Agar Mudik Tak Menuai Polemik

NERACA

Jakarta – Pulang kampung atau mudik selalu menjadi kegiatan rutin tahunan saat lebaran untuk bersilaturahmi kepada keluarga yang berada di kampung halaman. Akan tetapi kegiatan mudik ini kerap memakan korban jiwa yang disebabkan karena kendaraan yang bermasalah, fisik pemudik yang kurang fit hingga masalah infrastruktur jalan yang kurang memadai. Masalah mudik itu dibahas tuntas oleh Koordinator Jaringan Aksi Keselamatan Jalan (Jarak Aman), Edo Rusyanto dalam buku terbarunya Mudik Minim Polemik.

Dalam peluncuran buku itu, Edo yang juga seorang jurnalis ini menyampaikan bahwa latar belakang pembuatan judul buku itu berangkat dari pengalaman pribadinya yang melakukan mudik setiap tahunnya saat lebaran. "Buku ini saya kasih judul 'Mudik Minim Polemik' meskipun ada yang bilang pesimis kenapa bikin buku kayak begini," kata dia di Jakarta, Selasa (7/5).

Edo mempunyai pengalaman mudik selama 10 tahun dengan menjajal 3 transportasi yaitu motor, bus hingga kapal. Dari ketiga jenis transportasi itu, ia banyak menemui persoalan. "Saya coba naik motor di Semarang dan Yogyakarta seperti apa naik motor. Ternyata perjuangannya luar biasa menghadapi perjalanan lewat darat. Kemudian bus juga. Ternyata mudik itu memang tetap terjadi kecelakaan jumlah korban meninggal luar biasa," paparnya.

Oleh karena itu, kata Edo melalui peluncuran buku ini diharapkan ke depan persoalan pada saat mudik dapat diselesaikan. Terutama masih banyaknya jumlah korban jiwa akibat kecelakaan lalu lintas, yang rata-rata didominasi oleh pengendara motor. "Negara ini kehilangan 80 orang hilang sia-sia di jalan raya itu anak-anak bangsa. Selama ini korban kecelakaan adalah usia produktif," kata dia.

Kendati demikian, dia memandang saat ini langkah pemerintah dalam menekan angka kecelakaan tersebut sudah cukup baik. Terutama, dengan banyaknya program mudik gratis yang ditawarkan sejumlah kementerian hingga Badan Usaha Milik Negara (BUMN). "Mudik yang berlangsug selama 16 hari perhatian negara demikian kuat terhadap pengguna jalan dan secara umum kepada masyarakat. Maka saya berpkir jangan-jangan menurunnya angka kecelaaan itu karena stakeholder kompak perhatiannya juga serius. 2018 ada 62 BUMN menggerakan instrumen dengan upaya memindahkan penggunaan pribadi motor dengan menggunakan bus," sebutnya.

Oleh sebab itu, kata Edo, keseriusan pemerintah dalam menekan angka kecelakaan harus terus didorong. Jangan sampai perhatian khusus ini hanya diberikan pada saat momentum mudik saja, namun setelah itu tidak ada tindak lanjut dari pemerintah. "Sebentar lagi supir angkutan diperiksa tensinya sebelum mudik. Mereka melakukan itu. Tapi setelah mudik tidak diperiksa lagi yang masih membawa puluhan nyawa di angkutan umum. Makanya saya minta pemerintah yang sudag menerapkan hal yang positif saat mudik juga diperiksa. Ada apa kok setelah musim mudik tidak dilakukan?" pungkasnya.

Kini pemudik banyak yang menggunakan sepeda motor untuk sampai di kampung halamannya. Pengamat Transportasi Darmaningtyas mengatakan bahwa awal mula mudik menggunakan motor terjadi saat 1996 yang dimulai oleh para tukang ojek. “Saat itu tarif bus tidak terkendali dan jumlah juga terbatas maka para tukang ojek itu menggunakan sepeda motornya untuk mudik. Mereka (ojek) membuktikan mudik pakai motor itu jauh lebih cepat sampainya,” jelasnya.

Kini jumlah pemudik yang menggunakan sepeda motor diprediksi meningkat. Akan tetapi perlu diingat bahwa kendaraan roda dua atau motor bukanlah kendaraan untuk jarak jauh sehingga dihimbau untuk tidak menggunakan motor untuk mudik. Pemerintah juga telah menyediakan program mudik untuk para pengendara motor. “Mudik menggunakan motor itu memindahkan angka kecelakaan dari Jakarta ke daerah. Makanya akan lebih baik menggunakan angkutan umum seperti bus, kereta atau kendaraan lainnya,” jelasnya.

Disamping itu, ia mengatakan pemerintah daerah cenderung tidak peduli dengan angkutan umum. Hal itu dibuktikan dengan susahnya mencari angkutan umum untuk bisa mencapai lokasi tujuan. “Di Jogja yang dikenal sebagai kota wisata, itu susah mendapatkan angkutan umum, alhasil masyarakat lebih memilih angkutan online. Jadi bisa dikatakan angkutan umum di daerah itu nyaris mati suri. Karena matinya angkutan umum, maka banyak pemudik menggunakan motor,” jelasnya.

BERITA TERKAIT

Punya 737 Gerai, SiCepat Ekspres Targetkan Kirim 1Juta Paket Perhari

    NERACA   Jakarta – PT SiCepat Ekspres Indonesia telah ingin terus menambah kapasitas gerai yang diakhir tahun 2019…

2020, PLN Fokus Listriki 78.000 Rumah di Papua

      NERACA   Jakarta – Jadi tugas besar bagi PT PLN Direktorat Bisnis Regional Maluku dan Papua untuk…

Kendalikan Impor, Pemerintah Dorong Pemanfaatan PLB E-Commerce

  NERACA   Jakarta - Untuk dapat mengendalikan maraknya peredaran produk-produk impor yang membanjiri Indonesia, pemerintah mendorong pengusaha importir dan…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Piko Hidro Disiapkan untuk Bantu Terangi Papua

      NERACA   Jakarta - Dibandingkan 32 provinsi lain yang ada di Indonesia, rasio elektrifikasi di Papua dan…

Tarif LRT akan Dibanderol Rp12 ribu

    NERACA   Jakarta - Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi mengemukakan bahwa perkiraan tarif tiket kereta layang ringan…

Program PKH Dinilai Ubah Perilaku Hidup

    NERACA   Jakarta - Program Keluarga Harapan (PKH) berdasarkan survei independen MicroSave Colsulting Indonesia berdampak signifikan mengubah perilaku…