya adalah langsung," ujarnya.

Secara terpisah, Wakil Ketua Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) Arif Budimanta mengatakan selama ini pertumbuhan ekonomi nasional masih bertumpu pada konsumsi, baik konsumsi rumah tangga (RT) maupun konsumsi pemerintah.

"Sejak 1990-an, struktur perekonomian masih di konsumsi rumah tangga. Di sisi lain, konsumsi pemerintah juga belum optimal dalam mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia. Kontribusi konsumsi pemerintah terhadap perekonomian terbatas di kisaran 9% dan ini tidak bisa tumbuh lebih tinggi lagi," ujarnya di Jakarta, kemarin.

Berdasarkan kondisi tersebut, sudah saatnya pemerintah mulai bergeser mengandalkan ekspor dan investasi untuk menjadi tulang punggung perekonomian nasional. Hal ini juga sesuai dengan mandat Presiden Jokowi yang mengatakan kunci pertumbuhan ekonomi saat ini hanya ada dua, yakni kenaikan ekspor dan investasi.

Arif menyampaikan, selain mendorong peningkatan ekspor dan investasi, pemerintah juga harus memberi ruang yang lebih luas terhadap UMKM. Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UMKM, sebanyak 98,7% usaha di Indonesia merupakan usaha mikro, yang menyerap 89,17% tenaga kerja domestik serta berkontribusi sebanyak 36,82% terhadap PDB Indonesia. Kendati demikian, perannya masih sangat kecil dalam kegiatan ekspor dan investasi sehingga masih memiliki potensi yang sangat besar.

Dari simulasi yang dilakukan oleh KEIN, jika 10% saja dari UMKM yang ada mengalami kenaikan kelas, hal tersebut dapat mendorong pertumbuhan ekonomi nasional tembus 7%, bahkan mencapai 9,3% (yoy). bari/mohar/fba

BERITA TERKAIT

Libur Lebaran, Transaksi Elektronik Mandiri Syariah Tumbuh

    NERACA   Jakarta - Selama libur lebaran Mei 2019, transaksi kanal elektronik (electronic channel) PT Bank Syariah Mandiri…

Rating Utang Naik Diiringi Kenaikan Utang

    NERACA   Jakarta – Belum lama ini, lembaga rating utang berbasis di Amerika Serikat Standard & Poor's (S&P)…

Tawarkan Harga Rp 231-243 Persaham - MNC Vision Network Incar IPO Rp 856 Miliar

NERACA Jakarta – Danai ekspansi bisnisnya, PT MNC Vision Networks bakal melakukan penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO) saham pada…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Kejar Ekspor, Benahi Kebijakan Perdagangan Secara Struktural

NERACA Jakarta - Indonesia for Global Justice (IGJ) menilai tidak cukup hanya dengan mengejar nilai ekspor dengan memperbanyak perjanjian Free…

PERANG DAGANG AMERIKA SERIKAT-CHINA - AMRO Nilai Kawasan ASEAN Berisiko Perlambatan

Jakarta-Lembaga riset ASEAN+3 Macroeconomic Research Office (AMRO) menilai kawasan ASEAN saat ini tengah menghadapi risiko perang dagang antara Amerika Serikat…

KEBUTUHAN INVESTASI 2020 RP 5.803 TRILIUN-RP 5.823 TRILIUN - Pemerintah Waspadai Ancaman Defisit Perdagangan

Jakarta-Kementerian Keuangan menargetkan pertumbuhan ekonomi 5,3%-5,6% dalam asumsi ekonomi makro di 2020 dengan kebutuhan investasi sebesar Rp5.803 triliun hingga Rp5.823…