Mendefinisikan Keunggulan di Tengah Disrupsi

Oleh: Rifky Bagas Nugrahanto, Staf Ditjen Pajak

Pernahkah terlintas untuk berpikir, apa yang sedang dituju oleh negara Indonesia, apa yang sedang dirumuskan untuk menuju ke sana, dan perkembangan apa yang telah dicapai hingga saat ini. Semua hal tersebut mungkin sering terlewatkan bagi rata-rata individu di negeri ini.

Disrupsi informasi mungkin menjadi salah satu faktor yang belum bisa dikelola dengan baik, yang menyebabkan terkadang terlihat bias bagi sebagian masyarakat. Pengaruh dari pihak eksternal pun masih menjadi nilai variabel yang keberadaanya sangat berpotensi memengaruhi kondisi di Indonesia. Jika keadaan eksternal masih memberikan pengaruh yang cukup besar, bagaimana pula dengan faktor variabel kestabilan di dalam negeri.

Dalam sebuah persamaan linear, dibutuhkan nilai tetap atau konstanta yang terdiri dari faktor-faktor yang bisa dikendalikan. Sebenarnya jika arah yang jelas dijadikan ukuran konstanta yang utama, konstanta tersebut harus menjadi nilai yang jelas dan terukur.

Untuk konstanta positif sendiri, negara Indonesia perlu menempatkan faktor keunggulan yang dimiliki dan sumber daya yang secara aktif mendukung sebagai potensi. Faktor keunggulan ini seharusnya juga merupakan kemajuan yang sudah menjadi dasar dan sudah tersistem. Kita tidak bisa menempatkan keunggulan namun dengan ukuran yang belum bisa tervalidasi. Dan kita tidak bisa pula menyatakan keunggulan yang berupa sumber daya alam namun dengan kenyataan, kita masih terkendala kurangnya potensi untuk mengelolanya.

Perbandingan Keunggulan

Seperti negara Jerman, yang merupakan negara dengan ekonomi terbesar keempat. Keunggulan negara Jerman ialah standar tinggi dalm budaya bisnis ketika berkaitan dengan etik, hukum, dan regulasi. Keunggulan yang tersistem ini juga menciptakan suatu kebijakan yang menghapus biaya dengan tujuan untuk mendorong pertumbuhan bisnis. Dampak jauhnya yang didapat negara Jerman ialah keloyalan dari klien atas pemberian kualitas tinggi atas pelayanan birokrasi.

Bukan itu saja, di negara Jerman, pusat perekonomian tidak berpusat pada satu kota. Jerman mempunyai banyak pusat bisnis yang berpotensi menjadi pencetak ekonomi besar, yaitu, Berlin, Frankfrut, Muenchen, dan Hamburg.

Melihat negara Jerman, berbeda pula jika membandingkannya dengan negara Jepang. Negara dengan budaya tradisional yang paradox yang selalu menghindari risiko, ternyata tidak serta merta membatasi kemajuan teknologi yang telah diraih negara tersebut.

Nilai etika sosial yang menyiratkan lapisan-lapisan ekonomi bisnis, membuat sistem perekonomian Jepang menjadi unggul karena nilai yang mereka bawa yang sudah tersusun rapi di dalam setiap DNA (Asam deoksiribonukleat) sumber dayanya. Mungkin kebiasaan membaca yang dimiliki masyarakat Jepang yang terlihat simpel, ternyata memberikan pengaruh yang besar terhadap pembentukan karakter yang berjiwa nasionalis dan mencintai segala sesuatu yang ada di Jepang serta tidak berusaha merusaknya.

Selain itu, negara Swiss pun tidak luput dari keunggulan yang mereka miliki. Pembangunan di bidang riset untuk meningkatkan pembangunan ekonominya, menjadi salah satu kerja keras yang terbayarkan. Kurang tersedianya sumber daya alam, tidak menjadi suatu penghalang yang besar untuk mencapai tingkat kemajuan ekonomi.

Sekarang ini, Swiss sudah menjadi pemimpin dunia dalam bidang perbankan dan keuangan. Kepatuhan dalam dalam pelaksanaan peraturan pemerintah menjadi suatu keunggulan yang mendukung inovasi yang dilakukan. Nilai-nilai budaya tradisional tidak ditinggalkan, dan menjadi jati diri di dalam seluruh sektor keuangan Swiss dalam beberapa periode ini.

Dan jangan pernah lupakan hal penting lain, bahwa Swiss telah mempunyai sistem perbankan yang mendukung sektor industri cryptocurrency. Hal itu merupakan salah satu unggulan yang dimiliki Swiss, yang didukung manajemen risiko yang relevan dan menggunakan sistem kepatuhan yang tepat.

