Wirausaha Baru Perlu Dapat Bimbingan - Tingkatkan Produktivitas UMKM

NERACA

Jakarta - Banjir produk impor yang tak terkendali, khususnya dari China, mengakibatkan produktivitas sektor industri dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) mengalami penurunan. Selain itu, volume penjualan produk lokal turun sangat tajam. Sehingga, kemampuan sektor industri dan UMKM dalam penyerapan tenaga kerja pun semakin menyusut.

Karena itu, Kamar Dagang dan Industri Industri tengah menjalankan program penciptaan tenaga para pembimbing usaha. Para pembimbing ini berfungsi mendampingi para calon atau para wirausaha baru dalam memecahkan hambatan-hambatan dalam menjalankan usahanya. Hal ini diharapkan dapat meminimalisasi kegagalan yang sering dihadapi para wirausaha baru.

Salah satunya, dengan mengajak anak muda menjadi pengusaha sejak dini merupakan solusi cerdas yang akan membawa kemakmuran pada bangsa ini di masa yang akan datang. Dengan membimbing sekaligus meyakinkan mereka untuk berperan serta sedini mungkin mengatasi persoalan ekonomi bangsa ini

“Jumlah wirausaha harus ditumbuhkan dengan cepat, sehingga mampu menyerap dan menyediakan lapangan kerja bagi angkatan baru dan pengangguran. Dari angkatan kerja baru dan pengangguran yang ada, sebagian dapat di dorong menjadi wirausaha baru. Caranya tentu dengan pendidikan dan pelatihan, bimbingan dan pendampingan serta fasilitasi terhadap akses modal yang dibutuhkan,” papar Wakil Ketua Umum Kadin Bidang UMKM, Koperasi, dan Industri Kreatif Budyarto Linggowiyono pada acara Pelatihan Certified Profesional Entrepreneur di Jakarta, Senin (26/3).

Budyarto mengungkapkan bahwa UMKM dan Koperasi menjadi salah satu program unggulan Kadin Indonesia, kepedulian terhadap potensi sumber daya alam yang melimpah tersebar di seluruh Indonesia. Namun, patut disayangkan apabila tidak dikelola dengan optimal, serta keprihatinan pasar domestik yang terlihat secara berangsur-angsur dikuasai oleh asing menjadi pendorong untuk dilakukannya percepatan pertumbuhan wirausaha baru di Indonesia.

"Kadin mencanangkan penciptaan 4 juta wirausaha baru hingga tahun 2014. Hal ini diharapkan potensi alam dan pasar domestik dapat dikelola dengan baik dan dinikmati oleh anak-anak bangsa, dan pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami peningkatan yang signifikan,” lanjutnya.

Program Nasional

Budyato menambahkan bahwa program nasional ini tidak bisa dilakukan sendiri, melainkan memerlukan keterlibatan seluruh pemangku kepentingan yang terkait. Hal ini mengingat bahwa Kadin Indonesia memiliki banyak sumber daya pengusaha sukses yang memiliki pengalaman dalam membangun bisnis.

Peluang-peluang kerjasama terbuka luas, salah satunya dengan dukungan Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (UKM), yaitu mencanangkan Gerakan Kewirausahaan Nasional (GKN), sebuah program yang dapat memotivasi generasi muda menjadi wirausaha yang dimulai sejak Februari tahun lalu.

Ternyata program yang dicanangkan oleh Kementerian Koperasi dan UKM menunjukkan hasil yang sangat signitifikan. Pada 2011, terdata jumlah wirausaha di Indonesia baru sebanyak 0,24% dari total populasi penduduk. Namun, ternyata angka ini meningkat, menjadi 1,56% atau sekitar 3.744.000 orang dari jumlah penduduk Indonesia.

Melihat angka pencapaian ini, Menteri Negara Koperasi dan UKM Sjarifuddin Hasan mengaku, optimistis target wirausaha sebanyak 2% dari total populasi penduduk dapat tercapai bahkan terlampaui. "Padahal angka 2% itu kami targetkan tercapai pada 2014," jelasnya.

Agar target tercapai, Kementerian Negara Koperasi dan UKM akan mengembangkan inkubator bisnis dan teknologi melalui empat perguruan tinggi negeri. Sebagai pusat layanan kepada wirausaha pemula, khususnya dalam hal pendampingan keperluan finansial, peningkatan kapasitas, teknologi, dan mendapatkan hak paten.

Adapun tahun ini kementerian mengalokasikan anggaran sebesar Rp30 miliar untuk pendidikan dan pelatihan tenant di 15 inkubator di 12 provinsi.

Kemitraan Bersama

Koperasi akan dimanfaatkan untuk perluasan jaringan usaha melalui kemitraan, serta penerapan kemitraan bersama usaha besar dengan pola pencangkokan untuk memperkecil tingkat kegagalan dan menumbuhkan wirausaha baru di Indonesia. Serta, memfasilitasi jaringan distribusi dan produksi.

Jenis usaha dapat dimulai dari hobi, pengalaman atau hasil interaksi dengan lingkungan. Dan khususnya industri kreatif, teknologi informasi, dan kerajinan, menjadi sektor yang kini berkembang pesat.

Pemerintah siap menjembatani dengan seluruh pemangku kepentingan. Antar kementerian/lembaga, perbankan, BUMN, perguruan tinggi, dan pelaku usaha. Namun kembali lagi kepada generasi muda untuk membudayakan masyarakat wirausaha ini. "Semangat tidak menyerah dan berani menanggung risiko. Kegagalan adalah proses pembelajaran," ujar Sjarifuddin.

Related posts