Meracik Jurus Ekonomi Politik dalam Situasi Pelik

Oleh: Pril Huseno

Situasi pasca pemungutan suara dan hasil rekapitulasi KPU pada Pemilu 2019, berubah mengkhawatirkan. Aksi penolakan terhadap hasil pemilu 2019 dan bentrokan berdarah selama dua hari (21-22/5/2019) antara polisi vs massa pemrotes ditengarai membuat pergerakan ekonomi melambat.

Akibatnya, investor kembali memilih bersikap wait and see dan menahan realisasi investasi. Pelaku industri juga diperkirakan menahan produksi karena konsumen lebih memilih menahan belanja sehingga produk tidak optimal diserap pasar. Pusat-pusat ekonomi di Jakarta terutama kawasan Jalan Thamrin dan sentra bisnis grosir Tanah Abang lumpuh. Banyak gedung perkantoran seputaran Thamrin meliburkan kantornya sampai dengan 25 Mei 2019.

Lumpuhnya perkantoran dan pusat grosir terbesar Tanah Abang, mau tidak mau akan memperlambat laju perekonomian, khusus di wilayah Jakarta. Namun, dampak psikologis terhadap pasar sudah pasti merambat ke daerah. Tidak heran jika banyak pihak mengharapkan situasi politik kembali kondusif dan menemukan titik temu yang menyejukkan dari pihak-pihak yang bersilang sengketa.

Cilakanya, pergolakan politik di Jakarta nampaknya belum segera usai. Aksi protes diperkirakan akan terus berlanjut sampai ketika Mahkamah Konstitusi (MK) memutuskan perkara gugatan pihak paslon Prabowo-Sandi ihwal kecurangan Pemilu 2019. Nah, jika aksi protes berlanjut dengan diiringi bentrokan, maka bisa dibayangkan, bagaimana perputaran roda ekonomi akan terus melambat bila tidak juga diketemukan solusi politik yang memadai.

Apa yang harus segera disiasati oleh para pemangku kebijakan ekonomi? Sebab, baru saja pada April 2019 lalu ekonomi dalam negeri kembali mengalami defisit neraca perdagangan paling parah dalam satu bulan yakni 2,5 miliar dolar AS. Sementara nilai rupiah pun, sedang terpuruk ke level di atas Rp14,500 per dolar AS. Seberapa besar pengaruh ketidakpastian politik dalam negeri terhadap gejolak ekonomi nasional?

Tantangan terhadap pemerintahan baru, memang sudah semakin berat. Di samping harus berjuang mengatasi beberapa defisit dalam current account, neraca perdagangan dan neraca pembayaran, kondisi kinerja ekspor juga sedang lumayan melambat dibanding impor.

Padahal pembangunan infrastruktur yang banyak menggunakan komponen impor sudah di rem. Di sisi lain, Industri dalam negeri juga butuh treatment khusus agar bisa segera memproduksi produk berorientasi ekspor. Sesuatu yang diramal membutuhkan jangka waktu menengah panjang.

Di sisi lain, upaya meningkatkan konsumsi rumah tangga sebagai kontributor terbesar dalam pembentukan PDB seharusnya sedang dikawal dengan baik pada momen-momen ramadhan saat ini dan mendekati hari raya Idul Fitri. Hal itu karena mengharapkan sumbangan angka ekspor dan investasi tidak sedang jadi pilihan karena kebetulan ekonomi global juga sedang melambat akibat trade war AS – China yang berkepanjangan.

Jadi, dalam situasi yang penuh tantangan seperti saat ini, bagaimana merumuskan analisis situasi dan strategi jangka pendek yang paling bijak untuk menghadapi situasi darurat ekonomi, sambil meracik strategi pembenahan ekonomi jangka menengah panjang? (www.watyutink.com)

BERITA TERKAIT

Pertumbuhan Stagnan, Ekonomi Sulit Mapan

Oleh: Sarwani Mentok, kata yang pas untuk menjelaskan  pertumbuhan ekonomi tahun ini. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional  (Bappenas)  memprediksi  ekonomi akan…

Rekonsiliasi dan Upaya Menjaga Keseimbangan Politik

  Oleh : Gita Warsita, Pemerhati Masalah Sosial Politik     Dengan berakhirnya drama Pilpres 2019 berupa pilihan presiden dan…

Jokowi & Ekonomi Syariah

Oleh : Agus Yuliawan Pemerhati Ekonomi Syariah Akhirnya usai sudah pergulatan politik nasional di tanah air kita  dan pada lima…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Penurunan Kemiskinan Melambat, Ada Apa?

Oleh: Sarwani Wajah-wajah lusuh kurang makan, berbalut pakaian asal menutup badan, tidur beralaskan material seadanya banyak ditemukan di perkotaan maupun…

Penerimaan Pajak, Investasi, dan CAD Jadi Momok Ekonomi

Oleh: Djony Edward Mahkamah Konstitusi (MK) sudah memutuskan menolak pengajuan sengketa hasil Pilpres 2019. Dengan demikian Presiden Jokowi dan Wakil…

Jokowi : "Saya Akan Kejar Pelaku Pungli!"

  Oleh : Muhammad Ridwan, Pengamat Sosial dan Politik   Dalam pidatonya pada acara Visi Indonesia, Presiden Republik Indonesia Joko…