Laba Bersih MD Picture Menyusut 84,4% - Tunda Rilis Film Baru

NERACA

Jakarta – Performance kinerja keuangan PT MD Pictures Tbk (FILM) tidak seapik produksi film yang dihasilkan. Pasalnya, perseroan mencatatkan penurunan laba bersih sebesar 84,4% menjadi Rp 15,6 miliar pada kuartal I 2019 dibandingkan periode yang sama tahun lalu yaitu sebanyak Rp 65,1 miliar.

Menurut Direktur Utama MD Pictures Manoj Punjabi, dalam bisnis film penurunan tersebut lumrah terjadi. Sebab, produksi dan peluncuran film bisa berubah sewaktu-waktu.”Bukan kurang begitu bagus. Di bisnis ini kita enggak bisa nebak. Kadang film yang kita line up enggak sesuai ekspektasi, atau memang targetnya begitu. Contohnya kita mau rilis film Danur saat Lebaran. Tapi kita delay di kuartal III, pasti kena effect,”ungkapnya.

Dirinya menjelaskan, bisnis pada film berbeda dengan misalnya, bisnis pabrikan. Dalam bisnis ini, produksi film tidak bisa dilakukan tiap hari. Pun juga dengan peluncurannya. Untuk itu, jika film belum ditayangkan maka pemasukan bagi MD Pictures juga seolah-olah tertahan. Namun begitu film selesai diproduksi lalu diluncurkan, pendapatan dari satu film tersebut bisa menutup kekosongan pendapatan pada bulan-bulan sebelumnya.“Di bisnis ini beda banget. Satu bulan bisa mengangkat 7 bulan punya income. Saya di kuartal IV 2018 sudah tahu line up saya di kuartal I 2019. Jadi ini bukan shock. Up and down ini sudah spekulasi, sudah diperhitungkan,” ujarnya.

Bagi dia sejauh ini kinerja perseroan masih sangat stabil. Perseroan juga yakin di 6 bulan terakhir pada 2019 ini bisa mencatatkan kinerja yang lebih baik dari tahun lalu. Selain itu, pihaknya masih punya dua film andalan yang akan segera tayang tahun ini. “Insyaallah saya percaya dengan line up tahun ini rilis film akan lebih kuat lagi. Ada Danur 3 ada Habibie Ainun 3. Itu adalah film-film yang akan berkontribusi besar terhadap pembukaan tahun 2019,” tandasnya.

Disampaikannya pula, magnet kuat film Avangers:Endgame yang saat ini masih merajai tanga perfilman dinilai bukan sebagai hambatan. Perusahaan tidak mengeluarkan strategi untuk meredam kepopuleran film produksi Marvel. "Film Endgame laku, itu bagus. Dalam satu dekade, pasti ada film yang ikonik. Misalnya pada 90, ada Titanic,nah sekarang ada Endgame. Ini fenomena dunia yang biasa. Tetapi kami optimistis masih ada prospek di pasar dalam negeri dan ramainya Endgame menambah positif industri film," jelasnya.

Manoj menilai serapan dana hasil penawaran public masih sesuai jalur. FILM telah bekerja sama dengan anak usahanya PT Studio Tujuh (Studio 7) untuk membangun fasilitas Sound Stage dengan nilai transaksi sebesar Rp40 miliar. Adapun, Sound Stage tersebut merupakan ruangan kedap suara yang dapat digunakan untuk memproduksi film perseroan maupun pihak lain yang membutuhkan. Selain itu keduanya juga akan membangun Studio Sound Mixing berkelas internasional untuk insan perfilman Indonesia dan internasional.

Keduanya bisa meraup pendapatan tambahan dari hasil usaha bersama tersebut, yaitu Sound Stage dan Studio Sound Mixing, dengan cara menyewakan atau menyediakan layanan kepada pihak-pihak yang membutuhkan. Perseron juga bisa menciptakan pangsa pasar yang lebih besar. FILMmasih memiliki sisa dana penawaran umum sebesar Rp213 miliar setelah merealisasikan sekitar Rp54 miliar.

BERITA TERKAIT

Kantungi Empat Proyek Baru - TOTL Pede Target Kontrak Baru Capai Rp 2 Triliun

NERACA Jakarta – Mengandalkan proyek-proyek pembangunan gedung dan infrastruktur lainnya, tidak menjadi kekhawatiran bagi PT Total Bangun Persada Tbk (TOTL)…

IPO Almazia Ditaksir Oversubscribed 3 Kali

NERACA Jakarta – Jelang pencatatan sahamnya di Bursa Efek Indonesia, PT Sinarmas Sekuritas selaku penjamin emisi penawaran umum saham perdana…

MAPI Lunasi Pokok Obligasi Rp 205,45 Miliar

NERACA Jakarta – Pangkas beban utang dan juga menjaga kesehatan keuangan, PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) telah melunasi pokok obligasi…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Perbaiki Kinerja Keuangan - INAF Kembangkan Strategic Business Unit

NERACA Jakarta – Dorong pengembangan bisnis lebih ekspansif, PT Indofarma Tbk (INAF) fokus mengembangkan strategi pendirian strategic business unit (SBU)…

Melalui Proyek ISED - Siapkan SDM Unggul di Manufaktur dan Pariwisata

NERACA JAKARTA - Indonesia telah memasuki era digitalisasi dan Industri 4.0. Bersamaan dengan hal tersebut, pemerintah Indonesia telah meluncurkan “Making…

Geliatkan KEK Tanjung Lesung - KIJA Cari Investor Potensial Kembangkan Wisata

NERACA Jakarta – Bangkit dari musibah gempa dan tsunami Banten yang terjadi pada 2018 lalu, PT Kawasan Industri Jababeka Tbk.…