Keunggulan Sistem

Lalu, bagaimana dengan Indonesia? Tiga negara maju sebelumnya mempunyai keunggulan yang sama dalam hal menjaga budaya tradisonal untuk menjadi jati diri dalam setiap sektor bisnisnya. Selain itu, kepatuhan terhadap peraturan menjadi salah satu kekuatan di dalam membangun stabilitas internal.

Masing-masing negara tersebut menciptakan sistem birokrasi yang sesuai dengan arah yang dituju. Mungkin itulah yang perlu dipelajari bagi Indonesia. Bagaimana suatu kebijakan yang diterbitkan benar-benar searah dengan tujuan yang ditetapkan.

Dan sekali lagi, disrupsi memberikan pengaruh yang besar terhadap pengelolaan kebijakan di negeri ini. Isu perkembangan industri start-up yang ada, menyediakan infrastruktur yang memadai di seluruh Indonesia, mengejar produktivitas kinerja ekspor, meningkatkan penerimaan negara, atau memberdayakan industri UMKM namun tak melupakan juga pengusaha-pengusaha besar sebagai penanam investasi. Apalagi mengejar rasio pajak yang diharapkan bisa tinggi, menjadi satu hal yang bias fokusnya. Menjadikan keraguan atas langkah awal apa yang seharusnya dilakukan terlebih dahulu.

Hal penting yang dipelajari lagi dari negara maju ialah sistem yang sudah distandarkan dan dipatuhi setiap masyarakatnya. Dan sekali lagi, bagaimana Indonesia bisa mengetahui jelas dampak kebijakan yang diterapkan dalam bidang ekonomi, jika masih ditemukan ketidakpatuhan dalm basis pelaporan sesuai bidang usaha yang tervalidasi.

Berbicara untuk menakar keunggulan atas sektor yang diperhatikan, akan terasa tidak relevan juga jika masih ditemukan basis data yang kurang tepat. Tidak dilakukannya pembaruan KLU (Klasifikasi Lapangan Usaha) yang seharusnya mencerminkan seberapa potensikan sektor-sektor tertentu yang dimiliki pemerintah dalam hal perpajakan.

Industri dalam negeri ini masih memerlukan biaya pengawasan yang besar dan kepatuhan atas basis pajak yang belum juga merata. Sekali lagi, Indonesia tidak bisa menggaungkan bahwa sumber daya alam yang besar adalah suatu keunggulan yang mutlak. Perlu adanya sistem yang kuat dan jelas serta melekat dalam diri masyarakat Indonesia.

Ekonomi tidak bisa dibangun jika internal tidak bisa menciptakan keunggulan yang nyata. Dasar-dasar ekonomi yang tidak kuat sejatinya akan mudah goyah. Dan kembali lagi, kita akan selalu mempertanyakan di mana arah ekonomi kita ini, tanpa suatu upaya dalam memperbaiki diri dan mendefinisikan lagi keunggulan apa yang sebenarnya kita punyai serta kelemahan yang perlu segera diatasi.

BERITA TERKAIT

Menelisik Sosok Firli, Ketua KPK yang Baru

  Oleh : Dwi Ayu, Pemerhati Sosial Politik   Irjen Pol. Firli Bahuri, menjadi satu – satunya calon pimpinan KPK…

Karut Marut Birokrasi dan Layanan Kemudahan Investor

    Oleh: Pril Huseno Info Bank Dunia kepada Presiden Jokowi terkait 33 perusahaan China yang hengkang dari negaranya, dan…

Jurus Jitu Dongkrak Pertumbuhan via FDI Berbasis Ekspor

  Oleh: Roni Agung, Staf Bea Cukai Cikarang Kemenkeu Pertumbuhan ekonomi Indonesia ditargetkan mencapai kisaran 5,3%. Oleh karena itu, Indonesia memerlukan Foreign Direct Investment…

BERITA LAINNYA DI OPINI

E-Commerce Dukung UMKM dan Pertumbuhan Ekonomi

Oleh: Ika Puspita Karyati, Staf Pusdiklat Keuangan Umum BPPK, Kemenkeu   Kita telah memasuki era digital, dimana semua hal memungkinkan…

Memilih Menteri Merupakan Hak Prerogatif Presiden

  Oleh : Rendi Alfiansyah, Pengamat Masalah Sosial Politik   Pemilu 2019 telah usai, masyarakat-pun mulai menerka – nerka siapa…

Menelisik Sosok Firli, Ketua KPK yang Baru

  Oleh : Dwi Ayu, Pemerhati Sosial Politik   Irjen Pol. Firli Bahuri, menjadi satu – satunya calon pimpinan KPK…