Pemerintah Terus Dorong Industri Jaga Ketersediaan Pasokan - Gelar Bazar Lebaran

NERACA

Jakarta – Kementerian Perindustrian senantiasa mendorong sektor industri manufaktur agar siap memenuhi kebutuhan konsumen terutama di pasar domestik selama bulan Ramadan dan Lebaran. Umumnya, pada momentum tersebut, sejumlah sektor manufaktur yang penjualan produknya akan meningkat antara lain industri makanan dan minuman serta industri tekstil dan pakaian.

“Untuk itu, kami mengapresiasi kepada para pelaku industri atau asosiasi usaha yang bertekad menjaga ketersediaan produk-produknya untuk memasok kebutuhan pasar dalam negeri pada bulan Ramadan dan Lebaran. Bahkan, juga menjaga kestabilan harganya dengan terjangkau,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto pada pembukaan Bazar Lebaran di Plasa Pameran Industri, Gedung Kemenperin, Jakarta, disalin dari siaran resmi.

Menperin mengungkapkan, setiap menjelang Lebaran, tren permintaan terhadap barang kebutuhan pokok akan meningkat tajam. Sementara itu, untuk memenuhi kenaikan permintaan tersebut, tidak cukup hanya mengandalkan ketersediaan stok pasar, tetapi juga perlu didukung pendistribusian yang tepat sasaran.

“Maka itu, Bazar Lebaran yang diselenggarakan Kemenperin, bertujuan untuk memenuhi kebutuhan para pegawai dan masyarakat sekitar untuk mendapatkan bahan makanan, minuman, dan sandang lainnya dengan harga terjangkau,” tuturnya.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, Bazar Lebaran akan menjadi suatu kegiatan yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat luas khususnya umat Muslim dalam rangka persiapan untuk menyambut hari raya Idul Fitri. Bazar Lebaran yang diselenggarakan Kemenperin di tahun ini berlangsung pada tanggal 21-29 Mei 2019 yang dibuka untuk umum mulai pukul 08.00-15.30 WIB.

Bazar lebaran tersebut diikuti sebanyak 100 peserta, yang meliputi perusahaan besar, menengah, kecil dan pengrajin, yang terdiri dari perwakilan Ditjen Industri Agro 58 peserta, Ditjen IKFT 4 Peserta, Ditjen ILMATE 3 peserta, Ditjen IKMA 11 peserta, Dharma Wanita 22 peserta dan Biro Umum 2 Peserta.

Sementara itu, produk-produk yang dijual di antaranya minyak goreng, gula pasir, tepung terigu, biskuit, mi, olahan daging, olahan hasil laut, sirup, susu, makanan siap saji, dan minuman ringan. Selain itu juga ada pakaian jadi, sarung, elektronika dan peralatan rumah tangga.

“Pelaksanaan Bazar Lebaran merupakan bentuk kepedulian dan wujud nyata partisipasi Kemenperin dalam menyambut Lebaran dengan meningkatkan peran Plasa Pameran Industri, yang bisa dimanfaatkan para pengrajin dan pengusaha untuk berpromosi sekaligus membantu masyarakat dalam mendapatkan barang kebutuhan pokok dengan harga terjangkau,” papar Airlangga.

Di tengah pelaksanaan bazar, juga dilakukan penjualan perdana minyak goreng murah dari PT. Sinar Mas sebanyak 3.000 liter melalui kupon pembelian dengan harga Rp16.000 untuk 2 liter. “Kami berharap pada pelaksanaan bazar ke depannya, PT. Sinar Mas dapat kembali melaksanakan kegiatan tersebut, karena sangat bermanfaat bagi kebutuhan pegawai dan masyarakat sekitar,” imbuhnya.

Pada kesempatan yang sama, Menperin mengatakan, sejumlah sektor industri manufaktur mampu mencatatkan kinerja positif di atas pertumbuhan ekonomi nasional pada triwulan I tahun 2019. “Hal ini ditunjang karena komitmen dan kebijakan pemerintah saat ini dalam mewujudkan iklim usaha yang kondusif,” ujarnya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan industri pengolahan nonmigas mencapai 4,80 persen pada triwulan I-2019. Jumlah tersebut meningkat dibanding perolehan sepanjang tahun 2018 yang berada di angka 4,77 persen.

“Industri pengolahan masih memberikan kontribusi terbesar kepada struktur produk domestik bruto (PDB) nasional hingga 20,07 persen pada triwulan I-2019. Jumlah tersebut naik dibanding capaian sepanjang tahun 2018 sebesar 19,86 persen,” ungkap Airlangga.

Adapun sektor manufaktur yang mengalami pertumbuhan tertinggi adalah industri tekstil dan pakaian jadi sebesar 18,98 persen. Disusul industri pengolahan tembakau yang tumbuh hingga 16,10 persen, kemudian industri furnitur tumbuh 12,89 persen serta industri kimia, farmasi dan obat tradisional yang tumbuh 11,53 persen.

Kinerja positif juga diikuti oleh industri kertas dan barang dari kertas, percetakan dan reproduksi media rekaman yang mengalami pertumbuhan 9,22 persen, industri logam dasar tumbuh 8,59 persen, serta industri makanan dan minuman tumbuh 6,77 persen. Sektor-sektor manufaktur ini yang mampu melampaui pertumbuhan ekonomi nasional di triwulan I-2019 sebesar 5,07 persen.

BERITA TERKAIT

PRS, Solusi Sementara PGN untuk Alirkan Gas Bumi di Jawa Tengah

NERACASemarang - Dengan berdirinya sejumlah kawasan industri baru seperti di Kendal dan Ungaran, menjadi salah satu pertimbangan bagi investor dan…

IKM Komponen Bagian Penting dalam Rantai Pasok Industri Otomotif

NERACA Jakarta - Kementerian Perindustrian melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) terus berupaya meningkatkan daya saing IKM…

Menteri Susi Prakarsai Dialog Pemberantasan IUU Fishing

NERACA New York - Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti bersama Utusan Khusus Sekretaris Jenderal PBB untuk Kelautan, Peter Thomson,…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

PRS, Solusi Sementara PGN untuk Alirkan Gas Bumi di Jawa Tengah

NERACASemarang - Dengan berdirinya sejumlah kawasan industri baru seperti di Kendal dan Ungaran, menjadi salah satu pertimbangan bagi investor dan…

IKM Komponen Bagian Penting dalam Rantai Pasok Industri Otomotif

NERACA Jakarta - Kementerian Perindustrian melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) terus berupaya meningkatkan daya saing IKM…

Menteri Susi Prakarsai Dialog Pemberantasan IUU Fishing

NERACA New York - Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti bersama Utusan Khusus Sekretaris Jenderal PBB untuk Kelautan, Peter Thomson,…