Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Berpeluang Melesat - HSBC Indonesia Economic Update

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Berpeluang Melesat

HSBC Indonesia Economic Update

NERACA

Jakarta - Perekonomian global, termasuk Indonesia, masih menghadapi ketidakpastian. Perang dagang antara Amerika Serikat dan China masih menjadi ancaman. Begitu pula kemungkinan The Federal Reserve akan menaikkan suku bunga karena berpotensi memukul mata uang banyak negara di dunia juga akan menjadi ancaman lainnya.

Meskipun demikian, menurut Presiden Direktur PT Bank HSBC Indonesia, Sumit Dutta, perekonomian Indonesia cukup baik, stabil dan kondusif. Selama setahun terakhir, perekonomi Indonesia mampu tumbuh sekitar 5,17 persen berkat kebijakan fiskal yang sangat hati-hati. Tingkat inflasi rendah di bawah 4 persen dalam empat tahun terakhir. Hal ini disampaikan saat membuka acara “HSBC Indonesia Economic Update, Momentum Emas Ekonomi Indonesia” di Grand Ballroom, Hotel Kempinski, Jakarta, Selasa (30/4).

Indonesia juga masih berada di radar investasi dunia. Hal ini dibuktikan dengan peringkat utang yang meningkat ke level investment grade selama dua tahun terakhir.“Peringkat itu diberikan tiga lembaga pemeringkat global, yakni Standard & Poor’s (S&P), Fitch, dan Moody’s. Ini merupakan yang pertama kalinya sejak Indonesia mengalami krisis keuangan pada 1997-1998,” kata Dutta.

Menurut Dutta, HSBC melihat Indonesia sebagai pasar yang strategis dan penting. Ke depan, Indonesia akan menjadi salah satu kekuatan dunia.

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan pemerintah berusaha meningkatkan lagi pertumbuhan ekonomi Indonesia pasca pemilihan umum 17 April, yakni sekitar 5,3 - 5,6 persen pada tahun ini dan 2020. Namun,untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggiIndonesia juga membutuhkan investasi yang tinggi. Kebutuhan investasi pada 2019 sekitar Rp 5.276 triliun dan 2020 sekitar Rp 5.803 - 5.823 triliun.

“Ini antara lain akan dipenuhi dari sektor perbankan yang diharapkan tumbuh 13,5 sampai 15 persen dan pasar modal diperkirakan tumbuh sebesar 10 persen,” kata Darmin dalam pidato pembukaannya.

Sementara itu, penanaman modal asing langsung (foreign direct investment/FDI) diharapkan meningkat menjadi Rp 427-429 triliun. Hal ini, kata Darmin, antara lain didukung oleh kebijakan insentif fiskal dan relaksasi Daftar Negatif Investasi, dengan tetap menjaga ketahanan usaha dalam negeri.

Darmin menambahkan, pemerintah juga terus menyiapkan sejumlah kebijakan untuk melanjutkan pembangunan infrastruktur dan menciptakan iklim investasi yang kondunsif bagi dunia usaha. “Pemerintah menyadai perlu dilakukan reform dalam perizinan usaha, belum sempurna benar tapi perubahan besar sudah terjadi, dengan kita ciptakanOnline Single Submission,” kata Darmin.

Selain itu, pemerintah juga akan mulai fokus terhadap pembangunan infrastruktur untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui program-program vokasi.

Menteri Keuangan 2013-2014, Chatib Basri, menyampaikan saat ini tidak mudah untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 5 persen karena kondisi perekonomian global. Tapi untuk meningkatan pendapatan per kapita, pertumbuhan harus di atas 5 persen. Caranya, lewat saving, foreign direct investment, dan economic reform.”Tidak cukup hanya lewat kebijakan fiskal dan moneter saja,” ujar Chatib.

Chatib menekankan, Indonesia mau tidak mau harus meningkatkan pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen jika ingin meraih momentum emas pada 2045. Sebab jika tidak, pada tahun tersebut pendapatan per kapita Indonesia masih tetap akan rendah dan pada 2050 Indonesia sudah kehilangan bonus demografi dari penduduk yang berusia produktif.

“Jika pertumbuhan ekonomi ini tidak kita kejar dari sekarang, bisa-bisa kita akan menjadi tua sebelum menjadi kaya. Sebab, pada 2050 kita sudah tidak memiliki bonus demografi lagi,” kata Chatib.

Wakil Menteri Keuangan Mardiasmo mengatakan, agar bisa mencapai era keemasan pada 2045, setidaknya Indonesia perlu melakukan dua langkah, yaitu inklusi keuangan dan peningkatan human capital.“Kedua langkah tersebut harus ditopang sejumlah pilar seperti pilar ketahanan moneter dan fiskal serta meningkatnya pertumbuhan sektor riil,” ujarnya.

Acara “HSBC Indonesia Economic Update, Momentum Emas Ekonomi Indonesia” menampilkan pembicara dari sektor pemerintah, dan sektor swasta, antara lain Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Rosan P. Roeslani, CEO dan Co-Founder Tokopedia William Tanuwidjaja, Kepala Ekonom HSBC ASEAN Joseph Incalcaterra, dan Menteri Koordinator bidang Kemaritimin Luhut Binsar Pandjaitan. Luhut memberikan pidato penutupan dalam acara yang diselenggarakan HSBC bersama Katadata.co.id ini. Mohar/Iwan

BERITA TERKAIT

Indef: PIMD Dapat Perkecil Defisit Neraca Perdagangan

Jakarta-Peneliti Indef Abra Talattov menilai, pembentukan Pertamina International Marketing & Distribution, Pte Ltd (PIMD) dapat membantu memperkecil defisit neraca perdagangan…

RUPSLB Wom Finance Setuju Perubahan Susunan Direksi

RUPSLB Wom Finance Setuju Perubahan Susunan Direksi NERACA Jakarta - PT Wahana Ottomitra Multiartha, Tbk (“Wom Finance” atau “Perseroan”), hari…

Idealis Paham Koperasi Benteng Krisis Ekonomi Indonesia - Kadiskum Depok

Idealis Paham Koperasi Benteng Krisis Ekonomi Indonesia Kadiskum Depok NERACA  Depok - ‎Gejolak arus pasar bebas dan era globalisasi serta…

BERITA LAINNYA DI EKONOMI DAERAH

Lewat Buku, Menperin Airlangga Gelorakan Asa Bangun Industri Nasional

Lewat Buku, Menperin Airlangga Gelorakan Asa Bangun Industri Nasional NERACA Jakarta - Sektor industri selama ini konsisten menjadi penggerak utama…

Pemkot Tangsel Luncurkan "SIPINTAS" Berisi Kepwal Hingga Info Publik

Pemkot Tangsel Luncurkan "SIPINTAS" Berisi Kepwal Hingga Info Publik   NERACA Tangerang - Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Tangerang Selatan…

Bukan Modal Saja, Pemasaran Jadi Kendala IKM di Kota Sukabumi

Bukan Modal Saja, Pemasaran Jadi Kendala IKM di Kota Sukabumi NERACA Sukabumi - Permasalahan para pelaku Industri Kecil Menengah (IKM)…