Memoles Potensi dari Bisnis Batu Akik

NERACA

Di beberapa wilayah Tanah Air, saat ini terdapat beberapa lokasi sebagai pusat perdagangan batu mulia, sebagai contoh di Martapura. Lokasi ini selain dekat dengan tambang, ada juga pusat perdagangannya. Dari lokasi inilah didistribusikan batu-batu yang telah siap dipasarkan, dari yang batu asli sampai dengan yang sintetis (jenangan, suntikan, atau batu proses).

Begitu pun dengan di wilayah Banjar Jawa Barat, keberadaan Lembaga Pengembangan dan Sertifikasi Batu mulia (LPSB) Banjar, diharap dapat membangkitkan kembali usaha batu permata yang sebelumnya sempat terpuruk.

Dan seiring dengan keterbukaan informasi dan kemajuan teknologi penggosokan batu mulia, seni kerajinan dan penggosokan mengalami penyesuaian. Di samping persoalan mutu, konsumen batu permata juga mempersoalkan garansi produk, harga murah bukan lagi menjadi pilihan pertama.

LPSB melayani sertifikasi batu permata yang dihasilkan perajin maupun yang akan dipasarkan oleh pengusaha batu permata, sehingga ada jaminan mutu dan garansi produk bagi para konsumen dalam maupun luar negeri. Saat ini terdapat 461 sentra kerajinan batu mulia dengan jumlah perajin sekitar 700 orang di Banjar yang kebanyakan masih memakai peralatan tradisional.

Untuk menciptakan sebuah produk berkualitas, menciptakan batu Akik juga melalui sebuah proses, dengan sedikit metode pemolesan yang berbeda tergantung teknologi yang digunakan. Langkah awal dimulai dari sebuah bongkahan material batu yang telah dipilih, umumnya dilakukan pemotongan terlebih dahulu sesuai dengan ukuran yang diinginkan.

Setelah dilakukan pemotongan baru dilakukan pemolesan yang bisa dilakukan secara tradisional maupun dengan teknologi mesin, terakhir dilakukan finishing dengan menggunakan amplas dan bubuk intan.

Konon untuk pembuatan akik yang memiliki kekuatan mistis tertentu, setelah dilakukan pemotongan, proses pemolesan atau penghalusan menggunakan potongan bambu, dan dilakukan dengan berpuasa (biasanya puasa mutih). Tapi di jaman ini, proses tersebut sudah jarang dilakukan, karena sudah banyak jasa supranatural yang mempermudah konsumen tak perlu melakukan proses yang cukup sulit dilakukan.

Terkait jenis batu bahan akik memang sangat beragam. Seperti batu sulaiman dan yahman dari Pacitan, lalu akik pancawarna dari Kebumen, akik yahman bungur dari Cilacap, dan batu kali dari Kebumen, Pacitan, dan Gombong. Banyak juga daerah-daerah lain penghasil batu Akik seperti di Tasikmalaya, Garut, Sukabumi, dan Banten.

Potensi batu akik di Indonesia sangat besar, namun pemanfaatan batu mulia sebagai komoditas masih dalam skala kecil dan bergerak dalam perjalanan mikro ekonomi. Paradigma bahwa batu mulia hanya sebagai gaya hidup dan bukan sebagai investasi begitu kental.

Bahkan orang tertarik memiliki karena sekadar hobi atau sekadar semata. Lain halnya dengan emas yang sudah dipandang sebagai satu komoditas makro yang dapat menggegerkan hubungan antarnegara hanya untuk memperebutkan satu tambang emas.

Peran pemerintah terkait dengan pemanfaatan potensi batu mulia yang tersebar di seluruh kawasan Nusantara masih belum terlihat, walaupun telah keluar Keputusan Menteri Industri Dan Perdagangan Kepmen no.385 /MPP/Kep/6/2004 tentang Pemberdayaan Potensi Alam Berupa Kandungan Batu Mulia.

Banyak penelitian yang telah dilakukan mengungkap potensi terpendam di bumi Indonesia, tapi rupanya masih sekadar wacana. Namun bila dikaji lebih lanjut, pengelolaan potensi batu mulia dengan serius akan membawa dampak luas dalam rantai perekonomian Indonesia.

Bayangkan bila potensi ini dikembangkan, dampaknya adalah angka pengangguran menurun, bertambahnya pajak bagi negara, menambah komoditas ekspor barang mentah, peningkatan pendapatan daerah, dan yang lebih penting bahwa negara ini tidak hanya sebagai negara pengimpor, tapi sebagai negara yang dapat menunjukkan jati diri untuk tidak tergantung pada negara lain, meski hanya dari sebongkah batu.

Related posts