Mewaspadai Gejolak Ekonomi

Oleh: Ambara Purusottama

School of Business and Economic

Universitas Prasetiya Mulya

Kebijakan AS yang kembali menyerang produk asal China menjadi ancaman utama bagi perekonomian global. Awalnya, AS secara sepihak menaikkan tarif produk asal China sebesar 10%. Keputusan tersebut tentunya membuat harga-harga produk asal China ikut meningkat. Aksi tersebut tentunya mempengaruhi permintaan produk asal China menjadi lebih kecil. Sebagai respon atas keputusan sepihak AS, China juga ikut memberlakukan hal yang sama terhadap produk asal AS dengan memberikan kenaikan tarif. Tidak berhenti sampai disitu, AS belakangan kembali menyerang China dengan menaikkan tarif menjadi 25%. Beijing sudah berencana merespon tindakan AS juga dengan melakukan hal yang sama. Keputusan tersebut menyebabkan inflasi global yang meningkat.

Inflasi yang cenderung tinggi membuat namun tidak diimbangi dengan daya beli akan merusak tatanan ekonomi. Harga produk impor yang kian meroket menjadi sulit dijangkau oleh konsumen. Jika berlangsung lama maka struktur ekonomi kedua negara dan bahkan negara-negara lain akan ikut terganggu. Aksi tersebut pada dasarnya hanya ingin menguntungkan negara-negara yang memiliki kebijakan tersebut dan hanya bersifat sementar. AS merasa defisit perdagangan yang dialami dengan China membuat mereka harus bertindak dengan cara menaikkan tarif. Memang diatas kertas setelah menaikkan tarif akan memperpaiki defisit menjadi lebih kecil. Akan tetapi dampak lanjutan akan membuat perekonomian tidak sehat dalam jangka panjang.

Indonesia rentan menjadi korban dari perselisihan antara AS dengan China. Risiko terdekat, jumlah ekspor nasional akan ikut terganggu karena menurunnya jumlah permintaan global. Hal tersebut terbukti pada April 2019, pemerintah melalui BPS merilis neraca perdangan Indonesia mengalami defisit yang cukup besar US$2,5 miliar. Angka tersebut merupakan salah satu yang terburuk yang dialami Indonesia. Ekspor menurun cukup signifikan sebanyak 13,1% dari tahun lalu atau sebesar US$12,6 miliar. Impor juga mengalami penurunan namun tidak setajam ekspor dengan US$15,10 miliar. Penurunan ini terjadi hampir disemua sektor, terutama sektor migas yang memiliki penurunan paling tinggi dengan 37,06% dari tahun lalu.

Padahal beberapa waktu lalu banyak yang memprediksi permasalahan ekonomi global tidak akan terlalu mempengaruhi situasi perekonomian nasional, namun fakta berkata sebaliknya. Indonesia tidak memiliki daya saing yang cukup untuk bersaing di pasar global. Sebagai partisipan pasar global belum dilihat investor sebagai negara tujuan investasi. Saat ini Indonesia kalah dengan Vietnam, Thailand dan juga Malaysia sebagai basis produksi manufaktur sebagaimana mengutip dari Ketua Umum Kadin Rosan Roeslani. Perang dagang AS dengan China membuat produsen asal kedua negara tersebut berlomba-lomba memindahkan basis produksinya ke beberapa negara di Asia Tenggara. Namun kali ini Indonesia belum dilirik oleh investor.

Menurunnya beberapa indikator ekonomi mengharuskan Indonesia untuk mewaspadai dampak ketegangan global yang disulut oleh dua negara adikuasa. IMF telah menyebutkan bahwa pertumbuhan ekonomi global akan sangat terganggu dengan perang dagang yang terjadi. IMF memangkas pertumbuhan ekonomi global menjadi lebih rendah. Jika terus diperpanjang, imbas dari perang perdang tersebut akan menimbulkan korban-korban di belahan dunia lainnya, terutama negara yang belum memiliki fundamental ekonomi yang cukup untuk menghadang ketidakpastian global. Globalisasi dapat menjadi senjata yang mematikan bagi negara yang tidak siap dengan konsekuensi negatif globalisasi.

BERITA TERKAIT

Ekonomi Terjebak Situasi

  Oleh: Ambara Purusottama School of Business and Economic Universitas Prasetiya Mulya   Perubahan situasi global membuat hampir semua negara…

Deindustrialisasi Makin Nyata, Ekonomi Memburuk

Oleh: Anthony Budiawan, Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS) Ekonomi Indonesia 2019 semakin terpuruk. Neraca perdagangan selama empat…

Diversifikasi Ekonomi Daerah

Prediksi sejumlah ekonom bahwa pertumbuhan ekonomi kuartal I-2019 (yoy) sebesar 5,2%, ternyata meleset pada hanya mencapai 5,07%, atau naik tipis…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Mungkinkan PBI untuk UMKM Dinaikkan?

Oleh : Agus Yuliawan Pemerhati Ekonomi Syariah Peran Lembaga Keuangan Mikro Syariah (LKMS) seperti Baitut Tamwil Muhammadiyah (BTM) atau Baitulmaal…

Empat Kesalahan Kelola Penerbangan Domestik

  Oleh: Nailul Huda, Peneliti Center of Innovation and Digital Economy INDEF   Sebuah wacana kembali digulirkan oleh pemerintah untuk…

Ekonomi Terjebak Situasi

  Oleh: Ambara Purusottama School of Business and Economic Universitas Prasetiya Mulya   Perubahan situasi global membuat hampir semua negara…