Kesenangan dan Keuntungan Berniaga Batu Mulia

NERACA

Bila kita mengunjungi Pasar Pasar Batu Aji Rawa Bening Jakarta Timur, ada satu keunikan dari para pedagang yaitu keramahan mereka. Pasalnya setelah transaksi kita lalukan, para pedagang akan mengajak berjabat tangan diiringi harapan agar pembeli diberi kesehatan dan diberi kesempatan untuk kembali mengunjungi Pasar Batu Aji Rawa Bening, berniaga dengan mereka.

Selain memperdagangkan batu mulia dan batu akik, ada pula pedagang barang pusaka yang menawarkan aneka benda antik dan hal menarik lainnya, seperti keris, tombak, bambu pethuk, minyak arab, minyak serimpi, dupa, menyan, dan lain sebagainya.

Pasar pusat penjualan aneka batu alam batu aji dan permata di depan Stasiun Kereta Api Jatinegara, Jakarta Timur, terkenal sejak lama dan sudah menembus batas negara, paling tidak untuk kawasan Asia. Menjelang akhir tahun 1990-an, pasar ini sering disambangi turis dari China, Jepang, Korea, Taiwan, dan Malaysia, karena mereka lebih menyukai batu asli Indonesia.

Namun pasca kerusuhan di Jakarta 1998 tidak banyak lagi turis yang datang ke pasar ini dan mungkin juga promosi pemkot ke travel sudah tidak lagi gencar. Padahal untuk menambah devisa daerah, Pasar Rawa Bening memiliki prospek yang cukup cerah asal dikelola dengan baik.

Kejelian calon pembeli bila berminat akan suatu barang adalah satu keharusan yang harus dimiliki, karena tidak kurang juga barang yang di jual di Rawa Bening adalah barang yang tidak asli. Bila kita berbicara Batu pernata atau Batu Mulia, ada istilah batu olahan, atau suntikan, sintetis atau jenangan.

Dengan proses pengolahan yang begitu canggih sehingga barang yang dipoles tersebut tidak beda jauh dengan barang aslinya. Tengoklah bila kita bertanya tentang batu Topaz (baik biru maupun kuning), sulit kita membedakan yang asli dengan yang jenangan (campuran). Begitu pula bila kita bertanya tantang Batu saphir. Terkadang Saphir Australia disebut menjadi Saphir Afrika yang memiliki kesamaan serat dan struktur batu. Padahal safir australia harga jauh dibawah safir afrika.

Seputar harga dari batu perhiasan ditentukan oleh jenis, corak, sinar, keindahan, dan keunikannya. Kelangkaan juga turut menentukan. Tetapi pada akhirnya yang membuat harga menjadi tidak mengenal patokan adalah hasrat untuk memiliki batu itu sendiri, karena sudah bersifat harga psikologis.

Harga batu dan benda antik dijual dengan mempertimbangkan histori dari sipemilik serta daya magis yang dimiliki. Untuk sebuah batu mulia bertuah dapat dihargai mulai Rp 100 ribu hingga ratusan juta rupiah. Mengoleksi bebatuan apalagi Batu Mulia bukanlah hobi yang tergolong murah. Batu idaman bagi para penggemarnya adalah koleksi, tempat kepuasan dan gengsi digantungkan.

Lambang Kewibawaan

Batu mulia dan batu akik merupakan salah satu unsur perhiasan yang terkadang menjadi domain dalam setiap jenis dan pernik dari perhiasan yang berupa gelang, cincin, giwang, dan kalung. Sudah menjadi sesuatu yang biasa bila rakyat biasa, baik petani, pelajar, sampai pejabat di Indonesia ini memakai perhiasan yang mengikutkan unsur batu mulia dan batu akik.

Begitu pun dengan para pemimpin bangsa ini. Mereka juga gemar menggunakan batu mulia dan batu akik dalam agenda kegiatan kesehariannya. Dapat dibayangkan bila seorang presiden yang diliputi kesibukan sangat luar biasa, masih menyempatkan diri untuk memilih dan menggunakan batu mulia dan batu akik.

Tengok penampilan Presiden RI pertama Soekarno. Beliau konon memiliki beberapa koleksi batu mulia dan batu akik, dan mungkin sekarang masih tersimpan rapi di Blitar. Kemudian Presiden RI kedua yaitu Soeharto. Presiden yang berkuasa 32 th ini rupanya juga mengenakan cincin yang melingkar di jari manisnya, termasuk Presiden BJ Habibie. Sebagai seorang scientist, cendikiawan, dan pakar teknologi kelengkapan penampilan dengan cincin batu mulia masih melingkar apik di jari manis sebelah kanan. Contoh lain dapat kita temui pada Presiden Gusdur, Megawati, dan sejumlah pejabat tinggi dan tertinggi republik ini.

Batu mulia yang dikenakan oleh para pemimpin negeri ini memang bukan sembarang cincin. Bayangkan untuk batu permata kelas satu seperti mirah delima (ruby) atau safir (blue saphhire) yang kualitasnya bagus, harganya tidak akan kurang dari US $ 200 per karat. Ukuran mata cincin yang dipakai pada umumnya tidak kurang dari 10 karat . Jadi minimal aksesoris tersebut berharga $2000 atau ekuivalen Rp.14.000.000. Ini belum termasuk tatahan berlian, dan logam yang digunakan untuk pengikatnya (biasanya emas putih, atau emas).

Ditambah lagi fakta bahwa, harga suatu batu permata tidak hanya bergantung dari kualitas standard seperti warna, cacat, clarity, tapi juga tergantung pada hal-hal yag sifatnya sangat-sangat subyektif, misalnya pola bintang pada pemantulan cahaya natural, pola urat batuan yang terkadang secara alamiah membentuk gambar tertentu, kepercayaan pemakai terhadap khasiat batu permata tersebut.

Bisa jadi mungkin ini hanya kultur dinamisme yang masih eksis dimasyarakat. Dan hebatnya, justru karena unsur-unsur subyektif ini, harga batu permata bisa berlipat-lipat dari harga yang ditaksir secara standard. Maka tidak heran bila ada seseorang yang gandrung dengan batu permata tertentu, akan berani membayar miliaran rupiah untuk batu yang disukai. Walaupun secara standard harga batu tersebut mungkin harganya hanya puluhan juta.

Related posts