Semangat Ramadhan dalam Kerukunan dan Kedamaian

Oleh : Ismail, Pemerhati Sosial Kemasyarakatan

Ramadhan merupakan salah satu Bulan yang ditunggu oleh umat Muslim di seluruh dunia, selain terdapat banyak amalan dengan pahala yang besar, Ramadhan adalah bulan dimana manusia kaum muslimin mengendalikan hawa nafsu dari perbuatan yang tidak baik. Hal tersebut tidak hanya bersifat jasmaniah saja, melainkan juga bersifat rohaniah.

Pengendalian nafsu yang bersumber dari panca indera akan membentuk perilaku terpuji. Menahan diri dari lapar dan haus menuntun kita membangun solidaritas kepada mereka yang kurang beruntung.

Selain itu Puasa di bulan Ramadhan mengajak kita untuk meninggalkan segala hal buruk. Puasa membimbing kita untuk mempunyai akhlak terpuji dan perilaku mulia, menebarkan rasa aman dan damai bagi lingkungan masyarakat.

Puasa juga tidak hanya menahan lapar dan dahaga, karena puasa juga mewajibkan kita untuk menghindari diri dari perilaku tercela semacam berbohong, bergunjing, bersumpah palsu, mengadu domba, memfitnah dan menyebarkan hoax.

Memahami kembali hakikat dasar puasa menjadi penting saat ini manakala masyarakat, terutama pengguna media sosial dilanda oleh derasnya berita bohong maupun informasi palsu, termasuk juga misinformasi dan disinformasi.

Parahnya masyarakat yang terdidikpun tidak memiliki imun terhadap kontaminasi gejala tersebut. Terkait dengan pemilu yang baru saja usai dan sekarang tahap penghitungan masih dilakukan oleh KPU, tentu kita berharap agar semua pihak dapat menahan diri, sesuai dengan intisari berpuasa di bulan suci.

Segenap perbedaan yang terjadi, semestinya dirajut kembali demi terwujudkan kerukunan antar masyarakat, dan segala permasalahan yang ada hendaknya dapat diselesaikan dengan cara yang bijak dan tetap saling menghargai.

Bulan Ramadhan sudah sepatutnya menjadi momen untuk saling menyelami kedalam diri, dan juga menjadi momen untuk semakin lekat dengan ritual ibadah yang dapat meningkatkan derajat ketaqwaan manusia dihadapan Tuhan.

Imam Besar Masjid Istiqlal juga mengajak kepada umat muslim untuk menyambut ramadhan dengan penuh ketenangan, kebahagiaan dan kedamaian. Ia juga mengatakan bahwa Ulama sejati tidak akan menghujat orang.

“Jangan pernah menghujat orang, ulama sejati tidak akan pernah menghujat orang. Ulama sejati tdak akan pernah meremehkan orang lain, sementara kita sedang berpuasa,” tutur Nasarudin.

Pada kesempatan yang lain, Tokoh Intelek Muslim, Komarudin Hidayat berpendapat bahwa Tuhan memiliki rencana lain di balik kisruhnya perdebatan antara kedua pendukung Capres dan CAWAPREs pada Pilpres 2019.

Menurutnya, Tuhan telah menakdirkan Pemilu serentak dilaksanakan berdekatan dengan bulan Suci Ramadhan. Dirinya juga berharap, bahwa dengan datangnya bulan Ramadhan, seluruh simpatisan maupun relawan yang andil dalam pemilu 2019 dapat saling memaafkan satu sama lainya, yang sebelumnya telah berdebat karena berbeda pilihan.

“Ini desain Allah setelah Pilpres masuk bulan Ramadhan, ini anugerah dengan Ramadhan itu nanti menjadi cooling down,” tutur Komarudin.

Ia juga mengharapkan agar setelah pencoblosan selesai, para elite parpol, intelektual, hingga ulama – ulama di Indonesia dapat melaksanakan rekonsilasi kembali.

Mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tersebut, juga meyakini bahwa masyarakat dan seluruh elemen pemerintahan dapat segera menyelesaikan perselisihan yang terjadi pada Pemilu 2019.

“Saya optimis bahwa kita biasa menghadapi turbulensi. Oleh karena itu, ribut – ribut ya wajar, mungkin kecewa ya wajar,” paparnya

Bulan Ramadhan yang jatuh setelah Pemilu, tentu diharapkan agar menjadi momentum terbaik untuk membangun rasa persaudaraan dan perdamaian.

Pasca pesta demokrasi, sudah sepatutnya masyarakat menjalin kembali silaturahmi dengan tidak mengumbar emosi secara berlebihan, kebencian, makian dan permusuhan. Tentu akan menjadi sesuatu yang memprihatinkan apabila masih saja ada yang mengutamakan kepentingan diri sendiri atas kelompok lain.

Bulan Ramadhan juga sepatutnya menjadi wadah untuk mensucikan pikiran agar menjadi pikiran yang sehat dan pikiran yang bertanggung jawab. Hal ini cukup penting karena sepanjang pemilu berlangsung, tidak sedikit kampanye hitam dan hoax yang disebarluaskan diberbagai media termasuk media sosial dari kelompok satu kepada kelompok yang lainnya.

Menjaga persatuan dan kesatuan demi keutuhan NKRI pasca Pilpres dan Pileg adalah sesuatu yang penting, membangun sebuah negara bukan hanya peran para politisi, karena membangun bangsa haruslah dimulai dari diri sendiri, tanpa memandang suku, agama dan ras.

BERITA TERKAIT

Dunia Apresiasi Upaya Pencegahan Virus Corona Pemerintah Indonesia

  Oleh : Dodik Prasetyo, Peneliti di Lembaga Studi Informasi Strategis Indonesia (LSISI)   Penyebaran Virus Corona ke berbagai belahan…

Tantangan Perizinan Investasi

  Oleh: Wignyo Parasian, Analis Ekonomi dan Keuangan Kemenkeu *)   Banyak negara khawatir dengan melihat kondisi perekonomian global belakangan…

KUT: Utang Pemerintah yang Belum Lunas

  Oleh:  Teguh Boediyana, Pengamat Perkoperasian dan UKM                   Memasuki tahun 2020  ini tanpa terasa sudah sekitar 20 tahun…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Dampak Positif Penyederhanaan Birokrasi

  Oleh : Evi Kurnaesih, Pengamat Sosial Politik   Pemerintah terus merealisasikan penyederhanaan birokasi. Selain bermanfaat untuk mempercepat pengambilan keputusan,…

Jangan Gagap Memahami Regulasi

  Oleh : Otjih S, Pengamat Kebijakan Publik   Kepala daerah dinilai masih gagap dalam memahami regulasi sehingga acapkali melahirkan…

Layanan Terintegrasi: Solusi Menarik Investasi

    Oleh: Citra Handayani N, Konsultan Pemerintah Estonia pada 2018-2019   Di tengah upaya menarik investasi asing tahun lalu,…