Perusahaan Otomotif Besar Tingkatkan Kapasitas Produksi - Angka Penjualan Mobil RI Tergemuk di Asean

Perusahaan otomotif dunia kini terus membidik pasar otomotif Indonesia yang pada tahun lalu membukukan penjualan sedikitnya 890.000 unit. Angka penjualan mobil yang sangat gemuk itu membuat perusahaan otomotif besar seperti Nissan dan Toyota sangat memperhitungkan pasar otomotif di Indonesia. Mereka tidak cukup hanya mengandalkan pabrik yang ada sekarang, namun mereka ingin memperbesar kapasitas produksinya.

NERACA

Nissan misalnya, siap menggelontorkan dana sebesar US$ 400 juta (setara Rp 3,6 triliun) untuk investasi perluasan pabrik tersebut dan itu dilakukan untuk meningkatkan kapasitas produksi dari 100.000 menjadi 250.000 unit.

Salah satu mobil legendaris yang hendak diproduksi di Indonesia adalah merek Datsun, yang pernah hadir dan merajai jalanan di Indonesia pada dekade 1960-1970-an.

“Datsun telah memiliki sejarah yang panjang di Indonesia. Merek Datsun sudah membekas di dalam pikiran konsumen di Indonesia dan dikenal sebagai mobil keluarga dengan harga terjangkau," kata CEO Nissan, Carlos Ghosn, di Jakarta, Selasa (20/3).

Menurut dia, Nissan Motor Company (NMC) akan membangkitkan lagi mobil bermerk Datsun mulai akhir 2014 di Tanah Air. Nantinya, Datsun akan mengikuti program Low Cost Green Car (LCGC) yang digagas pemerintah Indonesia. Nissan adalah perusahaan otomotif dari Negeri Matahari Terbit, yang didirikan pada 1914. Sedangkan Aliansi Renault-Nissan, dilakukan pada Maret 1999, yang merupakan kemitraan industri dan komersial pertama antara perusahaan Prancis dan Jepang.

“Datsun memang dipersiapkan untuk negara-negara berkembang yang pertumbuhan ekonominya terus meningkat. Selain Indonesia, India dan Rusia akan menjadi negara tujuan Datsun,” ungkapnya.

Sebelumnya, kantor berita Nikkei menyebutkan mobil murah Datsun akan dijual dengan kisaran harga US$6.200 atau sekitar Rp60 juta.

Menurut Ghosn,dari rencananya total kapasitas produksi yang akan ditargetkan bisa mencapai angka 250.000 unit akan menyerap 3.300 tenaga kerja, dan memerlukan 150 outlet pada 2015. “Industri otomatif Indonesia tumbuh stabil dan cerah,” tuturnya.

Dari angka investasi ini akan membuat pabrik Nissan di Cikampek sebagai salah satu pabrik terbesar di Asean. Dia berharap dana sebesar ini akan memperkuat basis riset serta engineering bisa lebih cepat beradaptasi dengan kondisi Indonesia. Selain itu, dia menginginkan agar investasi ini akan menyerap tenaga kerja lokal, yakni sebanyak 3.300 tenaga kerja. “Kami ingin berproduksi dengan tenaga kerja lokal,” ujarnya.

Ghosn menyatakan pada 2011 angka penjualan mobil di Indonesia sudah mencapai 890.000 unit kendaraan. Angka ini menjadikan Indonesia sebagai pasar otomotif terbesar di kawasan Asean. Pada tahun fiskal 2011, Nissan berhasil menjual 60.000 unit mobil.

Menurut dia, pasar Indonesia tumbuh dengan baik dan Nissan ingin ambil bagian dalam pasar otomotif dalam negeri. Dia menjelaskan pasar Nissan akan tumbuh sebesar 6 % per tahun dalam lima tahun ke depan. Pada 2016 Ghosn menargetkan bisa menjual mobil Nissan sebanyak 200.000 unit.

Menurut Ghosn, investasi yang dilakukan Nissan bertujuan untuk memenuhi pasar dalam negeri. Dia tidak ingin berspekulasi untuk melakukan ekspor, padahal permintaan dalam negeri Indonesia masih tinggi. Pabrik di Indonesia dinilai akan lebih kompetitif dibandingkan dengan pabrik di Thailand dan India.

Menurut Ghosn, investasi yang dilakukan Nissan tidak bertujuan untuk menciptakan platform ekspor. “Prioritas kami pasar Indonesia,” katanya.

Terkait dengan rencana pemerintah menaikkan harga BBM, dia yakin hal ini tidak terlalu berpengaruh dengan pasar otomatif dalam negeri. Dia mengakui jika pemerintah menaikkan harga BBM, biaya untuk mengoperasikan kendaraan akan semakin tinggi. Namun dia tidak mengatakan kondisi ini akan mengurangi pertumbuhan pasar.

Dia yakin, sebagai negara kaya Indonesia masih bisa mengatasi persoalan ini dan menjadi pasar menjanjikan. Apalagi, katanya, pemerintah menjanjikan akan terus membenahi fasilitas sektor transportasi. Pasar otomotif Indonesia akan tetap berjalan dinamis meski dihadang isu kenaikan BBM. “Ini hanya akan menjadi hambatan jangka pendek,” katanya.

