Inflasi Jelang Ramadhan

Oleh: Nailul Huda

Peneliti Indef

Awal bulan Mei 2019, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis tingkat inflasi yang terjadi di bulan April. Inflasi bulan April 2019 memang di luar perkiraan sebagian Ekonom dan Bank Indonesia. Mereka memprediksikan tingkat inflasi sebesar 0,31 hingga 0,32% (month to month). Namun dalam rilis BPS kemarin, tingkat inflasi ternyata berada di tingkat inflasi 0,44%. Angka tersebut jauh lebih tinggi daripada angka inflasi Maret 2019.

Tingginya angka inflasi April ini banyak disumbang oleh kelompok pengeluaran yang sama dengan bulan Maret 2019. Barang yang memberikan andil terhadap inflasi kali ini dan bulan lalu adalah bawang merah, bawang putih, dan transportasi udara. Untuk kasus bawang putih sebenarnya beberapa kalangan sudah mewanti-wanti pemerintah akan adanya potensi inflasi yang disebabkan komoditas bawang putih. Komoditas bawang putih pada bulan Maret memberikan andil sebesar 0,04%.

Pada bulan April, komoditas ini tetap memberikan andil inflasi sebesar 0,09%. Keterlambatan proses impor menyebabkan kelangkaan stok bawang putih di pasaran yang memicu kenaikan harga yang tidak wajar pada beberapa bulan terakhir. Kenaikan harga bawang putih pada beberapa daerah mencapai lebih dari 100% bahkan ada yang mencapai 200% dan menjadi penyumbang inflasi yang utama pada beberapa daerah. Koordinasi antar kementerian di bawah Kemenko Perekonomian yang kacau balau salah satu penyebab ditundanya impor bawang putih ini.

Pengeluaran transportasi udara juga menyebabkan inflasi pada beberapa bulan terakhir. Kenaikan harga tiket pesawat pada kurun waktu Januari 2019 hingga sekarang mendorong inflasi pada jenis pengeluaran ini. Pada Maret dan April 2019, angkutan udara menyumbang inflasi sebesar 0,03%. Peran pemerintah melalui ketentuan tarif harga tiket pesawat tidak dapat menekan harga. Malah sebaliknya, kebijakan pemerintah yang menaikkan batas bawah harga tiket pesawat cenderung kontradiktif dengan keinginan masyarakat akan harga tiket pesawat murah. Kebijakan tersebut malah akan memperkecil peluang masyarakat mendapatkan harga tiket yang terjangkau. Seharunya yang direvisi adalah batas atas harga tiket bukan batas bawahnya.

Kedua barang tersebut merupakan barang utama yang diinginkan masyarakat ketika memasuki bulan puasa dan lebaran. Bawang putih merupakan salah satu bumbu utama masakan Indonesia yang ditunjukkan oleh kenaikan jumlah permintaan atau konsumsi bawang putih pada beberapa tahun terakhir. Transportasi udara sudah menjadi alternatif utama masyarakat untuk mudik lebaran di kampung halaman. Terutama untuk masyarakat yang tinggal di daerah minim alternatif transportasi. Beberapa ekonom termasuk penulis sebenarnya sudah memperingatkan potensi inflasi dari kedua jenis pengeluaran tersebut. Seharunya pemerintah menyadari dan melakukan pencegahan sebelum dampaknya akan semakin luas.

BERITA TERKAIT

Ambiguitas Pembiayaan Mikro Pemerintah

Oleh : Agus Yuliawan Pemerhati Ekonomi Syariah Sudah tak asing lagi dalam kebijakan ekonomi khususnya dalam penyerapan tenaga kerja dan…

Desa Fiktif

  Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo Cerita fiktif ternyata bukan hanya ada di dunia…

Sekadar Mimpi untuk Rakyat

Oleh: Gigin Praginanto, Pengamat Kebijakan Publik Betapa meriahnya sorak sorai para hadirin di IPTN, Bandung, ketika pesawat N250 lepas landas untuk pertama…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Ganti Rezim Tol Laut

  Oleh: Siswanto Rusdi Direktur The National Maritime Institute (Namarin)   Sepertinya ini kebiasaan Presiden kita di ranah kemaritiman. Dia…

Ambiguitas Pembiayaan Mikro Pemerintah

Oleh : Agus Yuliawan Pemerhati Ekonomi Syariah Sudah tak asing lagi dalam kebijakan ekonomi khususnya dalam penyerapan tenaga kerja dan…

Desa Fiktif

  Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo Cerita fiktif ternyata bukan hanya ada di dunia…