Moody’s Beri Peringkat Ba3 Chandra Asri

NERACA

Jakarta - Moody's Investors Service menegaskan peringkat Ba3 terhadap PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) dengan outlook stabil.Selain itu, Moody's juga menegaskan peringkat Ba3 pada obligasi global TPIA sebesar US$300 juta. Obligasi diterbitkan oleh TPIA dan dijamin oleh anak perusahaannya, PT Styrindo Mono Indonesia dan PT Petrokimia Butadiene Indonesia.

Vice President and Senior Credit Officer Moody's, Brian Grieser dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin mengatakan, peringkat Ba3 menegaskan pengelolaan keuangan kredit dan kebijakan keuangan yang hati-hati, sebagaimana disorot leverage keuangan yang rendah dan likuiditas yang sangat baik dengan eksposur ke komoditas petrokimia dan rencana belanja modal yang besar.

Disebutkan, utang ini sesuai dengan EBITDA TPIA sebesar 1,6 kali dan posisi kas bersih, mendukung peringkat Ba3. Manajemen keuangan yang kuat memberikan perlindungan terhadap profitabilitas TPIA.Margin EBITDA TPIA melemah dari 22,7% pada 2017 menjadi 16% pada 2018, sebagian besar karena pendapatan dari etilen dan polietilen mengetat di kuartal IV karena harga nafta mulai turun, sementara TPIA berproduksi melalui persediaan bahan baku dengan harga yang tinggi.

TPIA saat ini memulai empat proyek ekspansi dan belanja awal pada investasi yang direncanakan di pabrik petrokimia kedua dengan kebutuhan investasi di atas US$450 juta pada 2019 dan hampir US$300 juta pada tahun 2020.TPIA diperkirakan dapat melanjutkan pengelolaan neraca keuangannya dengan hati-hati, meskipun ada rencana pengeluaran modal yang besar dan proyeksi Moody's bahwa margin akan tetap antara 15% dan 18% di 2019.

Prospek yang stabil mencerminkan proyeksi Moody bahwa kinerja operasional TPIA dan arus kas akan tetap solid.Moody's mencatat, peringkat TPIA dapat meningkat jika, pertama, ekspansi kapasitas yang direncanakan perusahaan dilakukan tepat waktu dan sesuai anggaran. Kedua, jika TPIA menjaga utang terhadap EBITDA di bawah 2 kali.

Moody's dapat menurunkan peringkat perusahaan jika, pertama, metrik kreditnya memburuk, sehingga solvabilitas melebihi 3 kali selama periode yang diperpanjang. Kedua, likuiditasnya memburuk, sehingga saldo kasnya di bawah $100 juta. Ketiga, memulai ekspansi besar yang didanai oleh utang proyek.

BERITA TERKAIT

Rencanakan Divestasi Saham - Vale Indonesia Matangkan Transaksi Dengan Inalum

NERACA Jakarta – Setelah pertemuannya dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di istana September lalu mendapatkan dukungan soal rencana divestasi, kini…

Ketapatan Laporan Keuangan - BEI Catatkan 12 Emiten Belum Rilis Keuangan

NERACA Jakarta – Meskipun kepatuhan dan kedispilinan emiten dalam penyampaian laporan keuangan terus meningkat, namun pihak PT Bursa Efek Indonesia…

Adaro Eksplorasi Tambang di Tutupan dan Paringin

NERACA Jakarta – PT Adaro Energy Tbk (ADRO) akan melanjutkan pengeboran di area Tutupan dan Paringin pada bulan ini. Dalam…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Gandeng Kerjasama HIPMI - ModalSaham Siap Bawa Perusahaan IPO

NERACA Jakarta – Dukung pertumbuhan industri pasar modal dengan mengajak pelaku usaha go public, ModalSaham sebagai perusahaan starup akan menggandeng…

Produksi Nikel Vale Indonesia Terkoreksi 6,81%

NERACA Jakarta –Besarnya potensi kenaikan permintaan nikel di pasar, PT Vale Indonesia Tbk (INCO) terus memacu produksi nikel, meskipun di…

Progres Pabrik di Sumses Capai 30% - Buyung Poetra Perbesar Kapasitas Produksi Beras

NERACA Jakarta – Meskipun tengah dihadapkan pada kondisi musim kemarau yang berkepanjangan, emiten produsen beras PT Buyung Poetra Sembada Tbk…