Toyota Rp 2,9 Triliun

Ternyata langkah Nissan untuk memperluas pabriknya di Indonesia, tidak dilakukannya sendiri. Perusahaan otomotif yang juga berasal dari Jepang, Toyota, sudah mendahului dengan langkah yang sama.

Pada 14/9/2011 Menteri Perindustrian M.S Hidayat meresmikan dimulainya pembangunan fasilitas pabrik kedua PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) di Karawang, Jawa Barat, dengan investasi Rp 2,9 triliun, yang diharapkan dapat meningkatkan kapasitas produksi produsen otomotif itu menjadi 180.000 unit pada 2013.

“Perkembangan industri otomotif di Indonesia, khususnya industri kendaraan bermotor roda empat menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan,” katanya sebelum menekan tombol sirine dan pemancangan paku bumi.

Menurut Hidayat, hal itu sangat menggembirakan dan mengindikasikan bahwa daya saing industri otomotif nasional sudah semakin meningkat.

“Keadaan ini tentunya memberikan optimisme bahwa prospek perkembangan industri otomotif nasional akan semakin baik,” katanya.

Dia mengatakan bahwa hal itu semakin mendorong semangat kita untuk menjadikan Indonesia sebagai salah satu kekuatan industri otomotif di Asean.

Menurut Hidayat, rencana pembangunan pabrik baru ini sungguh memberikan kontribusi bagi pertumbuhan industri nasional di mana perusahaan menanamkan investasi dalam jumlah yang signifikan.

Dengan pembangunan pabrik baru ini, kapasitas produksi PT TMMIN akan meningkat, yang juga diharapkan akan dapat menyerap banyak tenaga kerja baru.

Hidayat mengatakan PT TMMIN sebagai salah satu pelaku industri otomotif terbesar di Indonesia saat ini, diharapkan dapat menjadi pelopor pengembangan industri komponen berdaya saing tinggi serta lebih memberikan perhatian pada peningkatan penguasaan kemampuan teknologi dalam negeri melalui pengembangan R&D.

“Sehingga pada akhirnya industri kendaraan bermotor roda empat secara utuh dapat dikuasai,” tambahnya.

Menurut Hidayat, pengembangan sumber daya manusia, baik di pabrik maupun bengkel-bengkel kendaraan bermotor perlu terus dilakukan agar dapat menghasilkan SDM berkualitas, yang pada akhirnya dapat meningkatkan keunggulan kompetitif industri otomotif nasional.

Hidayat mengharapkan PT TMMIN dapat meningkatkan nilai kandungan komponen dalam negeri dengan melibatkan lebih banyak pelaku industri komp0onen dalam negeri.Industri otomotif diharapkan untuk berkelanjutan menumbuhkembangkan kemampuan inovatif dalam menghadapi inovasi dan pengembangan model-model baru dalam industri perakitan kendaraan bermotor.

“Produk-produk Toyota di Indonesia seperti Avanza, Rush, Innova, Fortuner serta Yaris telah dikenal secara luas dan diterima secara baik di pasar dalam negeri,” katanya.

Hal tersebut, katanya, tecermin dari besarnya pangsa pasar Toyota di Indonesia serta nilai penjualan yang selalu memimpin total penjualan nasional.

“Besar harapan pemerintah agar Toyota secara bertahap menambah model-model baru yang dirakit di Indonesia,” katanya.

Sejalan dengan program pemerintah terkait low cost and green car, Toyota juga diharapkan untuk turut mengembangkan model kendaraan dengan harga terjangkau dan ramah lingkungan.

Presiden Director Asia Pacific Regional Toyota, Masahiro Nonami, ketika itu mengatakan agar harga mobil di Indonesia bisa lebih murah diperlukan lebih banyak insentif perpajakan dari pemerintah.

Nonami mengatakan bahwa pajak kendaraan di Thailand lebih rendah daripada tarif pajak kendaraan bermotor di Indonesia.

“Apabila pemerintah ingin produk mobil Indonesia bisa bersaing di pasar global, maka pemerintah harus menurunkan perpajakan tersebut, agar Indonesia bisa dikembangkan menjadi basis produksi,” katanya.

Menurut Hidayat, dalam audiensi pimpinan Toyota ke Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, pimpinan Toyota telah meminta agar disediakan fasilitas pelabuhan untuk mengekspor produk Toyota ke 16 negara.

“Jika ada pelabuhan, tentu akan lebih mudah untuk mengekspor mobil itu ke luar negeri,” katanya.

Menurut Hidayat, secara prinsip pemerintah dapat menyetujui pelabuhan khusus untuk ekspor mobil itu, namun Hidayat belum bersedia mengungkapkan di mana lokasinya.

Nonami mengatakan pabrik baru ini apabila telah beroperasi akan mampu menyerap 80.000 karyawan, termasuk karyawan yang ada di kalangan pemasok komponen kendaraan yang terkait. (agus/iwan)

Related posts