Panitera Pengganti PN Jaksel Akui Terima Rp10 Juta

Panitera Pengganti PN Jaksel Akui Terima Rp10 Juta

NERACA

Jakarta - Panitera pengganti Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel) I Gde Ngurah Arya Winata mengaku menerima Rp10 juta dari rekannya sesama panitera pengganti Muhammad Ramadhan karena menjadi penghubung dengan hakim PN Jaksel.

"Saya buka amplop, isinya ada uang, uang saya serahkan ke staf saya di PN, jumlahnya Rp10 juta, uangnya sekarang di KPK," kata Ngurah Arya di pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Kamis (9/5).

Ngurah menjadi saksi untuk dua terdakwa yaitu dua hakim pengadilan negeri Jakarta Selatan yaitu R Iswahyu Widodo dan Irwan didakwa menerima uang sejumlah Rp150 juta dan 47 dolar Singapura (senilai total Rp680 juta) dari pengusaha Martin P Silitonga melalui panitera pengganti PN Jakarta Timur Muhammad Ramadhan.

Uang itu di antarkan oleh istri Ramadhan, jaksa Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan Deasy Diah Suryono yang kerap bersidang di PN Jaksel. Ramadhan sendiri juga pernah bertugas di PN Jaksel."Waktu itu datang istrinya Ramadhan ke ruang saya. Namanya saya lupa, datang ke ruang saya bawa amplop beliau datang dengan toga dan langsung menaruh saja di meja, dia mengatakan ini titipan dari suami saya. Beliau langsung pergi dan tidak komentar," tambah Ngurah.

Awal permintaan Ramadhan ke Ngurah adalah saat bertemu dalam acara buka puasa bersama dan dimintai tolong Ramadhan untuk mengirimkan pesan kepada dua hakim PN Jaksel yaitu Iswahyu dan Irwan.

"Awalnya saya menolak tapi karena terdesak, saya sebagai orang Bali saya sampaikan ke Pak Iswahyu dan Irwan, dia minta tolong dibantu soal perkara itu," ucap Ngurah.

Perkara yang dimaksud adalah perkara perdata No. 262/Pdt.G/2018 PN JKT.SEL dengan penggugat pemilik PT CLM Isrullah Achmad dan direktur PT CLM Martin P Silitonga dengan pengacaranya Arif Setiawan melawan tergugat PT APMR, dirut PT CLM Thomas Azali dan notaris Suzanti Lukman.

"Pokoknya minta perkara 262 itu, akhirnya saya temui Pak Wahyu dan Irwan. Saat itu responnya 'ya nanti dilihat', mereka mengatakan itu bersama-sama," ungkap Ngurah.

Deasy yang juga menjadi saksi dalam perkara itu mengatakan bahwa suaminya menitipkan amplop kepadanya untuk diserahkan kepada Ngurah.

"Suami saya pernah nitip amplop ke saya. Suami saya bilang 'Sayang tolong titip ke Pak Ngurah', saya tanya apa,? kata suami saya 'surat' lalu surat itu ditaruh tas saya setelah itu siang sekitar pukul 14.00 WIB, saya mau sidang saya ingat lalu saya ke ruangan Pak Ngurah, setelah itu saya taruh surat dari suami dan saya tinggalkan," kata Deasy yang saat ini dipindahtugaskan ke Kejaksaan Agung pascaoperasi tangkap tangan (OTT) terhadap suaminya. Ant

BERITA TERKAIT

BPII Terima Dividen Tunai Rp 12,99 Miliar

PT Batavia Prosperindo Internasional Tbk (BPII) pada tanggal 12 Juni 2019 memperoleh dividen tunai tahun buku 2018 sebesar Rp12,99 miliar…

Garap Proyek LRT - ADHI Terima Pembayaran III Rp 1,2 Triliun

NERACA Jakarta –Perusahaan kontruksi plat merah, PT Adhi Karya Tbk (ADHI) menerima realisasi pembayaran tahap III pengerjaan proyek Light Rail…

KPK Terima 94 Laporan Gratifikasi Terkait Idul Fitri 1440 H

KPK Terima 94 Laporan Gratifikasi Terkait Idul Fitri 1440 H NERACA Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sejak 20 Mei…

BERITA LAINNYA DI HUKUM BISNIS

Kasus SAT Tidak Bisa Dikaitkan Dengan SN

Kasus SAT Tidak Bisa Dikaitkan Dengan SN NERACA Jakarta - Kasus Syafruddin Arsyad Temenggung (SAT) sangat berlainan dan tidak bisa…

Konflik Agraria Kawasan Hutan Serius Diselesaikan - Reforma Agraria

Konflik Agraria Kawasan Hutan Serius Diselesaikan Reforma Agraria NERACA Jakarta - Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya, Kamis…

Tugas Kolektor Pinjaman Online: Menjembatani Penyedia Jasa dan Nasabah

Tugas Kolektor Pinjaman Online: Menjembatani Penyedia Jasa dan Nasabah NERACA Jakarta – Jika ada divisi yang paling disibukkan dalam industri…