Harita Group Ajak Masyarakat Selesaikan Masalah Sampah

Sebagai bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR), Harita Nickel Division merangkul masyarakat Desa Kawasi, Kecamatan Obi, Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel), Maluku Utara (Malut) melalui kegiatan soft launchingsistem pengelolaan sampah terpadu. “Program ini bertujuan menciptakan Desa Kawasi bebas sampah pada tahun 2019 agar tidak mengganggu lingkungan sekitar,”kata Superintendent Community Development CSR Harita Nickel, Dea Maulana Yusuf di Ternate, kemarin.

Menurutnya, program ini tidak mungkin diselesaikan jika pihak perusahaan dan masyarakat berjalan sendiri-sendiri. Oleh karena itu, perusahaan berharap kegiatan yang digagas oleh divisi CSR ini diharapkan menjadi solusi atas penumpukan sampah di Desa Kawasi yang selama ini sering menimbulkan masalah, terutama dari segi kesehatan.

CSR Harita Nickle Division memiliki konsep penyelesaian masalah sampah dari hulu ke hilir. Adapun tiga langkah yang terdapat dalam konsep tersebut adalah meminimalkan timbulnya sampah (reduce), melakukan pengolahan sampah (recycle), serta memilah sampah yang masih bisa dimanfaatkan kembali (reuse). Harita Nickle Division menggandeng masyarakat dalam menjalankan program ini demi terwujudnya lingkungan hidup yang bersih dan nyaman bagi setiap orang.”Setidaknya ada dua produk olahan sampah dari penanganan terpadu ini. Pertama, sampah organik dapat diolah menjadi kompos dengan menggunakan mesin pencacah dan mesin rotary kiln komposter," ujar Dea.

Selain itu, sampah anorganik jenis plastik akan diproses menjadi biji plastik yang dapat memiliki nilai jual, sehingga dengan konsep tersebut, akan terjadi penurunan timbunan sampah hingga 85% dan sampah yang dibuang di tempat pembuangan akhir (TPA) hanya sekitar 15%. Dia mengakui, program ini berawal dari kepedulian Harita Nickle Division yang melihat banyaknya sampah di Desa Kawasi.

Dari desa yang dihuni sekitar 400 kepala keluarga ini, sampah yang dihasilkan per harinya bisa mencapai 2 ton. Banyak masyarakat di Desa Kawasi yang membuang sampah mereka begitu saja di sungai, laut, maupun di sudut-sudut desa. Meski ada sebagian masyarakat yang membakar sampah mereka, tetapi hal itu belum optimal dalam melenyapkan tumpukan sampah.

Selain itu, sampah yang dibuang secara sembarang itu kemudian menimbulkan persoalan. Aliran sungai menjadi tercemar dan sampah yang berserakan juga merusak keindahan pantai Desa Kawasi. Sementara itu, masyarakat banyak melakukan aktivitas di sekitar laut dan pantai seperti mencari ikan dan hilir-mudik transportasi antarpulau. Gangguan kesehatan juga muncul dari sampah yang menumpuk. Banyak jentik nyamuk dan bakteri yang tumbuh subur di tumpukan sampah tersebut dan mengancam kesehatan masyarakat.

Mewakili pemerintah desa, Kepala Urusan Kemasyarakatan Desa Kawasi, Ledrik Langkody mengungkapkan apresiasinya terhadap kegiatan CSR Harita Nickle Division ini. Menurutnya, hal ini mampu menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pengelolaan sampah.”Ini program yang baik bagi masyarakat. Kegiatan ini bisa memperbaiki lingkungan dan juga kesehatan masyarakat," jelasnya.

Dia pun siap melibatkan masyarakat secara intens dalam mendukung program pengelolaan sampah ini. Selain Ledrik, Ketua Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Desa Kawasi Ida Nurdin juga mengacungkan jempol terhadap program ini.

Menurutnya, masih banyak masyarakat yang bingung dalam membuang dan mengelola sampah rumah tangga mereka selama ini. Akhirnya, sebagian masyarakat awam lebih memilih membuang sampah mereka secara sembarang."Terlebih lagi dengan sudah tersedianya tong sampah berwarna yang disesuaikan dengan jenis sampah, masyarakat semakin mudah dalam membuang sampah," ujarnya. (ant/bani)

BERITA TERKAIT

Menjaga Eksistensi Warisan Nenek Moyang - Festival Pesona Lokal Membawa Cerita di Masa Kecil

Bandung Paris Van Java atau Paris dari Jawa adalah sebutan yang tidak asing lagi untuk menggambarkan kota Bandung yang terkenal…

Peduli Budaya Suku Pedalaman - Menteri BUMN Berikan Bantun Peletarian Suku Badui

Pesatnya dan majunya perkembangan zaman, tidak membuat eksistensi suku Badui sebagai suku terdalam di Lebak, Banten ikut punah. Bahkan sebaliknya,…

Bank Muamalat dan BMM Renovasi Rumah Warga Sukabumi

Rumah sebagai tempat tinggal atau berlindung merupakan kebutuhan pokok dari masyarakat, namun seiring dengan membengkaknya harga tanah tiap tahunnya membuat…

BERITA LAINNYA DI CSR

Menjaga Eksistensi Warisan Nenek Moyang - Festival Pesona Lokal Membawa Cerita di Masa Kecil

Bandung Paris Van Java atau Paris dari Jawa adalah sebutan yang tidak asing lagi untuk menggambarkan kota Bandung yang terkenal…

Peduli Budaya Suku Pedalaman - Menteri BUMN Berikan Bantun Peletarian Suku Badui

Pesatnya dan majunya perkembangan zaman, tidak membuat eksistensi suku Badui sebagai suku terdalam di Lebak, Banten ikut punah. Bahkan sebaliknya,…

Bank Muamalat dan BMM Renovasi Rumah Warga Sukabumi

Rumah sebagai tempat tinggal atau berlindung merupakan kebutuhan pokok dari masyarakat, namun seiring dengan membengkaknya harga tanah tiap tahunnya membuat…