Investasi Batubara pada 2012 Terus Tumbuh - Bisnis Si Hitam Panas Kian Menggiurkan

NERACA

Harga batubara yang terus membaik membuat sektor ini makin menggiurkan bagi investor. Selain itu batubara juga tidak terpengaruh langsung dengan kondisi krisis pangan dan minyak mentah yang terjadi secara global.

Pengamat pasar modal, Ridwan Novayanto, Senin, 26/03 pada NERACA mengatakan, “Pasar batubara dalam negeri akan meningkat tajam terutama karena dibangunnya banyak PLTU batubara. Peluang ekspor ke luar negeri sangat bagus karena batubara Indonesia memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif.”

Peluang bisnis dan investasi batubara bisa dilihat dari sejumlah item. Misalnya dari sisi hilir terbuka peluang untuk coal supplier terkait kebutuhan PLN dan industri di Pulau Jawa. Coal exporter kendati harus bersaing dengan international coal trader, dan pabrik konversi seperti pabrik pencairan, upgrading, gasifikasi, dan briket.

“Dari sisi armada angkutan batubara, ketersediaan kapal berbendera Indonesia tahun 2005 hanya 35% dan sisanya oleh kapal asing. Jadi terbuka peluang investasi di pembuatan armada,” katanya. Selain itu, untuk pengembangan infrastruktur tambang batubara juga sangat terbuka peluang untuk berinvestasi.

Ridwan mencontohkan sejumlah infrastruktur yang harus dikembangkan adalah jalan darat Sumsel, Sumteng, Kalsel, dan Kalteng. Juga jalan sungai di Sumsel, Kalteng, dan Kalsel. “Jalan kereta api sejumlah wilayah sangat dibutuhkan untuk kelancaran transportasi,” katanya.

Kendati menjadi primadona, ada sejumlah tantangan berat terkait batubara Indonesia. Ridwan mencontohkan penggunaan dan harga batubara domestik rentan menghadapi pasar terbuka dan jumlah batubara yang diangkut untuk domestik makin besar setiap tahunnya. “Dan ini memerlukan infrastruktur serta armada angkutan nasional yang memadai,” katanya.

Menurutnya pertambangan batubara memiliki arti sangat penting dalam pembangunan ekonomi Indonesia. Selain sebagai salah satu sumber penerimaan pajak juga karena menjadi pasokan sumber energi primer dan bahan baku industri. Secara nasional industri tambang menyumbang kepada PDB sebesar Rp 50,6 triliun 2,8%.

“Di Kutai Timur misalnya menyumbang 74,7% dari PDRB. Ini artinya pertambangan penting bagi daerah,” katanya. Saat ini ada tiga pelaku pertambangan batubara Indonesia yakni BUMN PT Tambang Batubara Bukit Asam (Persero), Tbk., Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B), dan Kuasa Pertambangan.

Ridwan mengatakan, investor yang akan banyak menginvestasikan di batu bara tidak hanya investor luar namun investor dalam negeripun akan membanjiri investasi batu bara pada tahun ini, ini menjadi banyaknya investor yang akan menginvestasikan dananya ke batu bara.

Investasi batu bara memang sangat menjanjikan pada tahun ini, dengan harga batu bara di Indonesia yang masi stabil di pasar dunia, dan Indonesia menjadi tujuan para pembeli batu bara untuk kebutuhan bahan bakar.

Harga naik

Asosiasi Pengusaha Tambang Batubara Indonesia (APBI) memproyeksikan produksi batubara Indonesia pada 2011 mencapai 340 juta ton. Naik dari target di 2010 yang besarannya 310 juta ton.

Menurut Ketua Umum APBI Bob Kamandanu kenaikan itu berasal dari perusahaan tambang besar. Produksi perusahaan-perusahaan besar itu naik 5-6%. "Selain itu ada juga tambahan produksi dari tambang-tambang baru," tuturnya.

Target dari para pengusaha ini lebih optimistis dibandingkan dengan target pemerintah yang hanya sebesar 325 juta ton di 2011.

Sementara itu, realisasi produksi batubara sampai September 2010 menurut Bob mencapai 260 juta ton. Lebih tinggi dari catatan pemerintah yang hanya sekitar 200 juta ton.

