Bayan Bukukan Laba Bersih Turun 30,85%

NERACA

Jakarta – Positifnya harga batu bara di pasar belum memberikan dampak terhadap pencapaian kinerja PT Bayan Resources Tbk (BYAN). Pasalnya, di kuartal pertama tahun ini, perseroan membukukan laba bersih terkoreksi 30,85% menjadi US$ 84,23 juta dibandingkan priode yang sama tahun lalu US$ 121,81 juta. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam laporan keuangan yang dirilis di Jakarta, kemarin.

Selain itu, perseroan juga melaporkan pendapatan US$365,41 juta pada kuartal I/2019. Realisasi itu turun 10,44% dari US$408,00 juta pada kuartal I/2018. Sebaliknya, beban pokok pendapatan BYAN itu naik 5,54% secara tahunan. Jumlah yang dikeluarkan naik dari US$200,83 juta pada kuartal I/2018 menjadi US$211,96 per kuartal I/2019.

Dari situ, laba bruto yang dibukukan perseroan senilai US$153,45 juta per 31 Maret 2019. Posisi itu turun 25,93% dibandingkan dengan US$207,16 juta pada periode yang sama tahun lalu. Beban penjualan perseroan tercatat naik signifikan pada kuartal I/2019. Pasalnya, pos tersebut naik 36,79% dari US$25,74 juta pada kuartal I/2018 menjadi US$35,21 juta.

Sebetulnya, perolehan perseroan masih lebih baik dari pemain industri batu bara lain seperti PT Indika Energy Tbk (INDY) dan PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG). Pasalnya laba kedua perusahaan tersebut tidak hanya mencatatkan koreksi lebih dalam, tapi juga keuntungan yang lebih kecil. Padahal, total pemasukan INDY dan ITMG masing-masing mencapai Rp 10,09 triliun dan Rp 6,52 triliun.

Pada kuartal I-2019, laba INDY anjlok 79,95% YoY menjadi Rp 168,85 miliar. Adapunlaba ITMG anjlok 31,64% secara tahunan menjadi Rp 572,27 miliar. Tahun ini, BYAN memproyeksikan pendapatan sebesar US$ 1,5 miliar sampai US$ 1,8 miliar. Selain itu, laba sebelum bunga dan pajak (EBITDA) sebesar US$ 400 juta sampai US$ 600 juta. Maka untuk mencapai target tersebut, BYAN menyiapkan dana belanja modal tahun 2019 mencapai US$ 100 juta sampai US$ 130 juta. Adapun produksi batubara di tahun ini diprediksi akan mencapai 32 juta metrik ton sampai 36 juta metrik ton. Di tahun 2018, BYAN memproduksi batubara sebanyak 31 juta metrik ton.

BYAN juga terus mendorong efisiensi dari sisi biaya cash rata-rata di tahun 2018 sendiri sebesar US$ 33 per metrik ton. Sedangkan di tahun 2019 akan dijaga di rentang US$ 32 per metrik ton sampai US$ 34 per metrik ton. Volume penjualan batubara BYAN di tahun ini diprediksi sebesar 33 juta metrik ton sampai 37 juta metrik ton.

Tahun 2018 volume penjualan batubara BYAN sebesar 28 juta metrik ton. Sebesar 19% penjualan ke pasar di Indonesia, sisanya di pasar luar. Sebagai informasi, saat ini BYAN memiliki luas konsesi 126.293 hektare yang berlokasi di Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan. Dalam memacu pertumbuhan produksinya, perseroan mengandalkan produksi batu bara berasal dari konsesi Tabang karena ada mobilisasi peralatan tambahan oleh kontraktor seiring dengan cuaca yang mendukung.

Produksi dari konsesi Tabang ini menyumbang 80% terhadap total produksi BYAN. BYAN menyiapkan investasi hingga US$ 225 juta untuk tiga tahun ke depan yang diperoleh dari kas internal.

BERITA TERKAIT

Genjot Pertumbuhan Investor - BEI Gelar Sekolah Pasar Modal HIPWI FKPPI

NERACA Jakarta – Perkuat basis investor lokal di pasar modal, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) terus perluas edukasi  manfaat pasar…

Raih Global Islamic Finance Awards - Pasar Modal Syariah Indonesia Terbaik di Dunia

NERACA Jakarta –Kesekian kalinya, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mendapatkan penghargaan internasional Global Islamic Finance Awards (GIFA) 2019 untuk kategori…

WEGE Catatkan Kontrak Baru Rp 5,2 Triliun

NERACA Jakarta – PT Wijaya Karya Bangunan Gedung Tbk (WEGE) mencatatkan kontrak baru hingga pekan pertama September 2019 mencapai Rp5,2…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Kantungi Empat Proyek Baru - TOTL Pede Target Kontrak Baru Capai Rp 2 Triliun

NERACA Jakarta – Mengandalkan proyek-proyek pembangunan gedung dan infrastruktur lainnya, tidak menjadi kekhawatiran bagi PT Total Bangun Persada Tbk (TOTL)…

Saat Ini Momentum Tepat Starup Go Public

Maraknya beberapa perusahaan starup yang mencatatkan saham perdananya di pasar modal, menjadi sentimen positif bagi perusahaan starup lainnya untuk mengikuti…

IPO Almazia Ditaksir Oversubscribed 3 Kali

NERACA Jakarta – Jelang pencatatan sahamnya di Bursa Efek Indonesia, PT Sinarmas Sekuritas selaku penjamin emisi penawaran umum saham perdana…