Stabilitas Ekonomi Jangka Pendek Juga Perlu Diperhatikan

NERACA

Jakarta - Pengamat ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance Abra Talattov menilai bahwa pemerintah harus memperhatikan stabilitas ekonomi jangka pendek, terutama pascapengumuman hasil rekapitulasi nasional pemilu 2019 oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU).

"Kalau kita lihat hari-hari ini terutama ya satu minggu ini, terutama pascapengumuman KPU, yang paling mengkhawatirkan adalah stabilitas ekonomi jangka pendek karena ini jadi titik krusial juga untuk menata ekonomi kita, terutama dalam masa-masa transisi sampai nanti pelantikan pemerintahan baru. Ini masih dilihat oleh banyak kalangan, terutama oleh investor global," ujar Abra, kemarin.

Abra menuturkan, pada pekan lalu, aliran modal asing yang keluar dari pasar keuangan domestik (capital outflow) mencapai Rp11,3 triliun, yang menunjukkan ada kecemasan dan juga kekhawatiran dari investor. "Capital outflow Rp11 triliun itu angka yang cukup besar. Di situasi normal, seperti di 2018, "net sell" asing pada 2018 saja hanya sekitar Rp50 triliun. Ini dalam waktu satu pekan Rp11 triliun, itu kan cukup mencemaskan," kata Abra.

Apalagi, dalam dua hari ini terjadi aksi demo memprotes hasil rekapitulasi KPU yang dinilai dapat menjadi sentimen negatif bagi perekonomian apabila aksi-aksi tersebut cenderung anarkis dan berlarut-larut. Rupiah sudah menembus di atas Rp14.500 per dolar AS, salah satunya didorong oleh sentimen ini. "Jadi sekarang, pergerakan indikator makro terutama pasar modal maupun rupiah, tidak lagi dipengaruhi oleh faktor fundamental, tapi lebih ke faktor krusial dan keamanan. Kalau selama ini pergerakannya karena bisnis, sekarang keamanan jadi faktor utama fluktuasi rupiah dan perkembangan indeks di pasar modal," ujar Abra.

Ia berharap, pemerintah melalui aparat keamanan dapat memperketat penjagaan terhadap lokasi-lokasi strategis seperti areal perkantoran, pasar, mal, bank, dan lainnya sehingga tidak kecolongan terjadi aksi perusakan oleh oknum-oknum tidak bertanggung jawab karena dampak psikologisnya ke pelaku pasar akan lebih besar. "Kami berharap ini prosesnya juga tidak semakin memburuk sehingga transisinya bisa 'smooth' dan pemerintahan mendatang bisa fokus lagi untuk memperbaiki ekonomi kita juga sesuai yang ditargetkan," katanya.

BERITA TERKAIT

Ekonomi Terjebak Situasi

  Oleh: Ambara Purusottama School of Business and Economic Universitas Prasetiya Mulya   Perubahan situasi global membuat hampir semua negara…

Deindustrialisasi Makin Nyata, Ekonomi Memburuk

Oleh: Anthony Budiawan, Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS) Ekonomi Indonesia 2019 semakin terpuruk. Neraca perdagangan selama empat…

Diversifikasi Ekonomi Daerah

Prediksi sejumlah ekonom bahwa pertumbuhan ekonomi kuartal I-2019 (yoy) sebesar 5,2%, ternyata meleset pada hanya mencapai 5,07%, atau naik tipis…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Rating Utang Naik Diiringi Kenaikan Utang

    NERACA   Jakarta – Belum lama ini, lembaga rating utang berbasis di Amerika Serikat Standard & Poor's (S&P)…

Dukung Gaya Hidup Sehat, Taiwan akan Kembali Happy Run

    NERACA Jakarta - Taiwan kembali mengajak masyarakat Indonesia untuk berolahraga dalam rangkaian acara Taiwan Excellence Happy Run 2019,…

LG Perkenalkan Monitor dengan Kecepatan 1 Milisecond

    NERACA   Jakarta - LG Electronics (LG) menyatakan kesiapannya untuk segera memasarkan dua monitor gaming terbarunya. Hadir dengan…