Industri tambang batubara di Indonesia dibuktikan oleh salah satu pelaku tambang batubara terkenal PT Tambang Batubara Bukit Asam (Persero),Tbk. (PTBA). Harga batubara yang terus naik membuat BUMN ini berhasil membukukan pendapatan sebesar Rp 1,2 triliun di kuartal I 2008.

Dalam rilis yang diterima Persda Network, ada kenaikan sebesar Rp 28,89% dari pendapatannya setahun lalu yang sebesar Rp 957,4 miliar. Sekretaris Perusahaan PTBA Eko Budhiwijayanto mengatakan harga jual rata-rata (tertimbang) batubara perseroan di pasar ekspor pada Januari-Maret 2008 naik siginifikan 36% menjadi 59,7 dolar AS per ton dari 43,8 dolar AS per ton pada periode yang sama tahun 2006.

“Sebagian besar harga jual batubara di pasar ekspor ini menggunakan harga kontrak tahun sebelumnya karena sebagian kontrak menggunakan Japanesse fiscal year yang mempunyai periode April-Maret,” katanya.

Harga jual rata-rata tertimbang di pasar domestik juga naik sebesar 22% menjadi Rp 412.403 per ton. PTBA menargetkan, volume penjualan batubara tahun ini bisa mencapai 13 juta ton, naik 20% dari volume penjualan di tahun 2007.untuk merealisasikan rencananya itu, PTBA akan menyelesaikan dua proyek penting PTBA, yakni PLTU Tambang Banjarsari dan PLTU Tambang Bangko Tengah.

Kerjasama

Indonesia berharap misi perdagangan Polandia bersedia untuk meneruskan kerjasama di sektor energi dan batubara, karena negara itu sangat dikenal dalam pembangunan tambang batubara beserta infrastrukturnya.

“Kita harapkan mereka membangun joint venture di sini untuk pembuatan pabrik produksi alat-alat pengangkutan tambang batubara. Menurut pandangan saya, dua itu yang kemungkinan bisa dikembangkan.”

Selama ini, Indonesia dan Polandia sudah tiga kali melakukan kerjasama bidang batubara, di antaranya dengan Odira Energy. Darmansyah Djumala mengatakan, tiga Nota Kesepahaman yang sudah ditandatangani adalah di bidang wind turbine (tenaga angin), produksi conveyor belt (ban berjalan) serta produksi alat-alat remote sensing. Seluruh kegiatan bisnis ini berbasis di Sumatera.

Darmansyah Djumala menambahkan, “Basisnya di Sumatera Selatan satu di jalan tol di lintas Sumatera karena penerangan lampunya dengan wind turbine. Kedua di daerah remote area dan daerah wisata, karena di sana sekarang pakai generator, tetapi itu kan mahal? Sementara angin ‘kan banyak dari laut di kawasan itu. Untuk sementara daerah yang disasar untuk investasi adalah Pulau Enggano, Pulau Bangka, dan daerah surfing di Pulau Nias dan Mentawai.”

Pelaksanaan pertemuan misi perdagangan Polandia di Indonesia bertujuan untuk meningkatkan hubungan ekonomi kedua negara, yang potensinya belum digarap secara maksimal. Disamping itu, pergeseran pusat ekonomi dunia ke Asia saat ini, menjadi pemicu tingginya minat pengusaha Polandia untuk berinvestasi di Indonesia.

Kementerian Luar Negeri Indonesia mencatat total nilai perdagangan tahun 2010 mencapai 480 Juta Dolar Amerika. Permintaan untuk komoditi Indonesia selalu meningkat, terutama tekstil, elektronik, kopi, teh, produk farmasi, dan sepatu.

Duta Besar Polandia untuk Indonesia, Grzegorz Wisniewski, mengungkapkan batubara tidak hanya untuk produksi energi tetapi juga untuk bahan kimia. Mengingat semua pertambangan dilakukan di bawah tanah, ia memastikan tidak ada kehancuran hutan dan pembuangan emisi gas yang merusak lingkungan. Ia mencontohkan beberapa proyek yang sudah berjalan di Kalimantan.

“Dari sudut pandang lingkungan hidup, seperti yang sudah berjalan di Kalimantan misalnya, di mana kami membangun dua pertambangan batubara bersama perusahaan Kopex, dan ini dibangun saya kira 400 meter di bawah tanah; sehingga kami tidak menghancurkan hutan. Di Polandia, hampir semua tambang batubara dibangun di bawah tanah." (sahlan/agus)

Related posts