Asosiasi Dorong Petani Tembakau Jalin Kemitraan Dengan Perusahaan Rokok

NERACA

Jakarta - Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) mendukung wacana pemerintah untuk mewajibkan importir atau perusahaan rokok membangun kemitraan dengan petani guna mendapatkan ijin impor tembakau.

Ketua Umum APTI Suseno mengatakan, petani meminta kemitraan menjadi prasyarat utama bagi importir tembakau untuk memperoleh Rekomendasi Impor Tembakau (RIT). “Kabarnya saat ini Kementerian Pertanian (Kementan) sedang menyusun aturan RIT. Petani pun sudah diajak berdiskusi untuk dimintai masukan terhadap aturan tersebut,” ungkap Suseno pada acara Diskusi santai bareng wartawan yang mengangkat tema “Industri Hasil Tembakau Sebuah Paradoks” di Graha AMTI Jakarta, Selasa (21/5).

“Adanya kemitraan petani dengan pabrik rokok bakal ada jaminan harga, kualitas, teknlogi dan pasar tembakau dari perusahaan mitra” sambungnya.

Dia menambahkan, pabrik rokok bisa menjamin pasokan, karena mengetahui kondisi lahan, kapasitas produksi dan serapan tembakau petani. “Adanya kemitraan diharapkan harga tembakau di tingkat petani akan meningkat,” tambahnya.

Dia menjelaskan, impor tembakau akan dibatasi menyusul dikeluarkannya Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag)No.84 Tahun 2017 tentang Ketentuan Impor Tembakau. “Impor tembakau harus melalui rekomendasi Menteri Pertanian. Konsekuensinya Kementan juga harus membuat aturan teknis soal rekomendasi impor tembakau,” jelasnya.

Ada tiga jenis tembakau yang biasa diimpor oleh Indonesia yakni Virginia, Burley dan Oriental. “Produksi Burley dan Oriental dalam negeri sedikit sekali. Sementara itu, jenis Burley hanya ditanam di daerah Lumajang sekitar 900 hektare (ha),” terangnya

Sedangkan jenis Oriental diproduksi sedikit di Madura. Kemudian Virginia di Lombok awalnya luas tanam hanya sekitar 23.000-26.000 ha dari sebelumnya 65.000 ha. “Ketiga jenis tembakau ini sangat dibutuhkan oleh pabrik rokok,” ujar Suseno.

“Saat ini sedang digodok model kemitraan petani tembakau oleh Kementan. Meskipun di lapangan model kemitraan di sentra tembakau berbeda-beda. Diharapkan aturan kemitraan nantinya bisa diterapkan di semua sentra tembakau,” katanya.

Adapun luas lahan tembakau nasional 206.514 ha dengan produksi 198.295 ton. Sementara itu, produksi rokok 340 miliar batang. Sehingga dibutuhkan 340.000 ton tembakau. “Dan sisa kekurangannya dipenuhi dari impor,” ujar Suseno.

Ketergantungan Dengan Pabrik

Ditempat yang sama, Sekertaris Jenderal Asosiasi Petani Cengkeh Indonesia (APCI) I ketut Budiman menyebutkan, luas areal cengkeh Indonesia sekitar 500.000 ha, produksinya 110.000-120.000 ton per tahun. “Sekitar 95% diserap oleh pabrik rokok. Sehingga ketergantungan petani cengkeh terhadp pabrik rokok sangat tinggi,” jelas Budiman.

Dia menjelaskan, hilangnya eforia cengkeh petani pada saat Kementerian Perdagangan mencabut Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan No. 528 Tahun 2002 tentang Ketentuan Impor Cengkeh.

“Dalam aturan itu cengkeh dapat diimpor oleh pabrik rokok ketika produksi dalam negeri tidak mampu memenuhi kebutuhan industri rokok. Kemudian diganti Permendag No.75 tahun 2015 dimana setiap orang boleh mengimpor cengkeh,” jelasnya.

Imbasnya harga cengkeh di tingkat petani jatuh. Awalnya Rp 120.000-130.000 per kilogram (kg), sekarang hanya Rp 90.000 per kg. “Sehingga kesejahteraan petani cengkeh menurun drastic,” ujarnya.

“Untuk itu, petani minta agar pemerintah meninjau kembali Permendag tersebut, karena dalam nawacita Presiden Jokowi ingin menlindungi petani,” pungkasnya.

BERITA TERKAIT

Sika Indonesia Resmikan Pabrik Ketiga di Cibitung

NERACA Bekasi – Perusahaan bahan kimia untuk konstruksi dan industri, Sika semakin mengukuhkan bisnisnya di Indonesia dengan meresmikan pabrik ketiga…

PRS, Solusi Sementara PGN untuk Alirkan Gas Bumi di Jawa Tengah

NERACASemarang - Dengan berdirinya sejumlah kawasan industri baru seperti di Kendal dan Ungaran, menjadi salah satu pertimbangan bagi investor dan…

Menteri Susi Prakarsai Dialog Pemberantasan IUU Fishing

NERACA New York - Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti bersama Utusan Khusus Sekretaris Jenderal PBB untuk Kelautan, Peter Thomson,…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Sika Indonesia Resmikan Pabrik Ketiga di Cibitung

NERACA Bekasi – Perusahaan bahan kimia untuk konstruksi dan industri, Sika semakin mengukuhkan bisnisnya di Indonesia dengan meresmikan pabrik ketiga…

PRS, Solusi Sementara PGN untuk Alirkan Gas Bumi di Jawa Tengah

NERACASemarang - Dengan berdirinya sejumlah kawasan industri baru seperti di Kendal dan Ungaran, menjadi salah satu pertimbangan bagi investor dan…

Menteri Susi Prakarsai Dialog Pemberantasan IUU Fishing

NERACA New York - Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti bersama Utusan Khusus Sekretaris Jenderal PBB untuk Kelautan, Peter Thomson,…