Produksi Mobil Listrik Ditargetkan Capai 400 Ribu Unit

Berkembangnya tren industri mobil listrik di kancah global, Indonesia menargetkan produksi mobil bertenaga listrik bisa mencapai 20 persen dari total produksi pada tahun 2025. “Artinya, nanti ada 400 ribu unit. Beberapa dari mereka memang sudah investasi di Indonesia, dan sepertinya akan mulai investasi di electric vehicle dalam satu hingga dua tahun mendatang,” ungkap Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto sebagaimana disalin dari siaran resmi.

Selepas tahun 2025, targetnya akan dinaikkan menjadi 30 persen pada tahun 2030. Target tersebut, diharapkan menopang tujuan untuk menekan emisi gas rumah kaca sebesar 29 persen pada tahun 2030 sekaligus menjaga kemandirian energi nasional.

“Sebab, energi baru terbarukan Indonesia semakin berkembang, seperti minyak sawit yang bisa diolah menjadi green diesel 100 persen hingga avtur. Gasifikasi batubara juga bisa jadi alternatif,” paparnya.

Airlangga menyebut, pengembangan kendaraan listrik akan dapat mengurangi ketergantungan pada pemakaian BBM serta mengurangi ketergantungan pada impor BBM. Hal ini berpotensi menghemat devisa sekitar Rp789 triliun.

Sejumlah pihak optimistis Indonesia mampu mengembangkan dan mengaplikasikan teknologi bahan bakar hijau untuk kendaraan. Pemanfaatan teknologi canggih, diyakini dapat membantu menyikapi kebutuhan energi alternatif. Selain sawit, Indonesia juga berpeluang mengembangkan energi dari ganggang guna menjadi bahan bakar.

“Indonesia juga akan mengandalkan cadangan bijih nikelnya yang melimpah, sebagai bahan baku utama dalam pembuatan baterai kendaraan atau peralatan listrik, sekaligus menjadikannya sebagai daya tarik investasi bagi perusahaan asing yang ingin memperluas produksi,” terangnya.

Upaya mengolah sumber daya alam melalui kebijakan hilirisasi industri telah mampu meningkatkan nilai tambah. Selain dapat menstabilkan harga komoditas, hilirisasi juga dipacu untuk menyubstitusi impor bahan baku.

Indonesia akan memiliki pabrik yang memproduksi material energi baru dari nikel laterit. Ini melalui investasi PT. QMB New Energy Materials di kawasan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), Sulawesi Tengah, yang ditargetkan akan beroperasi pada pertengahan tahun 2020.

Proyek industri smelter berbasis teknologi hydrometallurgy tersebut akan memenuhi kebutuhan bahan baku baterai lithium generasi kedua nikel kobalt yang dapat digunakan untuk kendaraan listrik. Total investasi yang ditanamkan sebesar USD700 juta dan akan menghasilkan devisa senilai USD800 juta per tahun.

Menperin menambahkan, strategi dalam mendukung pengembangan LCEV, di antaranya melalui pemberian insentif fiskal berupa tax holiday atau mini tax holiday untuk industri komponen utama, seperti industri baterai dan industri motor listrik (magnet dan kumparan motor).

BERITA TERKAIT

Yamaha MT-25 Model 2020 Hadir Dalam Tiga Warna

Yamaha memperkenalkan sepeda motor naked sport bermesin 250cc, MT-25 model tahun 2020, secara serentak di Asia dan Eropa pada Rabu…

New Honda Sonic 150R Punya Corak Grafis Lebih Agresif

PT Astra Honda Motor (AHM) memperkenalkan New Honda Sonic 150R dengan tampilan terbaru melalui penyematan stripe (corak grafis) yang menambah…

Penjualan Hyundai di Amerika Serikat Tercatat Menurun

Hyundai Motor Co dan perusahaan afiliasinya Kia Motor Corp, pada Rabu (02/10), mengaku penjualan kendaraan mereka di Amerika Serikat (AS)…

BERITA LAINNYA DI OTOMOTIF

Yamaha MT-25 Model 2020 Hadir Dalam Tiga Warna

Yamaha memperkenalkan sepeda motor naked sport bermesin 250cc, MT-25 model tahun 2020, secara serentak di Asia dan Eropa pada Rabu…

New Honda Sonic 150R Punya Corak Grafis Lebih Agresif

PT Astra Honda Motor (AHM) memperkenalkan New Honda Sonic 150R dengan tampilan terbaru melalui penyematan stripe (corak grafis) yang menambah…

Penjualan Hyundai di Amerika Serikat Tercatat Menurun

Hyundai Motor Co dan perusahaan afiliasinya Kia Motor Corp, pada Rabu (02/10), mengaku penjualan kendaraan mereka di Amerika Serikat (AS)…